Dinilai Mampu Kalahkan Pasar - Saham Kerupuk Udang Jadi Saham Makanan Terkuat

NERACA

Jakarta - Saham dari emiten barang konsumsi atau consumer goods kerap kali dinyatakan sebagai saham defensif atau tahan banting. Kata defensif menjadi julukan tersendiri bagi mereka lantaran bisnis dari emiten ini bergerak di bidang kebutuhan primer dan sekunder masyarakat. Kinerja indeks sektor barang konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang sempat mengungguli indeks harga saham gabungan (IHSG) di tengah pandemi Corona. Namun memasuki September 2020, kinerja indeks barang konsumsi justru kalah saing dengan IHSG.

Berdasarkan riset Lifepal.co.id yang diterima neraca di Jakarta, kemarin menunjukkan  bahwa masih ada tujuh emiten makanan dan minuman yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar di awal September 2020. Dalam riset ini, Lifepal memilih emiten-emiten makanan dan minuman yang sudah melantai di BEI selama 10 tahun atau lebih. Riset ini juga mengukur bagaimana performa dari emiten-emiten tersebut selama tujuh tahun.

Menurut riset Lifepal, miten makanan dan minuman yang sanggup mengalahkan pasar adalah saham dari PT Sekar Laut Tbk (SKLT) menjadi saham dengan performa terkuat sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020. Untuk diketahui, SKLT adalah produsen krupuk udang dengan merek FINNA. Emiten ini juga memproduksi sambal, bumbu masakan hingga saos. Bisa dikatakan bahwa, capital gain dari SKLT mencapai 594,44% dalam jangka waktu 1 September 2013 hingga 21 September 2020.

Pada kuartal pertama 2020, SKLT sanggup membukukan kenaikan laba bersih 33,01% (yoy). Sementara itu, pendapatan neto mereka pun naik 6,98% di kuartal II. Namun, seperti yang tercantum di laporan keuangan semester pertama 2020 SKLT, laba bersih SKLT justru turun 19,5% dari semester pertama di periode sebelumnya. Namun pendapatan neto mereka di semester II 2020 naik 4,71%.

Kemudian disusul saham dari produsen kudapan Twistko, Go Potato, Kopi Maestro dan Mie Gemez yaitu PT Siantar Top Tbk (STTP), menjadi saham makanan dan minuman terbaik kedua yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar.  Bisa dikatakan bahwa, terhitung sejak 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain dari STTP mencapai 347,02%.

Bicara soal fundamental, laba bersih STTP naik 12% dari semester I 2019 ke semester I 2020 yaitu dari Rp 248,8 miliar menjadi Rp 278 miliar. Penjualan PT Siantar Top Tbk sendiri di periode yang sama mengalami kenaikan sebesar 8,6% dari Rp 1,65 triliun di semester I 2019 jadi Rp 1,8 triliun di semester I 2020. Apa yang dialami Siantar Top berbeda dengan saham produsen Taro Snack miliki kinerja terburuk. Bisa dikatakan bahwa, selama dua tahun lamanya PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) telah dikenakan suspensi dari BEI karena insiden gagal bayar bunga obligasi dan sukuk ijarah, yang diterbitkan 2003.

Sayangnya laporan kuartal II dari emiten ini belum dirilis. Seperti yang tercantum di laporan kuartal I AISA, perusahaan ini masuk ke dalam daftar perusahaan dengan ekuitas negatif. Ekuitas AISA yang tercatat dalam laporan keuangan kuartal I adalah - Rp 1,32 triliun. Riset mencatat bahwa kinerja AISA terhitung dari 1 Mei hingga 21 September 2020 adalah -82,56%. Di atas AISA ada pula ADES (PT Akasha Wira International Tbk) yang performanya -51,28%.

Lalu apakah menarik mengoleksi saham SKLT?, kinerja IHSG dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020 tercatat hanya 15,82% sementara itu Indeks Konsumer adalah 0,45%. Emiten makanan dan minuman raksasa yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga berada di jajaran emiten yang kinerjanya sanggup mengalahkan pasar, begitupun dengan perusahaan induknya yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Melongok performa ICBP dari 1 September 2013 hingga 21 September 2020, capital gain yang didapat oleh produsen Indomie itu tercatat 98,05%. Performa ini dinilai masih kalah dengan satu emiten raksasa makanan dan minuman PT Mayora Indah Tbk (MYOR), namun lebih unggul dari PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ). Lalu, bagaimana dengan SKLT? Menurut informasi di RTI, hanya 5,94% dari total saham SKLT yang dilepas ke publik. Terhitung dari September 2013 ke September 2020, rata-rata volume transaksi harian SKLT hanyalah 9.327 lembar saham, sedangkan saham ICBP bisa saja ditransaksikan 7 hingga 8 juta lembar saham per hari. 

Tentu, bisa dikatakan bahwa SKLT merupakan saham yang jarang ditransaksikan dan tidak se-likuid ICBP, MYOR, ULTJ atau saham emiten makanan dan minuman lainnya yang memiliki kapitalisasi besar. 

 

 

BERITA TERKAIT

Laporan Terbaru PBB - Perempuan Terdampak Tertinggal Selama Covid-19

Dampak pandemi Covid-19 tidak hanya melumpuhkan perekonomian di semua sektor, tetapi juga dampak sosial ekonomi pada perempuan. Berdasarkan hasil laporan…

Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Laporan Terbaru PBB - Perempuan Terdampak Tertinggal Selama Covid-19

Dampak pandemi Covid-19 tidak hanya melumpuhkan perekonomian di semua sektor, tetapi juga dampak sosial ekonomi pada perempuan. Berdasarkan hasil laporan…

Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…