Perdagangan Indonesia - Korea Tembus US$ 30 Miliar

Rabu, 06/02/2013

NERACA

Jakarta - Kerjasama bilateral yang digalang oleh Indonesia dan Korea mulai terasa manfaatnya beberapa tahun terakhir. Baik di bidang teknologi, investasi, tenaga kerja, pariwisata dan akademis.

“Indonesia dan Korea banyak menginspirasi, mempengaruhi dan menguntungkan satu sama lain,” kata Ketua Umum Indonesia-Korea Friendship Association (IKFA) Nick T Dammen di Jakarta, Selasa (5/2).

Hubungan bilateral yang saling menguntungkan ini bisa dilihat dari data yang dilansir KBRI Seoul yang menyebutkan bahwa selama empat tahun terakhir nilai perdagangan RI-Korea terus meningkat. Tahun 2009 sebesar US$ 15 miliar, tahun 2010 mencapai US$ 23 miliar, di 2011 melonjak hingga US$ 31 miliar dan Oktober 2012 sebesar US$ 30 miliar.

"Kedua negara sepakat bahwa nilai perdagangan pada tahun 2015 akan mencapai US$ 50 miliar dan pada 2020 ditargetkan sebesar US$ 100 miliar," bilang Dia.

IKFA diharapkan mengambil peran khusus dalam sektor kerja sama sosial dan budaya. "Ini untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan ataupun politik," ucap Nick.

Sebagai informasi, IKFA merupakan asosiasi nirlaba yang berdiri sejak 2007. Organisasi ini didirikan guna meningkatkan dan terus memelihara hubungan persahabatan RI-Korea di segala bidang.

Sementara itu, Ketua Studi Bersama Indonesia-Korea Selatan dari pihak Indonesia Djisman Simanjuntak mengungkap, selama periode Januari-September 2011, total perdagangan Indonesia dan Korea Selatan bernilai US$ 21,2 miliar atau naik 47,5 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, yakni US$ 14,4 miliar

Peningkatan tersebut adalah dampak dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) di antara kedua negara. Saat ini, keduanya tengah menjajaki kemungkinan perdagangan bebas bilateral.

Djisman Simanjuntak, menjelaskan, dengan mempertimbangkan liberalisasi daftar sensitif tinggi (high sensitive list) dan daftar sensitif (sensitive list) dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Korea (ASEAN- Korea Free Trade Agreement), Indonesia-Korea CEPA akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan sebesar US$ 7,97 juta dan peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,03 % bagi Indonesia.

Kesejahteraan Korea Selatan akan meningkat US$ 1,5 miliar dengan pertumbuhan PDB sebesar 0,13 %. Namun, apabila diasumsikan dengan mempertimbangkan peningkatan produktivitas dari beberapa sektor utama dalam kerangka CEPA termasuk perdagangan barang (trade in goods), perdagangan jasa (trade in services), penanaman modal (investment), dan kerja sama ekonomi (economic cooperation), Indonesia akan memperoleh peningkatan kesejahteraan sebesar US$ 10,6 miliar dengan pertumbuhan PDB sebesar 4,37 %. Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, kerangka CEPA harus dapat diselaraskan dengan dinamika ekonomi dan bisnis yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan. “CEPA juga memberikan lebih banyak peluang investasi dan akses pasar yang lebih besar bagi produk ekspor Indonesia,” ujar Gita.

Komoditas ekspor

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Korea Selatan meliputi batubara, bubur kertas dari kayu, dan karet. Dari Korea Selatan, Indonesia mengimpor elektronik dan komponen otomotif. Tren total perdagangan kedua negara selama lima tahun terakhir (2006-2010) positif sebesar 15,9 %. Neraca perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan sejak tahun 2006 hingga 2010 menunjukkan bahwa Indonesia surplus dalam perdagangan.

Total Perdagangan Indonesia-Korea Selatan pada tahun 2010 mencapai US$ 20,3 miliar dengan nilai ekspor US$ 12,5 miliar dan impor US$ 7,7 miliar , atau naik 57,3 % dibandingkan dengan total perdagangan pada tahun 2009. Neraca perdagangan tahun 2010 surplus bagi Indonesia sebesar US$ 4,8 miliar, atau naik 43,1 % dibandingkan dengan tahun 2009.