Gersang dan Serba Jauh, Opini Turis Soal Monas

Ada banyak hal menarik yang bisa diamati saat berkunjung ke Monumen Nasional (Monas). Mulai dari anak-anak kecil yang berlarian, muda-mudi yang sedang berpose seakan memegang puncak tugu, sampai turis mancanegara yang dikerubuti untuk selfie. Duduk-duduk atau olahraga di Monas paling nikmat dilakukan menjelang senja terbenam. Selebihnya jangan harap bisa santai, karena terik matahari sangat terasa.

Kalau ingin datang siang hari, mungkin bisa meniru cara James, turis asal New York, yang pada akhir pekan kemarin saya temui saat berkunjung ke Monas; berkaus dan bercelana pendek. Berbekal kegemarannya akan sejarah dan budaya, James menyempatkan datang ke Monas di sela kunjungan kerjanya. "Saya pikir (Monas) tempat yang bagus untuk belajar memahami perbedaan budaya, juga membuka pikiran soal banyak perspektif di dunia," ujarnya dikutip dari CNN Indonesia.com.

Ditanya mengenai perbandingan fasilitas dan layanan berwisata di Monas dengan objek wisata di negaranya, James mengaku ada banyak hal yang belum sempurna di Monas. Meski demikian ia mengaku akan datang kembali ke Monas jika punya kesempatan lagi ke Jakarta, terutama untuk naik ke cawannya karena hari itu antreannya sangat panjang oleh karyawisata anak sekolah.

Tak sedikit wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Monas setiap harinya. Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas Isa Sanuri menyebut ratusan yang bertandang per harinya."Kurang lebih 75-100, kalau hari libur bisa 200 [setiap hari]," ujarnya.

Sementara itu di bawah pohon sebelah timur kawasan Monas, Sholihatun sekeluarga sedang asyik piknik. Ia menggelar tikar kecil yang berkapasitas dua orang dewasa. Perempuan asal Lumajang, Jawa Timur, itu sengaja menghabiskan cuti kerja suaminya untuk liburan ke Jakarta. Ia bersama suami dan balitanya menginap di rumah saudara di Jakarta timur. "Ya keluar gini, nggak sering-sering. Makanya ke Monas saja, dekat rumah saudara kan tadi naik KRL," ujar perempuan yang akrab disapa Atun.

Atun mengaku cukup senang meskipun merasa gerah karena siang itu cukup panas. Ia juga agak kesal karena jika ingin membeli makanan harus berjalan kaki ke area Lenggang Jakarta yang cukup jauh. "Tau gitu tadi saya bawa bekal dari rumah, piknik deh di sini," terangnya.

Atun mengaku mengurungkan niat untuk menuju puncak Monas. Pasalnya antrean di lift yang membawa pada ketinggian tugu 132 meter itu cukup menyita waktu dan membuatnya lelah berdiri. Ia juga heran, bukan bertepatan hari liburan namun pengunjung Monas tetap saja ramai.

Hingga saat ini Monas hanya memiliki satu unit lift untuk mengantarkan penumpang menuju ke pelataran cawan hingga puncak Monas berkapasitas 11 orang dengan berat maksimal 800 kg. Selain itu untuk akses turun Monas, pengunjung hanya boleh naik lift sampai pelataran cawan Monas dan dilanjutkan menuruni tangga sampai bawah.

Yoki Temorubun, pengunjung yang berasal dari Ambon, terlihat duduk sambil melihat istri dan anaknya asik berfoto di depan Tugu Monas. Ini kali kedua ia mengunjungi Monas. Menurut pengakuannya, dari banyak keindahan dan sejarah tentang Monas ia hanya menyayangkan tidak ada fasilitas kendaraan untuk berkeliling. Pasalnya kawasan yang berdiri di atas lahan 80 hektar tersebut akan sangat melelahkan jika dinikmati dengan jalan kaki.

Walau sudah ada Mobil Wisata untuk mengantarkan pengunjung dari parkiran menuju tugu Monas, namun kendaraan itu bukan untuk keliling Monas. Sempat ada bus listrik yang dipersembahkan oleh TransJakarta, namun kendaraan itu hanya beroperasi keliling Monas saat hari libur nasional. "Ya itu tidak ada mobil buat keliling Monas. Padahal bagi yang jarang datang ke sini pasti ingin melihat semuanya dalam satu hari," pungkasnya.

Berikut sejumlah tips agar wisata ke Monas lebih nyaman:  Siapkan makanan dan minuman, isi perut sebelum berkeliling. Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, bawa topi dan payung jika perlu. Siapkan uang tunai dan kartu pembayaran elektronik. Ketahui jam buka tutup dan operasional Mobil Wisata. Jaga barang bawaan, karena banyak copet saat musim liburan. Budayakan antre dan dahulukan lansia atau orang yang berkebutuhan khusus. Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan mencorat-coret tembok atau patung. Sebisa mungkin naik kendaraan umum saat berkunjung. Patuhi peraturan keselamatan saat naik ke area cawan atau puncak.

BERITA TERKAIT

Protokol New Normal Anjuran WTCC untuk Hotel dan Ritel

World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan protokol baru mengenai kesehatan dan keselamatan untuk sektor perjalanan dan pariwisata demi menyambut…

Pagang, Pulau Wisata Sekaligus Penanggulangan Bencana

Secara geografis Pulau Pagang masuk wilayah Pesisir Selatan, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu. Namun akses menuju ke sana…

Topeng Labu Muarajambi, Tradisi Silaturahmi di Tengah Wabah

Sekumpulan anak kecil menyusuri jalan beton di tepian Sungai Batanghari. Satu persatu bocah-bocah ini mengikuti gerombolan pemuda yang bersiap memulai…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Protokol New Normal Anjuran WTCC untuk Hotel dan Ritel

World Travel & Tourism Council (WTTC) meluncurkan protokol baru mengenai kesehatan dan keselamatan untuk sektor perjalanan dan pariwisata demi menyambut…

Pagang, Pulau Wisata Sekaligus Penanggulangan Bencana

Secara geografis Pulau Pagang masuk wilayah Pesisir Selatan, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu. Namun akses menuju ke sana…

Topeng Labu Muarajambi, Tradisi Silaturahmi di Tengah Wabah

Sekumpulan anak kecil menyusuri jalan beton di tepian Sungai Batanghari. Satu persatu bocah-bocah ini mengikuti gerombolan pemuda yang bersiap memulai…