Goodyear Kantungi Pinjaman US$ 10 Juta

NERACA

Jakarta – Dalam rangka melunasi utang, PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) telah menerima pinjaman dari Citibank N. A. Perseroan telah menandatangani perjanjian induk fasilitas kredit dengan Citibank N.A sebesar US$10 juta. Jumlah tersebut setara Rp149,51 miliar bila menggunakan asumsi kurs Jisdor hari ini di Rp14.951 per dolar AS.

Sekretaris Perusahaan GDYR, Vikash Mahendra Pillay dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, jangka waktu perjanjian pinjaman ini hingga 22 September 2020. “Pinjaman ini diberikan guna membiayai kembali utang Perseroan yang sedang berjalan dengan bunga yang lebih rendah. 

Sebelumnya, GDYR juga telah mendapat tambahan pinjaman dari PT Bank BNP Paribas Indonesia senilai Rp140 miliar. Alhasil, total fasilitas pinjaman perseroan meningkat menjadi Rp280 miliar. Dalam keterbukaan informasi, GDYR telah menandatangani amandemen terhadap Perjanjian Pemberian Fasilitas Perbankan Korporasi dengan PT Bank BNP Paribas Indonesia pada 14 September 2020.

Fasilitas pinjaman yang diberikan PT Bank BNP Paribas Indonesia diamandemen menjadi sebesar Rp280 miliar kepada perseroan dengan tujuan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan. Selain menaikkan jumlah fasilitas pinjaman, jangka waktu perjanjian juga diperpanjang sampai dengan 31 Agustus 2021.

Adapun, perjanjian pinjaman yang diamandemen adalah perjanjian pemberian fasilitas perbankan korporasi yang ditandatangani GDYR dan PT Bank BNP Paribas Indonesia pada 21 Februari 2020. Di semester pertama 2020, emiten produsen ban ini membukukan pendapatan bersih US$ 46,59 juta atau anjlok 28,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 65,13 juta. Sementara beban pokok penjualan turut turun 23,8% secara tahunan menjadi US$ 45,28 juta di paruh pertama tahun ini.

Sehingga laba kotor yang diraih GDYR sampai akhir Juni 2020 ini hanya US$ 1,31 juta atau merosot 76,7% secara tahunan. Sedangkan untuk bottom line di semester pertama tahun ini perusahaan membukukan rugi bersih US$ 4,75 juta atau membengkak hingga dua kali lipat dibandingkan rugi bersih kuartal II-2019 yang senilai US$ 2,36 juta. Mempertimbangkan terkoreksinya kinerja di paruh pertama tahun ini mendorong perseroan mematok target bisnis konservatif.

Bahkan perseroan mengakui cukup sulit untuk membidik target di tengah pelemahan pasar ban akhir-akhir ini. Wicaksono Soebroto, Head of Communications GDYR seperti dikutip kontan pernah mengatakan bahwa masih terlalu dini bagi perusahaan untuk bicara rencana bisnis,”Tetapi kami berusaha semampunya untuk kembali pada track yang telah disetujui bersama sejak memasuki semester ke dua walaupun secara bertahap," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Menghemat Pengeluaran Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…

Aman Berinvestasi di Pasar Modal - Investor Harus Perhatikan Pengumuman Bursa

NERACA Jakarta – Berinvestasi di produk keuangan, khususnya di pasar modal bagi para pemula harus jeli melihat produk yang ditawarkan,…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Menghemat Pengeluaran Penting Saat Pandemi

​Pandemi Covid-19 telah memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi di antaranya menurunnya pendapatan rumah tangga, hingga tidak sedikit yang kehilangan…

Sentimen Resesi Ekonomi Bikin IHSG Melemah

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) sore kembali ditutup turun tipis…

Aman Berinvestasi di Pasar Modal - Investor Harus Perhatikan Pengumuman Bursa

NERACA Jakarta – Berinvestasi di produk keuangan, khususnya di pasar modal bagi para pemula harus jeli melihat produk yang ditawarkan,…