Membersihkan Tikus di Antara Dana Rp40 Triliun - ANGGITO ABIMANYU, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU)

Soal biaya ONH yang tinggi, disinyalir karena banyaknya "tikus" menyelinap dalam program penyelenggaraan Ibadah Haji. Untuk itu, "tikus-tikus" yang ada harus segera dimusnahkan agar ongkos naik haji bisa lebih murah.

NERACA

26 Juni dan 3 Agustus 2012 menjadi hari yang bersejarah bagi Kementerian Agama. Tanggal 26 Juni adalah pelantikan Anggito Abimanyu sebagai direktur jenderal (dirjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) menggantikan Slamet Riyanto. Sedangkan pada 3 Agustus adalah pelantikan mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Muhammad Yasin menjadi inspektur jenderal (irjen).

Kedua tokoh itu diharapkan mampu membersihkan "tikus-tikus" yang menyelinap di sela program penyelenggaraan haji. Program penyelenggaraan haji telah menjadi stigma buruk kementerian itu karena diduga banyak terjadi tindak korupsi, akibat banyak tikusnya. Indikasinya, tidak ada transparansi pengelolaan dana setoran awal jamaah haji yang besarnya telah mencapai Rp 40 triliun.

“Ya saya akan teliti lagi, mana saja yang bisa dibersihkan agar ongkos naik haji ke depan bisa lebih murah lagi, secepatnya,” kata Anggito menjawab pertanyaan Neraca, sebelum membuka ‘The 4th Umrah, hajj & International Tourism Fair’, Rabu (19/12) di Balai Sudirman, Jakarta Selatan.

Masuk di Kementerian Agama, Anggito tidak berlatar belakang dari ilmu agama seperti kebanyakan pejabat kementerian itu yang berasal dari Universitas Islam Negeri (UIN). Sebab, dia lebih terkenal sebagai ekonom asal UGM. Pria kelahiran Bogor 19 Maret 1963 itu sebelumnya banyak berkecimpung sektor ekonomi dan fiskal.

Terakhir, jabatan yang diembannya adalah sebagai kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan untuk periode 2005-2007. Sebelumnya dia pernah menjadi kepala Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerjasama Internasional (Bapekki).

Dia mengundurkan diri dari Kementerian Keuangan pada 2010 dan kembali mengajar di Fakultas Ekonomi (FE) UGM, tak lama setelah namanya dicoret sebagai wakil menteri keuangan, walaupun namanya sudah diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saudara kandung Prof Danang Parikesit ini pernah menjadi Direktur Antar-Universitas (PAU) UGM pada 1997-2000. Jabatannya di UGM, terakhir menjadi direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika, dan Bisnis (P2EB) Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pendidikan akademiknya diraih di FE UGM untuk S-1. Sedangkan gelar S-2 (MSc) dan S-3 (PhD) diperoleh di University of Pennsylvania Philadelphia Amerika Serikat pada 1990 dan 1993.

Dalam karirnya, Anggito juga pernah tercatat sebagai komisaris Bank Lippo (2001-2003), lalu menjadi komisaris di PT Telkom Indonesia (2004-2008). Pernah menjadi konsultan paruh waktu di Bank Dunia yang berpusat di New York selama tiga tahun, yaitu pada 1992-1995.

Pemusik Andal

Anggito juga terkenal sebagai pemusik saxofon. Beberapa kali dia tampil pentas mengikuti konser musik, dan dia spesialis memainkan alat musik tiup itu. Karyanya antara lain From Asia to the world (theme song ADB), Journey, Damai bersamamu, Dzikir untuk Merapi, Spirit of Peace, dan Ksatria Basket. Apa hubungan antara Anggito dengan basket? Saat ini, sekretaris umum Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini menjadi ketua umum Pengurus Besar Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi).

Penampilannya yang bersih dan agamis itulah maka Anggito dinobatkan sebagai Duta Zakat Badan Amil, dan Zakat Nasional (Baznas). Sebagai sosok yang bersih, artinya tak pernah tersangkut kasus kasus tindak pidana korupsi itulah yang menyebabkan Menteri Agama Suryadharma Ali mengajukan namanya sebagai pejabat di eselon 1 kementerian tersebut. Menteri Suryadharma berharap, di tangan Anggito, Kementerian Agama terlepas dari stigma buruk sebagai kementerian yang paling korup. Itu sebabnya dia diduetkan bersama Muhammad Yasin.

Harapannya, penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan Kementerian Agama berubah dari Wajar dengan Pengecualian (WDP) pada tahun lalu, menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di tahun ini.

Agar para stafnya mendukung pelaksanaan tugas khusus itu, Anggito pun mencoba akrab dengan mengajar anak buahnya makan bareng di kantin samping kantornya di Kawasan lapangan Banteng. (saksono)

BERITA TERKAIT

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

Kembangkan Inftastruktur dan SDM - Rifan Financindo Bidik Transaksi 1,5 Juta Lot

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan performance kinerja yang positif di tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Rifan Financindo Berjangka…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…