Harga Karet Naik, Petani Tersenyum

NERACA

Lampung - Harga getah karet di Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, Lampung, dalam sepekan terakhir naik dari Rp7.000 menjadi Rp8.000 per kilogram. Naiknya harga karet mengangkat ekonomi petan.

Benar bahwa harga getah karet minggu kedua bulan Januari mencapai Rp8.000 per kilogram. Sejumlah petani karet di Kabupaten Mesuji, Lampung, tersnyum atas meningkatnya harga getah karet. Memang, harga getah karet umumnya naik sekitar Rp2.000 untuk setiap kilogramnya .

Kenaikan harga getah karet terjadi karena permintaan atas komoditas perkebunan itu meningkat. "Sebelumnya harga getah karet mingguan hanya kisaran Rp7.000 per kilogram, sedangkan untuk getah karet dua minggu dipatok petani dengan harga Rp6.000 per kilogram," ucap Edi, salah satu petani karet, mengutip ANTARA. 

Petani karet lainnya, Hari mengatakan kenaikan harga karet membantu perekonomian para petani guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Selain harganya naik, produksi getah karet juga meningkat," terang Hari.

Alhasil, menurut Hari, petani mulai banyak menyadap pohon karet karena harga komoditas perkebunan itu naik. "Cuaca normal seperti sekarang ini getah yang kami dapat dari menyadap karet lebih banyak sekitar 20-25 kilogram dibandingkan sebelumnya," ungkap Hari.

Sebelumnya, Dewan Pengawas Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPERINDO) juga mengakui bahwa harga karet memang sudah mulai merangkak naik. Tapi tekanan terhadap komoditas tersebut masuk terus menghantui.

“Tekanan tersebut diantaranya seperti adanya volume karet sintetis yang harus bersaing dengan karet alam. Lalu persaingan antara Amerika dan China pun secara tidak langsung mempengaruhi pasar karet Indonesia. Melihat hal ini maka pemerintah perlu hadir yang lebih serius dalam membenahi karet,” kata Gamal.      

Meski begitu, Gamal mengakui, memang pemerintah sudah melakukan berbagai upaya peningkataan harga. Dinataranya melakukan loby-loby ke negara luar dan memperbesar penggunaan daam negeri, tapi masih belum ada peningkatan yang signifikan. Walapun ada peningkatan harga itu masih cukup kecil. Belum mengembalikan kejayaan karet.

“Sehingga dalam hal ini mungkin diperlukan regulasi yang baru dengan kabinet baru atau Menteri Pertanian yang baru untuk bisa mendorong lebih cepat lagi mengembalikan kejayaan karet,” harap Gamal.

Hal ini penting, karena menurut Gamal, dari catatan Ditjen Perkebunan tahun 2018, bahwa luas tanaman karet yang mencapai 3,6 juta hektar sebanyak 84 persennya dimiliki oleh petani. Artinya, dengan membenahi tanaman karet dan mendongkrak harga karet, itu sama saja dengan membenahi tanaman rakyat dan meningkatkan ekonomi rakyat.

Disisi lain, kemitraan antar perusahaan dan petani jangan hanya sebatas pembelian untuk bahan baku industri. Tapi berikanlah juga pembinaan teknis guna meningkatkan kualitas dan kuantitas. “Saya kira kalau ini bisa dilakukan maka produksi karet akan meningkat baik kualitas ataupun kuantitas Sehinga  perlu dibicarakan dengan Menteri Pertanian yang baru agar bisa membenahi karet lebih baik lagi guna kesejahteraan petani,” himbau Gamal yang juga mantan Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.  

Disisi lain, untuk medongkrak harga karet Indonesia mengajak Thailand dan Malaysia sebagai negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk melindungi petani karet dan menyusun langkah bersama mengatasi berbagai persoalan karet alam. Hal tersebut disampaikan Indonesia yang memimpin pertemuan ITRC

“Untuk itu, kita perlu melindungi petani karet dengan berbagai langkah yang telah direncanakan,” ujar Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Antonius Yudi Triantoro  .

Lebih lanjut menurut Yudi, dalam pertemuan tersebut, dicapai dua kesepakatan, yaitu negara anggota ITRC sepakat untuk terus berkomitmen dalam menjaga pasokan karet alam melalui skema ITRC dan memperluas kerangka kerja sama dengan negara produsen lainnya.

ITRC memiliki skema menjaga pasokan karet alam melalui Skema Pengelolaan Pasokan (Supply Management Scheme/SMS) dan Skema Pembatasan Ekspor (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS).

Sehingga untuk meningkatkan konsumsi karet di tiga negara, ITRC membentuk Skema Promosi Permintaan (Demand Promotion Scheme/DPS) sebagai wadah bagi Negara anggota untuk menyampaikan strategi peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri seperti penggunaan karet sebagai campuran aspal dan berbagai inovasi produk berbasis karet alam.

“Skema ITRC bertujuan untuk menjaga keberlanjutan karet alam melalui stabilisasi harga karet alam dunia. Keberlanjutan sektor karet alam harus terus diperjuangkan. Perbaikan harga terus diupayakan agar petani dapat terus membudidayakan tanaman karetnya,” kata Yudi.

BERITA TERKAIT

Teknologi Digital Diharapkan Meningkatkan Kapasitas Usaha Nelayan

NERACA Serang - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) bersama PT. XL. AXIATA Tbk memberikan…

Indonesia Ekspor Bawang Putih ke Taiwan

NERACA Brebes - Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor perdana bawang putih sebanyak 15 ton dari target 1.000 ton ke Taiwan.…

Indonesia-Filipina Perkuat Kerja Sama Perdagangan

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 tidak menghalangi Indonesia dan Filipina membahas berbagai isu dan kerja sama dalam forum bilateral “The…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Teknologi Digital Diharapkan Meningkatkan Kapasitas Usaha Nelayan

NERACA Serang - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) bersama PT. XL. AXIATA Tbk memberikan…

Indonesia Ekspor Bawang Putih ke Taiwan

NERACA Brebes - Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor perdana bawang putih sebanyak 15 ton dari target 1.000 ton ke Taiwan.…

Indonesia-Filipina Perkuat Kerja Sama Perdagangan

NERACA Jakarta - Pandemi Covid-19 tidak menghalangi Indonesia dan Filipina membahas berbagai isu dan kerja sama dalam forum bilateral “The…