Pangan dan Pasokan

 

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

 

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober dan peringatan kali ini tidak dapat terlepas dari fakta problem pandemi yang berdampak terhadap kuantitas dan kualitas pangan secara global. Jika dicermati bahwa isu mendasar dari peringatan Hari Pangan Sedunia kali ini tidak bisa terlepas dari fakta pandemi covid-19. Artinya, pemenuhan kebutuhan pangan sangat penting. Esensi ini tidak terlepas dari problem ketahanan pangan dan ancaman gizi buruk.

Gizi buruk tidak terlepas dari ketersediaan pangan. Padahal, ketersediaan pangan berpengaruh bagi ketahanan pangan. Jadi, fakta impor pangan adalah bagian ancaman gizi buruk. Jika dicermati asupan gizi bagi sebagian masyarakat kini memang menjadi kebutuhan yang sulit dicapai. Ironisnya, pasokan pangan dalam negeri saat ini juga semakin dipenuhi impor. Hal ini kemudian memicu sentimen negatif bagi rumah tangga pertanian.

Salah satu ancaman utama dari kependudukan dunia adalah ketahanan pangan. Oleh karena itu, harapan kasus ini tidak lain yaitu agar sektor pertanian, terutama pertanian pangan tidak dilecehkan dan diharapkan bisa sejajar dengan industrialisasi. Bahkan, industrialisasi yang ada juga harus mengacu pada format industrialisasi yang relevan dengan pertanian pangan. Keyakinan ini pada dasarnya terkait dengan fenomena kian banyaknya kasus kelaparan-kemiskinan dan proses ketahanan pangan yang semakin memudar. Bahkan di banyak daerah, terutama di negara miskin berkembang, banyak terjadi kasus rawan pangan. Oleh karena itu, pada tahun 2002 lalu FAO berkomitmen memerangi kelaparan dan kemiskinan.

Adanya berbagai ancaman serius terhadap ancaman rawan pangan dan terkait dengan komitmen ketahanan pangan global, maka sangat beralasan jika kini di banyak negara mulai dikembangkan pertanian organik (PO). Saat ini PO berkembang cukup pesat di Indonesia. Ini merupakan salah satu pertanda positif PO mulai mendapat tempat di masyarakat, baik produsen atau konsumen. Perkembangan positif ini perlu dicermati agar tidak memicu bias yang justru merugikan kehidupan di masa depan. Di sisi lain, kendala pengembangan PO di Indonesia ternyata masih besar, lebih besar dibanding perkembangannya. Ada banyak faktor yang menyebabkan sehingga tidak heran jika kini PO masih menjadi wacana marjinal dan diragukan peluangnya sebagai pertanian masa depan yang menjanjikan. Sementara pasar dan prospeknya sangat terbuka luas.

Perkembangan PO di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan PO dunia, bahkan bisa dikatakan pemicu utama PO domestik yaitu karena tingginya permintaan PO di negara-negara maju. Permintaan PO di negara maju dipicu oleh menguatnya kesadaran lingkungan dan gaya hidup alami, dukungan atas kebijakan pemerintah, dukungan industri pengolahan pangan, akses pasar konvensional yaitu supermarket menyerap 50% produk PO, adanya harga premium di tingkat konsumen, adanya label generik, adanya kampanye nasional PO secara gencar.

Meski sudah ada perkembangan menarik atas PO tapi upaya itu masih belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat terutama atas kebutuhan pangan, apalagi dikaitkan dengan ketahanan pangan global. Pertumbuhan permintaan atas PO dunia mencapai 15-20% per tahun, tetapi pangsa pasar yang mampu dipenuhi berkisar 0,5-2% dari total produk pertanian.

Meski di Eropa penambahan luas areal PO terus meningkat dari rata-rata dibawah 1% (dari total lahan pertanian) tahun 2019, menjadi 2-7% di tahun 2020 (tertinggi di Austria mencapai 10,12%), tapi tetap saja belum mampu memenuhi pesatnya permintaan. Fenomena ini menjadi kontras jika dikaitkan dengan ketahanan pangan karena di satu sisi ada kesadaran terhadap produk organik, sementara di sisi lain muncul kerawanan pangan karena ketidakseimbangan demand – supply. Bahkan, situasi ini di Indonesia ditutup dengan impor pangan, apalagi di masa pandemi covid.

Dari fakta itu menunjukan masalah rawan pangan merupakan masalah kronis yang kini dihadapi. Faktor penyebab rawan pangan antara lain lebih cepatnya pertumbuhan penduduk daripada tingkat pertumbuhan produksi pangan, bencana alam, perubahan iklim dan realita kemunduran sumberdaya alam dan lingkungan. Berkenaan dengan ini FAO pada Konferensi FAO ke-20 Nopember 1970 di Roma mencetuskan resolusi No.179 yang kemudian disepakati semua negara anggota FAO termasuk Indonesia, yang menetapkan untuk memperingati World Food Day (Hari Pangan Sedunia) mulai tahun 1981 setiap 16 Oktober, sesuai hari didirikannya FAO. Idealisme ini tidak bisa lepas dari komitmen mengembangkan pertanian pangan dan memenuhi pangan secara mudah dan murah bagi rakyat.

 

BERITA TERKAIT

Peta Kebijakan Sustainable Finance di Indonesia

  Oleh: Dhani Setyawan, Peneliti BKF Kemenkeu *) Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Kawasan Asia Tenggara dan juga…

Aksi Mogok Buruh Ganggu Pemulihan Ekonomi

Oleh : Muhammad Ridho, Pengamat Ketenagakerjaan Aksi mogok buruh yang akan dilaksanakan pada 6-10 Desember 2021 akan mengganggu pemulihan ekonomi…

Pemerintah Perluas Cakupan Vaksinasi Hadapi Nataru dan Omicron

Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Libur Nataru (natal dan tahun baru) sudah di…

BERITA LAINNYA DI Opini

Peta Kebijakan Sustainable Finance di Indonesia

  Oleh: Dhani Setyawan, Peneliti BKF Kemenkeu *) Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Kawasan Asia Tenggara dan juga…

Aksi Mogok Buruh Ganggu Pemulihan Ekonomi

Oleh : Muhammad Ridho, Pengamat Ketenagakerjaan Aksi mogok buruh yang akan dilaksanakan pada 6-10 Desember 2021 akan mengganggu pemulihan ekonomi…

Pemerintah Perluas Cakupan Vaksinasi Hadapi Nataru dan Omicron

Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Libur Nataru (natal dan tahun baru) sudah di…