Ever Shine Tex Bukukan Rugi US$ 2,79 Juta

NERACA

Jakarta - Sepanjang tahun 2019, emiten perusahaan tekstil PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) mencetak rugi bersih besar US$ 2,79 juta. Padahal di tahun 2018, perusahaan masih mencetak untung US$ 1,14 juta. Rugi yang didapat ESTI datang setelah rugi usaha di tahun lalu naik hingga 300% menjadi US$ 662.233. Padahal di tahun sebelumnya masih rugi sebesar US$ 161.889 di 2018. 

Direktur dan Sekretaris Perusahaan ESTI, Erlien Lindawati dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menjelaskan, rugi usaha yang naik signifikan disebabkan oleh turunnya laba bruto tahun 2019, meskipun biaya operasi juga turun.”Secara keseluruhan kinerja keuangan 2019 menurun dengan total rugi komprehensif sebesar US$ 2,79 juta. Hal ini disebabkan laba bruto yang turun dan beban keuangan yang naik hingga 29,4% mencapai US$ 2,40 juta," jelasnya.

Erlien menjelaskan di sepanjang tahun lalu laba bruto ESTI di 2019 turun 58,2% menjadi US$ 1,86 juta. Hal ini karena turunnya penjualan bersih hingga  17,14% yoy menjadi US$ 29,89 juta.  Adapun penjualan ekspor maupun lokal ESTI menyusut. Rinciannya, penjualan ke dalam negeri turun 7,7% sedangkan penjualannya ke luar negeri merosot hingga 30,3% yoy. 

Sentimen negatif yang menekan penjualan Ever Shine Tex tak lain karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Erlien mengungkapkan, AS mengenakan tarif tinggi bagi produk impor dari China termasuk produk tekstil sehingga menyebabkan barang-barang termasuk produk tekstil dari China membanjiri pasar di luar AS. Dalam hal ini, Indonesia juga jadi korbannya karena kebanjiran tekstil China dengan harga yang sangat rendah. 

Asal tahu saja, perseroan saat ini tengah berusaha mempertahankan bisnisnya di tengah badai covid-19. Hantaman wabah tersebut menggerus permintaan akan kain dan benang di pasaran baik pasar domestik maupun ekspor. Beruntung masih ada permintaan datang dari kebutuhan industri garmen yang memproduksi masker kain dan Alat Pelindung Diri (APD) alias pakaian hazmat di dalam negeri.

Setidaknya permintaan tersebut masih membuat mesin pabrik ESTI tetap berjalan, dimana kapasitas terpasang per tahunnya diketahui mencapai 80 juta yard kain woven dan 1.500 kain rajut. Namun permintaan ini belum mampu menutupi pasar tekstil secara umum, sehingga penjualan perusahaan sulit dikatakan bertumbuh.

 

BERITA TERKAIT

Cadangan Devisa Suport Penguatan IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Rabu (8/7), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 89,09…

Pasar Lokal Lesu Bikin Surya Pertiwi Merana

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 dirasakan betul dampaknya terhadap kinerja keuangan PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO). Pasalnya, lesunya geliat ekonomi…

Lippo Cikarang Miliki Susunan Manajemen Baru

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) menyetujui perubahan susunan direksi…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Cadangan Devisa Suport Penguatan IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Rabu (8/7), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 89,09…

Pasar Lokal Lesu Bikin Surya Pertiwi Merana

NERACA Jakarta – Pandemi Covid-19 dirasakan betul dampaknya terhadap kinerja keuangan PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO). Pasalnya, lesunya geliat ekonomi…

Lippo Cikarang Miliki Susunan Manajemen Baru

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) menyetujui perubahan susunan direksi…