Targetkan Penjualan Rp 400 Miliar - Itama Ranoraya Perkuat Jaringan di Enam Kota

NERACA

Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diharapkan bisa membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) sebagai perusahaan suplaier alat kesehatan.”Kenaikan iuran BPJS Kesehatan, tentunya akan meningkatkan pelayanan kesehatan lebih baik lagi dan termasuk pengadaan alat kesehatan,”kata Direktur Utama Itama Ranoraya, Tetan W Setiawan di Jakarta, kemarin.

Namun sayangnya, dirinya belum mau menyebutkan potensi kenaikan penjualan perseroan sebagai dampak kenaikan BPJS Kesehatan. Disampaikannya, perseroan dalam mengejar pertumbuhan penjualannya akan mengembangkan jaringan kantor cabang beserta fasilitasnya di sejumlah kota besar di Indonesia pada 2020. Dimana sumber pendanaan ekspansi berasal dari dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Kata Tetan, rencana pengembangan kantor cabang dilakukan pada 2020 dengan dibarengi pengembangan sistem jejaring teknologi informasi dan aplikasi pusat, cabang, serta pendirian kantor perwakilan di Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar. Dirinya berharap, kantor perwakilan tersebut dimasa depan bisa menjadi kantor cabang utama di Medan, Surabaya, dan Makassar.”Pembukaan kantor cabang di beberapa kota di Indonesia dinilai menguntungkan daripada menunjuk sub-distributor, mengingat potensi pasar produk perseroan saat ini masih cukup luas,”jelasnya.

Sementara Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Itama Ranoraya, Pratoto Satno Raharjo menuturkan, perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp28 miliar guna mendorong pertumbuhan kinerja dua digit pada 2020. Dimana dana tersebut digunakan untuk membuka 6 jaringan pemasaran baru di antaranya di Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar.

Seiring dengan penetrasi pasar, IRRA mengincar penjualan sebesar Rp400 miliar atau tumbuh 33,33%, serta laba Rp46 miliar atau tumbuh 43,75% pada tahun depan. Sementara itu, pada tahun ini, perseroan mengincar penjualan sebesar Rp300 miliar dan laba Rp32 miliar. Hingga September 2019, IRRA baru mengantongi laba Rp10 miliar atau belum mencapai separuh dari target.

Dijelaskan Pranoto, perolehan laba yang masih mini seiring dengan tertundanya pengadaan barang pemerintah akibat penyelenggaraan Pemilu. "Pengadaan barang [pemerintah] baru mulai Agustus sehingga saya perkirakan laba mulai melejit pada November dan Desember hingga mencapai Rp32 miliar," katanya.

Perseroan optimistis dapat mencetak kinerja kinclong pada tahun depan. Optimisme ini juga ditopang tren pertumbuhan industri alat kesehatan mencapai 10%. Apalagi Oneject Indonesia, sister company IRAA, dalam proses pembangunan pabrik ke 2 di Cikarang untuk mengejar produksi 1,2 miliar jarum suntik. Pembangunan pabrik tersebut merespons program WHO yang mencanangkan penggunaan alat suntik yang aman di seluruh dunia. Adapun, tingkat komponen dalam negeri pada produk mencapai lebih dari 50%.

Katalis positif lain yang juga mendorong pertumbuhan kinerja, yakni kenaikan iuran BPJS Kesehatan. "Dengan kandungan tingkat komponen dalam negeri di atas 50%, peluang instansi kesehatan untuk menyerap produk perseroan semakin besar," imbuhnya.

Saat ini pangsa pasar perseroan meliputi institusi kesehatan sawasra maupun milik pemerintah seperti Palang Merah Indonesia, Departemen Kesehatan RI, rumah sakit, Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).



BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…