Di Balik Kisah Sukses Hotel Kapsul

NERACA

Jakarta - Saat ini masyarakat cukup mengenal "Bobobox", sebuah jaringan hotel kapsul yang tengah "hype" dan menjadi tren saat ini, terutama di kalangan anak muda yang ramah dengan gawai (gadget).

Kesuksesan nan terkenalnya Bobobox, ada sosok-sosok muda yang penuh inovasi dan pantang menyerah dalam berbagai situasi, namun di balik suksesnya sekarang ini, siapa sangka banyak cerita yang menarik dan menginspirasi.

Beberapa waktu lalu, dikutip ANTARA, dimana berkesempatan untuk sedikit berbincang dengan Indra Gunawan, salah satu pendiri jaringan hotel kapsul yang kini sudah terdapat 15 cabang dengan berbagai jenis, dan tersebar di tujuh kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Pria kelahiran Bandung pada 36 tahun lalu ini menceritakan awal mula dirinya beserta rekan-rekannya menciptakan Bobobox dan membesarkan hingga sekarang, adalah buah dari pengalaman dan kegagalan usaha sebelumnya.

Awal mula, Indra menceritakan setelah dirinya berhasil membuat usaha rintisan di bidang "game" diakuisisi oleh Emtek (holding pemegang lisensi BBM dengan Blackberry Limited) pada 2012, dia bersama rekannya Antonius Bong, juga membuka usaha rintisan baru berbasis daring bernama "cantik.com". 
 
Cantik.com yang merupakan "marketplace" untuk fasyen wanita, didirikan Indra bersama rekannya usai melakukan penilaian bahwa sektor ini memiliki pangsa pasar yang besar, mengingat bidang "fashion" yang sedang naik daun serta konsumen "online" terbesar adalah wanita.

"Tapi ini adalah kegagalan total. Karena ide awalnya cantik.com adalah marketplace untuk menjual pakaian wanita, tapi boleh dikatakan dua cowok membuat hal ini adalah bukan ide bagus, kita tidak mengerti apa-apa. Omzetnya memang besar, tapi unit keekonomiannya tidak masuk, inventory-nya enggak muter," ucap Indra.

Akhirnya, di tahun yang sama, kedekeitu mengambil pekerjaan sebagai konsultan pada sebuah perusahaan internasional dari China, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga mereka berusaha untuk realistis dalam hal pendapatan yang stabil.

Namun, meskipun memiliki pekerjaan yang mumpuni dengan upah tergolong besar, Indra menyebut perasaan rindu untuk membuat produk dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi tetap tersimpan dalam dadanya, sehingga dia mengungkapkan keinginannya tersebut pada sahabatnya untuk menciptakan unit usaha rintisan sekali lagi dengan persiapan yang lebih matang.

Alasan keinginan untuk membuat "startup" kembali, adalah karena jenis usaha ini memiliki perkembangan skalabilitas atau sistem yang luas bisa tumbuh dengan cepat, akan tetapi faktor ketidakpastiannya juga tinggi mengingat usaha startup menawarkan unsur kebaruan di dalamnya, sehingga meningkatkan risiko kegagalan berinvestasi.

Lahirnya Bobobox

Mengingat risiko pada jenis usaha startup yang tinggi namun memiliki aspek skalabilitas yang luas, kedua pemuda tersebut berusaha memikirkan mencari sebuah produk yang tak lekang oleh masa, skalabilitas yang luas, namun menjamin keberlangsungan sehingga tidak membuang investasi sia-sia.

Di poin tersebut, mereka sadar harus menemukan produk yang memiliki skalabilitas tinggi, maka harus membuat solusi yang bisa jadi bagian dari gaya hidup, yang merupakan kebutuhan primer namun belum terfasilitasi maksimal.

Kebetulan, Indra merupakan keluarga dari pemilik dan pengelola Hotel Nyland di daerah Cipaganti Bandung yang kini dikelola oleh saudara perempuan, dan di tengah pekerjaannya sebagai konsultan dia masih sempat membantu usaha keluarga tersebut.

Berangkat dari keinginannya membuka usaha dan diskusi bertukar pikiran dengan adiknya yang mengungkapkan beratnya menjalankan usaha hotel karena biaya besar namun pemasukan yang cenderung tetap, meski pasar sektor ini tergolong besar dengan pertumbuhan wisatawan yang tengah meningkat tinggi hingga tiga kali lipat per tahun pada tiga tahun terakhir (2014, 2015, dan 2016), akhirnya Indra memutuskan satu kata kunci, yakni "tidur".

"Kita melihat tidur menjadi sebuah kebutuhan hidup dan masih banyak solusi yang dapat diberikan terkait tidur untuk di eksplorasi," ucapnya.

Dengan motivasi mencari lebih jauh lagi dan bekal dua isu ini yakni tidur serta hotel yang harus stabil, dan kebetulan sedang tumbuh pesatnya hotel kapsul di dunia saat itu, dia menyempatkan diri untuk menyambangi fasilitas hotel kapsul di berbagai negara dari Asia Tenggara sampai Amerika. 
 
Dari perjalanan antara 2016 hingga awal 2017 itu, dia menemukan meski perkembangannya sangat baik, hotel kapsul rata-rata hanya bisa membuka dua sampai tiga cabang dikarenakan kepemilikan aset di lokasi strategis.

"Dari situ keluarlah ide bahwa unit kapsul saya harus yang modular (tidak permanen) dengan efisiensi ruang dalam unitnya, dan tidak harus memiliki set lokasi. Karena saya melihat startup harus scalable dan asset light," ungkap Indra. Mohar

 

BERITA TERKAIT

Hotel Sahid Targetkan Pendapatan Tumbuh 51 Persen - Akhir Tahun Ini

NERACA Jakarta - Emiten perhotelan PT Hotel Sahid Jaya International Tbk menargetkan pendapatan perseroan pada akhir tahun ini tumbuh 51…

Jalur Rempah Pengaruhi Bangunan Arsitektur di Indonesia

NERACA Jakarta - Sejumlah arsitek mengatakan perdagangan melalui jalur rempah di masa lalu telah mempengaruhi desain dan gaya arsitektur bangunan…

Aplikasi SiKumbang Optimalkan Big Data Hunian Perumahan

NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR melalui Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan…

BERITA LAINNYA DI Hunian

Hotel Sahid Targetkan Pendapatan Tumbuh 51 Persen - Akhir Tahun Ini

NERACA Jakarta - Emiten perhotelan PT Hotel Sahid Jaya International Tbk menargetkan pendapatan perseroan pada akhir tahun ini tumbuh 51…

Jalur Rempah Pengaruhi Bangunan Arsitektur di Indonesia

NERACA Jakarta - Sejumlah arsitek mengatakan perdagangan melalui jalur rempah di masa lalu telah mempengaruhi desain dan gaya arsitektur bangunan…

Aplikasi SiKumbang Optimalkan Big Data Hunian Perumahan

NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR melalui Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan…