PNM Tawarkan Sukuk Mudharabah Rp1,5 Triliun

NERACA

Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Permodalan Nasional Madani (PNMP) mulai menawarkan sukuk mudharabah berkelanjutan I tahap III tahun 2024 senilai Rp1,5 triliun. Sukuk mudharabah berkelanjutan I PNMP tahap III /2024 adalah bagian dari sukuk mudharabah berkelanjutan PNMP senilai total Rp6 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan menyebutkan, sukuk  mudharabah tersebut atas seri A dengan jumlah pokok sebesar Rp163,060 miliar berjangka waktu 370 hari dan seri B Rp693,080 miliar memiliki tenor tiga tahun. Adapun sisa dari dana sukuk mudharabah yang ditawarkan sebanyak-banyaknya sebesar Rp643,860 miliar  akan dijamin secara kesanggupan terbaik (best effort). Bila jumlah dalam kesanggupan terbaik (best effort) tidak terjual sebagian atau seluruhnya, maka atas sisa yang tidak terjual tersebut tidak menjadi kewajiban Perseroan untuk menerbitkan sukuk mudharabah tersebut.

Pembayaran bagi hasil sukuk mudharabah akan dilakukan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran pendapatan bagi hasil sukuk mudharabah pertama akan dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2024, sedangkan pembayaran pendapatan bagi hasil sukuk mudharabah terakhir sekaligus tanggal pembayaran kembali dana sukuk mudharabah masing-masing adalah pada 22 Juli 2025 untuk sukuk mudharabah seri A dan 12 Juli 2027 untuk sukuk mudharabah seri B.

Penawaran umum sukuk mudharabah PNMP I Tahap III/2024 pada 8-9 Juli 2024, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 15 Juli 2024. Bertindak sebagai penjamin emisi sukuk mudharabah adalah PT Bahana Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, serta  PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebagai wali amanat.

Dana hasil penawaran sukuk mudharabah setelah dikurangi biaya-biaya emisi, seluruhnya digunakan untuk membiayai kegiatan usaha yang disepakati, yaitu kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Sebagai informasi, tahun ini PNMP menargetkan kredit ultra mikro (UMi) mencapai Rp72 triliun. Angka tersebut hanya naik sedikit dibandingkan penyaluran sepanjang 2023 yang mencapai Rp70 triliun. 

Direktur Operasional Digital dan Teknologi Informasi PNM, Sunar Basuki pernah mengatakan bahwa pihaknya tidak banyak berekspektasi lantaran munculnya ketidakpastian situasi yang terjadi saat ini.“Kami harus merespons, dibandingkan penyaluran kami yang realisasinya Rp70 triliun [pada 2023], jadi ada tumbuh tapi belum signifikan,”ujarnya.

Kendati demikian, Arief mengatakan pihaknya tetap optimistis terkait penyaluran kredit ke depan. Menurunya apabila ekonomi tetap terjaga, serta situasi nasional, regional, dan global baik. Maka pastinya kebutuhan juga akan meningkat.

 

BERITA TERKAIT

Masih Ditopang BSD City - BSDE Bukukan Marketing Sales Rp4,84 Triliun

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2024, emiten properti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan prapenjualan (marketing sales) sebesar…

Catatkan Volume 600 Ribu Ton - OJK Bantah Transaksi Bursa Karbon Dibilang Sepi

NERACA  Jakarta – Optimisme transaksi bursa karbon akan tumbuh, rupanya masih jauh dari target lantaran sepinya transaksi. Namun demikian, Otoritas…

Kebijakan Short Selling Bakal Dirilis Oktober

NERACA Jakarta – Bila tidak ada aral melintang, kebijakan short selling dalam rangka meningkatkan likuiditas transaksi saham di pasar akan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Masih Ditopang BSD City - BSDE Bukukan Marketing Sales Rp4,84 Triliun

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2024, emiten properti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan prapenjualan (marketing sales) sebesar…

Catatkan Volume 600 Ribu Ton - OJK Bantah Transaksi Bursa Karbon Dibilang Sepi

NERACA  Jakarta – Optimisme transaksi bursa karbon akan tumbuh, rupanya masih jauh dari target lantaran sepinya transaksi. Namun demikian, Otoritas…

Kebijakan Short Selling Bakal Dirilis Oktober

NERACA Jakarta – Bila tidak ada aral melintang, kebijakan short selling dalam rangka meningkatkan likuiditas transaksi saham di pasar akan…