Kembangkan Bisnis Petrokimia - Barito Pacific Siapkan Capex US$ 560 Juta

NERACA

Jakarta —Danai pengembangan bisnis di bidang petrokimia dan energi, PT Barito Pacific Tbk (BRPT). menganggarkan belanja modal tahun ini hingga US$560 juta. Disebutkan, belanja modal tersebut sekitar US$ 80 juta hingga US$ 100 juta untuk sektor energi dan US$ 460 juta untuk bisnis petrokimia.”Perseroan akan menyelesaikan beberapa proyek ekspansi di lini bisnis petrokimia. Dimana satu pabrik polypropylene dengan skala cukup besar akan selesai tahun ini,”kata Direktur Independen Barito Pacific, David Kosasih di Jakarta, Rabu (15/5).

Disampaikannya, fasilitas pabrik tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400.000 ton per tahun. Dalam ekspansi itu, perseroan tidak menggandeng mitra lain. Disebutkan, total investasi pabrik polypropylene US$350 juta sampai US$400 juta. Untuk bidang energi, investasi dilakukan untuk program drilling atau pengeboran. Pihaknya menyebut investasi itu rutin dilakukan setiap tahun.

Selain itu, David menyebutkan, perseroan juga memiliki rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 dan Jawa 10. Fasilitas itu akan memiliki kapasitas 2x1.00 megawatt (MW). Adapun, penyelesaian pembiayaan atau financial close proyek itu ditargetkan pada akhir 2019 atau kuartal I/2020. Sebagai catatan, Barito Pacific lewat entitas anak PT Barito Wahana Lestari dan anak usaha PT Indonesia Power, yakni PT Putra Indotenaga telah membentuk usaha patungan PT Indo Raya Tenaga untuk menggarap PLTU Jawa 9 dan Jawa 10. Komposisi kepemilikan yakni 49:51.

Saat ini, perseroan menjalankan lini bisnis petrokimia melalui entitas anak PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Sementara itu, bisnis listrik panas bumi dijalankan melalui Star Energy. Chandra Asri Petrochemical berkontribusi US$2,54 miliar terhadap total pendapatan Barito Pacific US$3,07 miliar pada 2018. Dari situ, earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) yang dihasilkan sekitar US$413 juta.

Selanjutnya, Star Energy menghasilkan atau berkontribusi terhadap total pendapatan senilai US$522 juta. Dari situ, SEG mampu berkontribusi sekitar US$400 juta terhadap total EBITDA perseroan US$813 pada 2018. BRPT mencaplok Star Energy 66,67% saham Star Energy pada 2018. Entitas itu diklaim sebagai produsen panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Pada 2018, perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan bersih secara konsolidasian sebesar 7,8% secara tahunan menjadi US$3,07 miliar. Secara detail, pendapatan bersih dari bisnis petrokimia masih tumbuh 5,1% dari US$2,41 miliar pada 2017 menjadi US$2,54 miliar pada 2018. Pertumbuhan kontribusi bisnis petrokimia terutama disebabkan oleh realisasi harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi, khususnya dari penjualan ethylene, polyethylene, dan polypropylene.

Adapun, pendapatan dari bisnis panas bumi meningkat 23,4% menjadi US$522 juta yang dihasilkan dari pendapatan Aset Salak dan Darajat yang diakuisisi oleh SEG dari dari Chevron pada Maret 2017. Di sisi lain, terjadi kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 15,1% dari US$1,97 miliar menjadi US$2,27 miliar pada 2018. Peningkatan itu terutama disebabkan oleh biaya rata-rata naptha yang meningkat sekitar 30% dari US$500 per ton pada 2017 menjadi US$650 per ton pada 2018.

BERITA TERKAIT

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…