Hunian

Hunian "Kolonial" Segera Hadir di Kawasan Cagar Budaya Menteng  

NERACA

Jakarta - SHS & Associate perusahaan yang bergerak di bidang desain dan interior harus mengerahkan kemampuannya untuk membangun apartemen Defountein tanpa mengubah bangunan sebagai cagar budaya peninggalan Belanda di kawasan Menteng.

"Pakai konsep klasik kolonial dengan sentuhan modern, disesuaikan dengan identitas budaya dan sejarah kawasan Menteng pada sebuah bangunan cagar budaya (heritage) zaman kolonial," kata Sammy Hendramianto Syamsulhadi, Chairman SHS & Associate yang juga dikenal pakar desain interior nasional saat ditemui di Jakarta, Selasa (8/10).

Sammy mengatakan konsep dasar pemugaran heritage Defontein adalah revitalisasi sekaligus adaptasi untuk mengembalikan ke bentuk asli bangunan dengan menyesuaikan fungsi ruangan sebagai show unit apartemen.“Konsep desain yang dikembangkan adalah konsep kolonial klasik dengan kreasi artistik yang menarik,” kata Sammy.

Menyebut nama ‘Defontein’ sebenarnya sudah menunjukkan konsep kolonial klasik."Konsep ini menunjukkan arsitektur kolonial Indonesia yang merupakan perpaduan antara budaya barat dan timur yang hadir melalui karya-karya arsitek Belanda," ujar dia.

“Desain interior klasik kolonial identik dengan nuansa dekoratif dengan ornamen-ornamen historis. Gaya ini memiliki kesan menarik," kata dia menambahkan.

“Konsep inilah yang berlaku pada desain kolonial dan unit apartemen, nantinya. Jendela dan pintunya lebar-lebar dan tinggi,” ujar alumni ITB ini. 

Bagian dari konsep klasik kolonial terletak pada penggunaan marmer putih carrara untuk lantai dan beberapa bagian dari dinding serta ruang lain dalam bangunan.“Kesan hidup yang mampu dihasilkan marmer putih carrara ketika dipasang jadi lantai hunian menjadikannya berkelas dan memberi rasa nyaman bagi pemiliknya,” tambah dia.

Sammy juga mengatakan penggunaan marmer carrara karena merupakan batu alam Italia yang memiliki kepadatan tinggi dan dapat memantulkan cahaya dan berkilau.”Penggunaan furnitur dari material kayu dengan desain simetris sederhana juga akan dimasukkan di apartemen ini termasuk lampu gantung besar,” jelas Sammy.

“Sifatnya yang abadi membuat desain klasik kolonial semakin digemari, sekalipun penerapannya di apartemen,” lanjut dia. Mohar/Ant

 

 

BERITA TERKAIT

Menelaah Dampak Wabah COVID-19 ke Sektor Properti Nasional

NERACA Jakarta - Siapa yang menyangka bahwa mahkluk berukuran kurang dari 100 nanometer (satu meter itu setara dengan satu miliar…

Apindo: 30 Juta Karyawan Properti Terancam PHK Karena Pandemi

NERACA Jakarta - Ketua Bidang Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar menyebut sekitar 30,34 juta karyawan yang bekerja di…

Pengembang Minta Pengusaha Tak Terpaku pada COVID-19 Saja

NERACA Jakarta - Pengusaha properti nasional meminta agar pelaku usaha di sektor ini tak hanya terpaku pada masalah COVID-19 saja,…

BERITA LAINNYA DI Hunian

Menelaah Dampak Wabah COVID-19 ke Sektor Properti Nasional

NERACA Jakarta - Siapa yang menyangka bahwa mahkluk berukuran kurang dari 100 nanometer (satu meter itu setara dengan satu miliar…

Apindo: 30 Juta Karyawan Properti Terancam PHK Karena Pandemi

NERACA Jakarta - Ketua Bidang Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar menyebut sekitar 30,34 juta karyawan yang bekerja di…

Pengembang Minta Pengusaha Tak Terpaku pada COVID-19 Saja

NERACA Jakarta - Pengusaha properti nasional meminta agar pelaku usaha di sektor ini tak hanya terpaku pada masalah COVID-19 saja,…