Diprediksi Naik 10%, Ekspor Kopi Kian “Harum”

NERACA

Jakarta - Seiring meningkatnya permintaan komoditas kopi Indonesia dari berbagai negara tetangga, sudah bisa dipastikan akan mendongkrak kinerja komoditas tersebut. Ekspor kopi Indonesia diperkirakan naik 10% tahun ini.

Beberapa program peningkatan produksi termasuk penambahan areal lahan perkebunan telah membuat produksi kopi naik dan mengerek kinerja ekspor.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) ,Irfan Anwar, yang sekaligus Presiden Direktur Coffindo mengatakan, berbagai program peningkatan produksi di sejumlah perusahaan perkebunan membuat produksi kopi terus menunjukkan peningkatan.

Bahkan dalam tiga tahun ke depan akan ada beberapa program ekstensifikasi tanaman kopi dibeberapa daerah seperti Lampung, Jawa Tengah, Aceh dan Toraja. \"Dengan adanya penambahan lahan, produktivitas meningkat,\" katanya di Jakarta,Kamis (4/4).

Produktivitas kopi Indonesia, menurut Irfan, masih lebih rendah dibandingkan negara produsen lain seperti Brazil dan Vietnam. Rata-rata produktivitas kopi Indonesia hanya 740 kg per ha per tahun, sedangkan di Vietnam dapat mencapai 2,3 ton per ha per tahun tahun dan Brazil sebanyak 2,5 ton per ha per tahun.

Diharapkan dengan pola tanam yang baik, produktivitas kopi lokal dapat ditingkatkan menjadi 1 ton per ha per tahun. Data AEKI menunjukkan, tahun lalu luas lahan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar (ha) dengan produksi 748.000 ton. Dari jumlah itu sebanyak 520.000 ton untuk pasar ekspor dan 230.000 ton untuk pasar domestik.

Irfan bilang, sampai sekarang 75% dari total volume ekspor dikirim dalam bentuk bahan mentah atau biji. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor biji kopi antara lain Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.

Mardjoko, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan (Kemdag) mengatakan, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan kinerja ekspor kopi mengalami peningkatan rata-rata 10,5% setiap tahun. \"Kopi merupakan salah satu produk andalan ekspor non migas Indonesia,\" katanya.

Menurut data Kemdag , nilai ekspor kopi tahun lalu mencapai US$ 1,2 miliar, naik 7,9% dari US$ 1,04 miliar pada tahun 2011.Meski harga kopi dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan, AEKI yakin pada pertengahan tahun ini akan kembali naik. Saat ini harga kopi jenis arabika berada di kisaran US$ 1,4 per pound. Di pertengahan tahun ini diperkirakan akan naik menjadi US$ 1,7-US$ 1,8 per pound. Sementara robusta juga akan meningkat dari US$ 2.030 per ton jadi US$ 2.600 per ton.

Sekedar informasi Volume ekspor kopi asal Indonesia mencapai 10.620.000 kantung (satu kantung berisi 60 kilogram/kg) di 2012, naik 72% dari 2011 sebanyak 6,15 juta kantung. Perolehan ekspor tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir kopi terbesar ketiga dunia, menurut International Coffee Organization (ICO).

Volume ekspor kopi global meningkat 8,2% menjadi 113 juta kantung pada 2012 terdorong permintaan lebih tinggi dibandingkan 2011 yang sebesar 104.570.000 kantung. \"Sebagian besar ekspor didorong oleh tingginya volume pengiriman robusta,\" kata ICO dalam laporannya.

Brasil Juara

Sementara posisi pertama eksportir kopi terbesar dunia masih ditempati Brasil di 2012. Negara ini masih mempertahankan posisinya, meski ekspor kopinya turun lebih dari 15% menjadi 28.260.000 kantung di 2012 dari sebelumnya 33,50 juta kantung pada 2011.

Posisi kedua ditempati Vietnam dengan volume 25.470.000 kantung biji kopi, naik dibandingkan 2011 yang sebanyak 17.670.000 kantung. Brasil, Vietnam dan Indonesia adalah produsen utama kopi robusta di dunia.

Di antara eksportir besar lainnya, pengiriman kopi Kolombia menurun 7,5% menjadi 7,16 juta kantung pada 2012 dari 7,77 juta kantung pada tahun sebelumnya. Demikian pula, ekspor kopi dari India menurun 9,4% menjadi 5.280.000 kantung dari sebelumnya 5,84 juta kantung.

Penguatan ekspor kopi telah terlihat selama beberapa tahun terakhir. Hal ini juga menyebabkan penurunan stok di negara-negara pengekspor. Pada awal tahun ini, stok kopi sebesar 15,3 juta kantung, lebih rendah dari stok awal 2011 sebanyak 18,2 juta kantung.

Menurut data ICO, ekspor robusta naik 24% menjadi 46,61 juta kantung pada 2012 dari 37.530.000 kantung di 2011. Namun pengiriman untuk kopi arabica sedikit turun menjadi 66.520.000 kantung dari 67.040.000 kantung.

Permintaan untuk varietas robusta naik karena kopi jenis ini lebih murah daripada Arabika dan memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi. ICO memperkirakan, total produksi kopi dunia periode 2012-2013 diperkirakan mencapai 144.060.000 kantung dari sebelumnya hanya 134.560.000 kantung periode 2011-2012.

Jepang dan Amerika Serikat (AS) adalah dua negara yang paling menggemari kopi lokal. Keduanya sepanjang tahun 2011 tercatat telah mengimpor kopi Indonesia sebanyak 100,11 ribu ton dengan nilai transaksi mencapai US$ 413,1 juta. Jepang telah mengimpor 55 ribu ton kopi lokal senilai US$ 161,101 juta. Sementara AS mencatat volume impor kopi 45.118 ton senilai US$ 252,001 juta.

Nilai transaksi AS memang lebih tinggi meski volumenya jauh lebih rendah. AS mampu menghargai kopi Indonesia jauh lebih mahal yaitu US$ 52 per pon. Sepanjang 2011 lalu tercatat volume ekspor ke kedua negara turun dibanding tahun sebelumnya. Pada 2010 volume eskpor kopi ke Jepang berada di angka 58.477 ton. Sedangkan volume ekspor kopi ke AS mencapai 58.736 ton.

Related posts