Like Father Like Daughter - Safitri Siswono Presiden Direktur PT. Arthaguna Ciptasarana

Meskipun terlahir dari keluarga berkecukupan, tak lantas membuat Safitri Siswono berdiam diri menikmati kekayaan yang dimiliki keluarganya. Ia malah terpacu untuk bekerja keras agar bisa lebih maju lagi.

NERACA

Beruntung, mungkin kata inilah yang sering dilontarkan orang jika melihat seseorang sukses meneruskan usaha orangtuanya. Betapa tidak, orang tersebut hanya tinggal meneruskan usaha orangtuanya tanpa memulai dari nol, tentunya bukanlah hal sulit untuk seseorang meneruskan usaha peninggalan ayah atau ibunda mereka.

Namun, Safitri Siswono menampik hal tersebut, baginya keberuntungan tidak akan membuat seseorang selalu sukses jika tidak disertai dengan kerja keras dan perjuangan penuh semangat seperti yang telah dia lakukan terhadap perusahaan milik ayahnya.

“Banyak orang yang diwariskan usaha oleh orangtuanya, tetapi mereka tidak semua sukses. Kalau mereka hanya berdiam diri saja tanpa mau bekerja keras mustahil usaha milik orangtaunya yang dikelola akan sukses. Kerja keraslah yang saya terapkan untuk meneruskan usaha orangtua saya, meskipun selalu hidup berkecukupan,” kata Safitri Siswono menampik anggapan banyak orang.

Buktinya, sebelum dia memutuskan bergabung di perusahaan milik keluarga, putri kedua dari lima bersaudara ini telah malang melintang berkarir di perusahaan-perusahaan swasta. Ya, usai menamatkan pendidikan S1 Teknik Industri ITB dan Magister Manajemen Prasetiya Mulya Business School (PMBS) ia terlebih dahulu menjajal berkarir di beberapa perusahaan.

Saat itu, dia pernah pun didapuk menjabat posisi lumayan saat berkarir di PT. Unilever Indonesia, yakni sebagai Business Development Manager PT. Unilever Indonesia. “Pada 2004 lalu saya putuskan untuk keluar dari PT.Unilever dan mengurusi usaha keluarga,” kenang wanita yang akrab disapa Fitri ini.

Ya, terhitung sejak 2004 silam, Safitri Siswono, kemudian, memilih untuk meneruskan perusahaan keluarga sebagai Direktur Utama PT. Arthaguna Ciptasarana, yang bergerak dalam bidang investasi, perkebunan, property,konstruksi, manufaktur, perhotelan dan pariwisata.

Tak hanya itu, ia juga mendirikan beberapa perusahaan sendiri, diantaranya PT Cipta Paramula Sejati di sana dia menjabat sebagai Komisaris, Regawa Mobile yang bergerak di bidang mobile marketing sebagai Co-Owner, serta projek yang beberapa tahun lalu kelar pengerjaannya, yakni sebuah Taman Rekreasi di bilangan Cipulir, Jakarta Selatan dengan nama Kampung Main Cipulir (KMC).

Berbagi Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang paling berharga, begitulah kata istilah. Safitri siswono pun semakin lihai dengan semakin banyaknya pengalaman yang dia miliki. Untungnya, Safitri bukan lah orang yeng pelit terhadap ilmu.

Pengalamannya dalam dunia entrepreneurship, mendorongnya untuk berbagi pengalaman dengan orang lain. Makanya, ia bergabung sebagai dosen di almamaternya sejak tahun 2007 di jajaran Departemen Operasi.

“Saya ingin berbagi pengalaman saja dengan mereka, nah ketika ada kesempatan saya langsung mewujudkannya, saya sangat senang dapat berbagi pengetahuan dengan para mahasiswa di Indonesia,” sebut dia.

Sebagai seorang pengajar, Fitri sukses menyelenggarakan Business Creation dan Business Project untuk mahasiswa S1 Bisnis, adalah hal yang tidak bisa ia lupakan. Keinginan yang masih ingin dicapainya adalah meningkatkan bimbingan kepada para mahasiswa, terutama dalam bidang networking pemasaran untuk barang/jasa dari usaha mereka.

Berbagi pengalaman sebagai entepreneur tidak saja ia wujudkan dengan mengajar, tetapi ia tuangkan dalam beberapa buku yang telah ia terbitkan. Semua buku karyanya mengupas bagaimana melakukan bisnis, baik itu mulai dari bangku kuliah, ataupun setelahnya.

“Saya juga suka berbagi lewat media lain, seperti buku misalnya, makanya pengalaman dan pengetahuan saya selalu saya tuangkan lewat buku, alhamdulillah kini sudah ada beberapa buku karangan saya yang sudah terbit,” kata dia

Bagi Safitri, entrepreneurial capital adalah suatu modal yang harus dimiliki setiap insan untuk maju, baik para profesional maupun entrepreneur. Karena, yang namanya opportunity selalu ada di sekitar kita, tantangannya adalah untuk menemukan dan mengolahnya menjadi suatu bisnis yang menguntungkan, serta bersikap positif dan termotivasi untuk terus berkarya.

“Yang pasti, saya ingin terus menulis buku, tujuannya agar orang yang membaca tiulisan saya dapat terinspirasi dalam berkarya, khususnya cara berbisnis mereka, dan rencananya saya akan melaunch buku lagi nanti,” katanya.

Tiru Sang Ayah

Dengan segudang aktifitas yang dijalani, pemilik Jakarta Design Center ini tetap menomorsatukan keluarga tercintanya. Dan baginya menjadi seorang ibu adalah hal yang paling utama baginya ketimbang hal apapun jua.Makanya meskipun sibuk berkarir dia tak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu.

“Menjadi seorang Ibu adalah achievement tertinggi buat saya. Jadi walaupun sesibuk apapun saya bekerja saya tak akan pernah melupakan keluarga, apalagi anak-anak, mereka sangat membutuhkan peran seorang ibu untuk tumbuh kembang,” ucap Ibu dari Arkana Regawa dengan tegas.

Menurutnya, terdapat banyak hal positif menjalani hidup dalam keluarga Siswono Yudohusodo. Pasalnya, sang ayah tidak pernah mengizinkan anggota keuarganya untuk menerapkan pola hidup konsumtif dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga, jangan heran kalau untuk meminta dibelikan tas baru saja ada syarat yang harus dilaksanakan. Bukan berarti banyak uang apapun yang diinginkan pasti diberikan oleh orang taunya. Namun, tentunya hal itu tak tampak dari pandangan orang lain. karena di mata oranglain yang tampak adalah kesenangan berada ditengah-tengah keluarga berkecukupan.

“Ya, itu kan memang tidak kelihatan dalam penglihatan orang lain. Teman saya pun semua beranggapan seperti itu, padahal itu tidak benatr. Ayah telah mendidik anak-anaknya untuk tidak hidup boros. Tetapi, karena yang orang lihat kita keluarga berkecukupan ya sudahlah. kita yang tahun sendiri bagaimana sebenarnya. Padahal minta dibelikan tas saja mesti juara kelas dulu,” kenang Fitri.

Dia pun mencontoh bagaimana cara mendidik anaknya dengan berkaca pada pendidikan yang diberikan ayahnya. Ya, apa yang didapat dari orangtuanya dulu, kini diterapkan Fitri dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Yakni tidak hidup dengan pola hidup konsumtif.

“Banyak hal hebat yang saya alamai sebagai anak dari Siswono, dan itu yang menjadi acuan saya mendidik anak-anaknya. Walaupun terkadang hal itu tidak sesuai dengan keinginan anak, tetapi saya jelaskan dan akhirnya anak saya mau mengerti,” tegas dia.

Seringkali kebijakan yang ia terapkan berbenturan dengan keinginan anaknya dan kerap kali mendapat protes dari mereka. Tetapi, justru dari situlah anaknya dapat belajar banyak hal, seperti caranya bernegosiasi dan lain sebagainya.

Buka Lapangan Pekerjaan

Bagi sebagian kalangan (pengusaha), mungkin membuka usaha yang diincar adalah keuntungan semata. Makanya, jangan heran banyak pemilik usaha yang agak pelit terhadap para karyawannya dam berlaku semena-mena terhadap karywannya.

Tidak demikian dengan Fitri, dia sangat peduli dengan para karywannya.Dan satu hal yang pasti, dengan membuka usaha maka dia tentunya telah mengurangi tingkat pengangguran yang ada. Apalagi kalau bisa memberdayakan masyarakat sekitar lokasi usaha tentu sangat menyenangkan hatinya.

Seperti melalui tempat wisata keluarga di bilangan Cipulir dengan nama Kampung Main Cipulir (KMC) yang pengerjaannya kelar beberapa tahun lalu Safitri berhasil memberdayakan masyarakat sekitar untuk memilki penghasilan tetap. Baik sebagai karywan KMC langsung atau pun membuka gerai suvenir di sekitar KMC.

“Sangat senang rasanya jika bisa melihat orang lain juga turut senang, dalam hal ini kita bisa membantu anak-anak sekitar yang putus sekolah. Ya, dengan penghasilan yang dimiliki mereka jadi mampu meneruskan pendidikannya,” jelas Fitri.

Selain itu, pembangunan taman bermain di Cipulir juga ditujukan untuk membuat daerah hijau di Jakarta Selatan. Maklum saja saat ini kan keberadaan daerah hijau sangat kurang di Jakarta, sehingga dia pun percaya dengan keberadaannya akan mampu mengurangi tingginya tingkat polusi yang ada di Jakarta.

Tak hanya itu, dengan keberadaan KMC juga dia berupaya membuat tempat wisata yang merakyat dengan fasilitas terbaik. Seperti kolam renang, jogging track, arena pancing, serta beberapa mainan edukatif lainnya untuk anak-anak, tak heran kenapa keberadaan KMC ini begitu dinanti masyarakat Jakarta.

Pasalnya, masyarakat Jakarta saat ini selalu dihadapkan dengan rekreasi yang serba mahal. Coba saja tengok kawasan Ancol, kawan terbuka itu tentu memiliki harga yang wah untuk masyarakat yang pas-pasan, karena harga tiketnya terlampau mahal.

Tak hanya melalui KMC program pemberdayaan masyarakat yang dia lakukan, karena selain membangun KMC dia pun telah mengembangkan beberapa lokasi wisata lainnya di Jawa dan Sumatera. “Semua usaha yang saya kembangkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” tutup Fitri. (ahm)

Related posts