Ancaman Covid-19 - Reksa Dana Terproteksi Marak Diterbitkan

NERACA

Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal saham lesu, namun minat penerbitan produk investasi di pasar masih ramai. Berdasarkan siaran persnya yang dirilis PT Infovesta Utama di Jakarta, kemarin mengemukakan bahwa reksa dana terproteksi menjadi yang paling banyak diterbitkan di tengah penyebaran COVID-19.

Manajemen Infovesta Utama menyebutkan bahwa di sepanjang tahun 2020 ini penyebaran COVID-19 telah berdampak terhadap penurunan kinerja pasar modal Indonesia. Namun, di tengah tren penurunan itu, masih ada beberapa produk reksa dana baru yang muncul. Disebutkan, periode Januari-Maret jumlah penerbitan reksa dana terproteksi mencapai sebanyak 26 produk baru.

Kemudian reksa dana terproteksi memberikan proteksi atas nilai investasi awal, jika pemegang unit penyertaan memegang reksa dana tersebut hingga pada tanggal jatuh tempo. Proteksi atas nilai investasi itu menjadi menarik bagi para investor karena memberikan rasa keamanan di tengah ketidakpastian pasar. Apalagi reksa dana terproteksi juga membagi hasil investasi dalam bentuk dividen secara periodik sehingga memberikan likuiditas kepada Investor dan membuat imbal hasil menjadi lebih terukur.

Oleh karena itu, PT Infovesta Utama mengemukakan, reksa dana terproteksi dapat menjadi alternatif di tengah dampak negatif virus corona apalagi diikuti dengan tren penurunan tingkat suku bunga. Hanya saja, kedepannya reksa dana terproteksi masih akan menghadapi tantangan yang disebabkan oleh kebijakan perpajakan bunga obligasi yang dimiliki oleh reksa dana terproteksi di tahun 2021 menjadi 15% dari lima persen.

Sementara itu tercatat, penerbitan reksa dana pendapatan tetap pada periode Januari-Maret 2020 sebanyak empat produk baru, reksa dana penyertaan terbatas sebanyak dua produk baru. Kemudian, reksa dana campuran, reksa dana saham, dan pasar uang pada periode Januari-Maret 2020 masing-masing sebanyak enam produk baru. Dan, reksa dana "exchanged trade fund" (ETF) sebanyak tiga produk baru.

Ya, belum berpengaruhnya minat masyarakat berinvestasi reksadana di tengah virus corona, diakui langsung CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra. Hal tersebut tercermin dari meningkat dana kelolaan atau asset under management (AUM) Bareksa sepanjang Maret 2020. Tercatat per 15 Maret 2020 dana kelolaan Bareksa sudah tembus melebihi Rp 2 triliun, melesat 20% dibanding akhir 2019. Jika dibandingkan dengan angka bulan lalu, di saat pandemi virus corona menyeret bursa saham global ke zona merah, AUM Bareksa masih melonjak 12%.

Peningkatan AUM ini didorong nilai subscription (pembelian) reksadana selama satu bulan terakhir, termasuk Sukuk Ritel (SR 012) yang diterbitkan Pemerintah RI yang tercatat menguat 48%, dibandingkan periode sama bulan sebelumnya. Selain itu, jumlah nasabah Bareksa pun terus bertumbuh, sudah mencapai 800 ribu atau sekitar 42% dari jumlah investor reksa dana di Indonesia.”Jika tren ini berlanjut, ini menunjukkan potensi fintech di area e-investasi bukan hanya untuk melakukan pendalaman, tapi juga stabilisasi market di masa-masa mendatang, khususnya di saat terjadi guncangan besar di dunia keuangan Indonesia," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Mewujudkan Rumah Impian Lewat KPR Syariah Milenial

    Milenial selalu menjadi topik yang menarik karena profil generasi milenial Indonesia ada beberapa ciri, yaitu dekat dengan media…

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

Penjualan Sky Energy Indonesia Turun 9,87%

NERACA Jakarta – Di tahun 2019, PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) mencatatkan kinerja keuangan negatif. Berdasarkan laporan keuangan yang…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

Penjualan Sky Energy Indonesia Turun 9,87%

NERACA Jakarta – Di tahun 2019, PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) mencatatkan kinerja keuangan negatif. Berdasarkan laporan keuangan yang…

Trafik Data XL Naik 25% di Saat Lebaran

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatat kenaikan trafik penggunaan layanan di saat lebaran Idul Fitri 1441 H.…