Stop Ekspansi Covid-19 dengan Tidak Mudik

 

Oleh : Riki Alfiansyah, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan  

Imbauan untuk beribadah, belajar, dan bekerja di rumah telah dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk mudik ke kampung halaman. Akibatnya, terjadi lonjakan pasien Covid-19 di beberapa daerah dan berkaitan dengan perantau yang datang. Sudah semestinya masyarakat bijak untuk menghentikan penyebaran Covid-19 dengan tidak pulang ke daerahnya masing-masing, terutama menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Polemik mudik lebaran kini tengah diperbincangkan. Larangan untuk tak bepergian selama wabah melanda seolah tak digubris banyak pihak. Padahal kerumunan warga ini berpotensi menularkan wabah lebih besar secara signifikan. Menurut sejumlah pihak ternyata warga pendatang dinilai "mencuri" start mudik. Hal ini terbukti pada terjualnya tiket sejumlah kereta, bus dan juga tiket transportasi lainnya.

Pandemi global yang kini menyerang tentunya berpengaruh pada kondisi perekonomian warga. Sebab, sudah banyak instansi, pabrik hingga pasar yang terkena dampak lockdown mandiri. Sehingga banyak yang meliburkan para karyawannya. Dengan demikian, banyak yang memilih untuk kembali pulang padahal sudah dilarang. Terlebih momentum puasa ramadhan dan lebaran juga telah dekat. Tapi, apa mesti menggadaikan nyawa seperti ini? Mengingat wabah Corona ini berada di level darurat.

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tak mudik ketika libur lebaran Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah, yang akan jatuh pada tanggal 24 hingga 25 Mei 2020. Pasalnya, pemerintah telah menetapkan tanggap darurat COVID-19 hingga 29 Mei mendatang.

Ma'ruf menyatakan bahwa bersilaturahmi ketika lebaran memang sangat baik. Namun, jangan sampai berbuat sesuatu yang merugikan pihak lain. Karena, Corona akan lebih cepat menyebar melalui kumpulan atau kerumunan orang. Dirinya juga memahami perasaan  masyarakat yang khawatir tidak bisa pulang ke kampung halaman ketika libur lebaran nanti. Meski terpaksa mudik, pastilah wajib menjaga diri dari beragam kemungkinan penularan virus corona di kampung halaman nanti. Apakah hal ini malah tidak menakutkan?

Ma'ruf juga menganjurkan agar silaturahmi sementara waktu dilakukan melalui sambungan telepon, media sosial dan juga video call. Termasuk pelaksanaan shalat Idul Fitri khusus bagi ODP diminta untuk tak melaksanakan shalat berjamaah. Agar tidak terjadi potensi penularan. Sehingga semua bisa dalam keadaan aman terkendali.

Sejalan dengan pendapat Ma'ruf Amin, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, yakni Achmad Yurianto meminta masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan jauh, misalnya mudik, di tengah wabah Corona yang saat ini terjadi.  Dirinya mengingatkan akan risiko terjangkit virus Corona lebih besar saat masyarakat bersikeras untuk bepergian. maka dari itu, dirinya turut meminta kepada masyarakat untuk lebih bijaksana ketika merencanakan untuk mudik. Bahkan dirinya mengharapkan agar rencana mudik ditunda dulu hingga kondisi kembali kondusif.

Hal ini diungkapannya, karena telah menjadi perhatian pemerintah sebab negara juga tidak menginginkan adanya penambahan serta penularan kasus Virus Corona yang kian meningkat.

Bukan tanpa alasan, jika imbauan pemerintah ini terkesan sangat ketat. Pasalnya virus yang aktif menular pada kerumunan orang ini memiliki dampak yang berbahaya, termasuk kematian. Banyaknya kasus kematian yang dilaporkan menjadi polemik tersendiri bagi negara. Disamping ingin melindungi warganya, pemerintah juga ingin agar wabah ini segera teratasi melalui lockdown mandiri, dengan mencegah seluruh masyarakat Indonesia untuk tidka bepergian terlebih dahulu.

Tak menampik potensi yang ditimbulkan oleh virus ini memang sedemikian besar. Bahkan, negara-negara lain telah melaporkan kematian hingga ratusan orang. Yang terparah datang dari kota Wuhan, wilayah dimana asal virus itu berkembang. Kendati demikian masih saja ada yang "ngeyel" dan seolah menantang. Virus ini bukan bahan lelucon, kini Indonesia sedang Darurat Corona! Ayolah, sadar diri, berbenah, bersama-sama berjuang untuk negeri.

Kita memang tak tahu kapan wabah ini akan berakhir. Bisa jadi besok, lusa, Minggu depan, bukan depan atau Bahkan tahun depan. Namun yang pasti dan wajib kita lakukan saat ini ialah menghindari dan menekan sebisa mungkin potensi penularan. Yakni, dengan menerapkan anjuran dan aturan dari pemerintah terkait hal ini. Yang salah satunya ialah menunda atau menghindari bepergian dengan jarak jauh.  Marilah tahan sebentar ego kita agar semua warga Indonesia mampu menanggulangi wabah ini dengan baik. Selain itu, agar tak ada lagi korban jiwa yang jatuh sia-sia. Darurat Corona , mari stay at home!

BERITA TERKAIT

Mendukung Proyek Strategis Nasional

  Oleh : Aldia Putra, Anggota Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini Pemerintah terus berkomitmen untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional di…

Produktif Saat Pandemi Corona

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial dan Ekonomi   Pandemi covid-19 memang belum dinyatakan berakhir, beberapa wilayah di Indonesia…

Antisipasi Ancaman Teror Saat Pandemi Covid-19

  Oleh : Nur Sabariah, Mahasiswa IISIP Jakarta Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya mengancam sektor kesehatan dan perekonomian. Ancaman teroris…

BERITA LAINNYA DI Opini

Mendukung Proyek Strategis Nasional

  Oleh : Aldia Putra, Anggota Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini Pemerintah terus berkomitmen untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional di…

Produktif Saat Pandemi Corona

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial dan Ekonomi   Pandemi covid-19 memang belum dinyatakan berakhir, beberapa wilayah di Indonesia…

Antisipasi Ancaman Teror Saat Pandemi Covid-19

  Oleh : Nur Sabariah, Mahasiswa IISIP Jakarta Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya mengancam sektor kesehatan dan perekonomian. Ancaman teroris…