Optimisme dan Harapan Pertekstilan Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) : Ade Sudrajat

Neraca

Geliat pertekstilan tanah air memang cukup membanggakan. Selain mampu mendulang pendapatan negara melalui nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia sebesar US$ 13,7 miliar atau Rp 123 triliun ditahun 2011 lalu, industri TPT juga merupakan sektor manufaktur dengan penyerapan tenaga kerja yang terbesar hingga 1,84 juta orang atau 15% dari total penyerapan pekerja di sektor manufaktur nasional. Realitas ini tak terlepas dari kepiawaian Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

Ditemui dikantornya di Gedung Adhi Karya Jakarta, Ade akrab ia disapa menuturkan kebanggaanya dengan kemajuan yang telah diraih industri pertekstilan Indonesia, meski ia mencatat masih banyak persoalan yang menyambangi perkembangan industri TPT tanah air dimasa mendatang.

Sejak dua tahun terakhir, kata Ade, ekspor TPT naik sekitar 20% per tahun. Namun ditahun 2012, kemungkinan ekspor hanya tumbuh kurang dari 5% karena adanya perlambatan ekonomi dunia dan kendala lainnya di dalam negeri.

Pria kelahiran Bandung, 58 tahun lalu ini menuturkan, bahwa produsen TPT nasional harus mampu bersaing di dua pasar ekspor utama, yakni Uni Eropa dan Amerika Serikat. Di pasar Amerika Serikat, jelas Ade, industri TPT nasional berada di peringkat lima pemasok utama. Sedangkan Tiongkok mendominasi impor tekstil AS dengan pangsa 35%, kemudian Vietnam (5,82%), India (5,44%), Meksiko (5,31%), dan Indonesia (4,55%).

“Pasar tekstil AS setara dengan 25% dari total perdagangan TPT dunia senilai US$ 93,18 miliar. Indonesia harus melampaui Vietnam, India, dan Meksiko untuk menjadi pemain utama di AS, selain Tiongkok,” ujarnya.

Saat ini total perdagangan tekstil dunia mencapai US$ 583 miliar pada tahun lalu. Dari nilai itu, Tiongkok dan Hong Kong menguasai pangsa 36,6%, disusul Turki (3,91%), India (3,28%), AS (2,87%), Korea (2,11%), Pakistan (1,92%), dan Indonesia (1,67%).

Meski hanya menikmati sebagian kecil ‘kue’ pasar tekstil internasional, namun dengan struktur industri yang hampir lengkap, dengan tingkat kandungan dalam negeri untuk produk TPT nasional mencapai 66%, ia optimis dimasa mendatang Indonesia dapat tampil lebih baik. “Ini memperlihatkan kekuatan dan kedalaman struktur industri TPT telah mapan,” ujarnya pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Industri Pertekstilan ASEAN (AFTEX) ini.

Sebelum menjadi raksasa tekstil dunia, jelas Ade, ada beberapa langkah yang harus dibenahi untuk mendukung pengembangan industri TPT nasional. Salah satunya adalah bahan baku tekstil berupa kapas masih impor hingga 99,5%. Kapas menjadi salah satu bahan baku tekstil dengan kontribusi terbesar yakni 38%, disusul serat poliester (produk turunan minyak) dan serat rayon (produk turunan kayu/pulp).

Industri TPT nasional bahkan merupakan sektor manufaktur dengan penyerapan tenaga kerja yang terbesar sekitar 15% dari total penyerapan pekerja di sektor manufaktur nasional atau 1,84 juta orang. “Bahkan, saat krisis global tahun lalu, ekspor TPT masih mampu meraih surplus lebih dari US$ 6 miliar,” kata Ade.

Optimisme Tekstil Nasional

Untuk menggenjot target yang diharapkan, API bahkan telah menyusun roadmap pengembangan industri TPT nasional. Dalam roadmap disebutkan, bila industri TPT nasional membutuhkan investasi tambahan sebesar Rp 60 triliun untuk mencapai visi 2015. “Dalam lima tahun ke depan, ekspor TPT nasional diprediksi menguasai 2,9% pangsa pasar dunia, 88% pangsa pasar domestik, dan 16% pangsa pasar Asean,” tuturnya.

“Kami siap menghadapi komunitas ekonomi ASEAN (AEC) 2015, tidak ada masalah,” ujarnya optimis karena produk tekstil Indonesia tergolong paling kuat di ASEAN.

Optimisme Ade karena dirinya memandang bila industri TPT banyak mendapat manfaat dari Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) 2015. “Apalagi bila pemerintah terus memanfaatkan momentum penambahan kapasitas produksi di sektor hulu TPT itu dengan memperbaiki infrastruktur, terutama menambah pembangkit listrik, pasti dalam 10 tahun ke depan industri TPT bisa menjadi juara di ASEAN, atau bahkan dunia," ujar Ade mantab.

Lulusan IKIP dan pengenyam pendidikan Ingenieur of Textile di Moenchengladbach, Jerman ini menegaskan bila industri TPT Indonesia bahkan dapat bersaing dengan produk asal China. “TPT Indonesia bisa bersaing,” kata Ade, karena negara tersebut (China) mulai secara bertahap mulai meninggalkan industri tekstilnya karena biaya produksi di China yang semakin mahal. “Impor TPT dari China sebenarnya hanya sekitar tujuh persen berupa garmen, sedangkan sisanya adalah kain yang diproduksi kembali oleh industri TPT kita,” ujar Ade menjelaskan.

Peluang tekstil Indonesia di pasar internasional sekarang ini masih bagus dan tidak kalah dibandingkan dengan prodak serupa asal negara China dan India. Ia berkata, “Untuk harga di pasar internasional sekarang ini bersaing, tetapi kita masih menang dalam kualitas.”

Ia mengatakan bila industri TPT nasional sudah mampu melengkapi diri hingga ke hilir. Indonesia, ucap Ade, akan menjadi produsen serat rayon terbesar di dunia pada 2012, menyusul perluasan kapasitas produk PT South Pacific Viscose sebesar 130 juta dolar AS. Terlebih produsen serat polyester oleh PT Indorama juga menambah investasi sebesar 800 juta dolar AS, sehingga menjadi produsen terbesar.

Kondisi ini jelas akan memberi dampak efek berantai pada industri TPT hilir, seperti benang, kain, dan pakaian jadi (garmen). Selain Indonesia, jelas Ade, produsen TPT terbesar di ASEAN adalah Thailand, namun kapasitas produksi di Thailand lebih kecil. Satu lagi Vietnam, meski lebih kecil namun ekspor TPT ke dunia tinggi mencapai 14 miliar dolar," katanya. Ia pun memproyeksikan pada tahun 2012 ini, ekspor TPT secara nasional ke dunia menembus angka di atas US$ 13 miliar, “Itu pun harus mendapat dukungan semua pihak, terutama pemerintah,” ujarnya.

Namun kendala dalam waktu dekat yang mengancam perkembangan tekstil nasional adalah rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) oleh pemerintah pada April 2012 nanti. “Kami kuatir, kenaikan TDL akan berakibat melemahnya daya beli masyarakat atas produk tekstil,” ungkap dia.

Ia memperkirakan biaya produksi tekstil nasional akan naik di atas 10% dibandingkan tahun 2011. “Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan industri ini yang merupakan industri padat karya, salah satunya dengan mempercepat pembangunan infrastruktur,” ujarnya, menegaskan. Lambatnya pembangunan infrastruktur, menurut dia, akan menghambat pertumbuhan industri secara umum.

Beberapa negara pengeksport tekstil terbesar karena mereka sudah mampu mengefisienkan dan mengefektifkan dalam proses kegiatan produksi hingga pengiriman dilakukan. Di Malaysia saja, ungkap mencontohkan, untuk proses bongkar muat di pelabuhan hanya membutuhkan waktu empat jam, sedangkan kita membutuhkan waktu 24 jam, “Dengan infarstruktur jalan yang memadai, kami yakin dapat mencapai target yang diharapkan,” ujar dia berharap.

Related posts