Pengamat: Penguatan Rupiah Belum Signifkan - FUNDAMENTAL EKONOMI RI DINILAI RELATIF BAGUS

Jakarta-Pengamat ekonomi senior UI Faisal Basri menilai, efek penguatan nilai tukar (kurs) rupiah belum begitu signifikan. Meski demikian, dia mengakui kondisi fundamental perekonomian Indonesia memang terbilang stabil pada saat ini. "Belum begitu terasa efek penguatan kurs ripiah. Kita lihat nanti kecenderungan pada November-Desember. Minggu depan kan keluar data neraca pembayarannya Bank Indonesia (BI), nah itu baru klop nanti bisa dilihat," ujarnya di Jakarta, Selasa (06/11).

NERACA

Menurut data Bloomberg, kurs rupiah berada di level Rp14.804 per US$ pada perdagangan pasar spot Selasa (6/11). Angka tersebut menguat 172 poin (1,15%) dari Senin (5/11) di level Rp14.976 per US$. Sementara kurs referensiBI Jakarta Interbank Spot (Jisdor) posisi rupiah kemarin menguat menjadi Rp 14.891 dibandingkan sehari sebelumnya Rp14.972 per US$.

Di kawasan Asia, rupiah juga terlihat kembali menjadi mata uang yang menguat paling tinggi terhadap dolar AS. Penguatan rupiah diikuti peso Filipina 0,57%, rupee India 0,19%, renminbi China 0,19% dan dolar Singapura 0,09%. "Tapi fundamental (perekonomian) relatif bagus nih kalau kita lihat beberapa indikator kan membaik tidak seburuk yang saya bayangkan ya pertumbuhannya," ujar Faisal.

Dia berharap momentum ini dapat dijaga baik oleh pemerintah ke depannya. Termasuk dalam hal ini menjaga kondisi ketidakpastian global dalam rentang yang masih terukur bagi Indonesia."Kalau momentumnya bisa dijaga ya bagus, tapi catatannya cukup banyak ya. Oleh sebab itu jangan ada blunder yang buat asing itu jadi ingin jual surat utang negara (SUN). Blunder itu seperti ketidakpastian, instabilitas, mereka nggak suka ini. SUN dalam rupiah itu 37% dimiliki asing, kalo asingnya jual-jual terus maka celaka kita," ujarnya.

Pada bagian lain, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, penguatan atau apresiasi tersebut merupakan bukti keberhasilan kebijakan BI dan pemerintah dalam menjaga stabilisasi rupiah. "Iya, artinya beberapa kebijakan pemerintah, terutama dengan menekan atau mengelola defisit transaksi berjalan, sudah mulai terlihat hasilnya," ujarnya, kemarin.

Meski begitu, Dody menegaskan saat ini dampak kebijakan-kebijakan tersebut belum maksimal. Terutama dalam hal pembatasan impor. "Memang belum bisa dilihat secara maksimal, jangan secara langsung dampak impor berkurang, karena bagaimana pun juga ada impor untuk capex, itu yang terus berjalan. Karena untuk kebijakan investasi, infrastruktur, itu juga masih terus berlangsung," ujarnya.

Akan tetapi, untuk impor non strategis, misalnya konsumsi sudah relatif lebih rendah. Angka pertumbuhan impor riil sendiri di kuartal III-2018 lebih rendah dibandingan kuartal II-2018. "Jadi itu sudah dukungan, meski sebenarnya kebijakan itu baru di September, sehingga hasilnya belum begitu terasa di kuartal III-2018, jadi mungkin lebih banyak kita lihat di kuartal IV-2018," tutur dia.

Dody mengatakan, dampak kebijakan tersebut setidaknya terlihat dari pertumbuhan impor yang melambat. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan impor pada kuartal III-2018 tercatat sebesar 14,06%, melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 15,17%. "Jadi sudah ada dukungan, meski sebenarnya kebijakan itu baru di September 2018, sehingga hasilnya belum begitu terasa, tapi mungkin lebih banyak di kuartal IV 2018," ujarnya.

Meski demikian, menurut dia, memang bayang-bayang impor masih ada, sekalipun diharapkan kebijakan pembatasan impor bisa lebih terasa di penghujung tahun. "Karena memang investasi dan infrastruktur itu masih terus berlangsung, tapi untuk impor nonstrategis, misalnya konsumsi itu sudah relatif lebih rendah," ujarnya.

Di sisi lain, penguatan rupiah saat ini juga sedikit banyak didukung oleh fundamental ekonomi yang terus stabil, sehingga menambah kepercayaan investor untuk mengalirkan modalnya ke Indonesia.

Ekonomi yang stabil itu, menurut Dody, tercermin dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17% pada kuartal III-2018. Meski angka ini lebih rendah ketimbang kuartal II-2018 yang mencapai 5,27%, hal ini masih menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih meyakinkan karena tetap mampu tumbuh di kisaran 5%.

"Ini masih menunjukkan tingginya permintaan domestik, investasi, dan konsumsi masih besar. Ekonomi masih tumbuh, pertumbuhan kredit meningkat, dan sentimen terhadap keyakinan konsumen dan produsen positif," jelasnya.

Menurut Dody, BI dan pemerintah akan terus menjaga rupiah tetap berada di fundamentalnya."Stabilisasi Rupiah terus kami lakukan, meski tentunya dalam beberapa hal itu dalam tentunya dari kombinasi kami memainkan suku bunga, intervensi, dan nilai tukar itu sendiri didepresikan secara gradual," ujarnya.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menuturkan, sentimen global dan domestik mendukung penguatan rupiah terhadap dolar AS. Dari eksternal, indeks dolar AS cenderung melemah. Hal ini mengingat peluang pembicaraan mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dan China belum ada titik temu. "Pelaku pasar cenderung menjual dolar AS sehingga berdampak terhadap mata uang negara berkembang," ujarnya.

Dia menuturkan, bila AS dan China mencatatkan perkembangan pembicaraan soal sektor perdagangan juga akan membuat rupiah kembali lanjutkan penguatan. Namun bila tidak ada negosiasi, rupiah bisa melemah lagi.

Sedangkan dari internal, menurut Josua pelaku pasar mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17% pada kuartal III-2018. Pertumbuhan ekonomi tersebut di atas harapan. "Selain itu, Bank Indonesia awal bulan menerapkan non deliverable forward sebagai alternatif hedging bagi investor asing juga membuat rupiah menguat," ujarnya seperti dikutip Liputan6.com.

Aliran dana investor asing masuk ke pasar saham dan obligasi, menurut dia, menambah tenaga untuk rupiah. "Month to date dana asing masuk ke pasar saham US$ 217 juta hanya di pasar saham. Yield obligasi juga sudah turun dari 8,8% menjadi 8,21%," ujarnya.

Pertumbuhan Ekonomi

Menurut dia, nilai tukar rupiah dapat ke posisi Rp14.800-Rp14.950 per US$ hingga akhir 2018 asal ditopang dari sentimen internal dan eksternal. Saat ini ada beberapa risiko pengaruhi pergerakan rupiah baik dari internal dan eksternal. Dari risiko internal yaitu kekhawatiran defisit transaksi berjalan yang melebar.

"Pada kuartal II-2018 transaksi berjalan sudah capai 3% dari PDB. Pada akhir pekan ini BI akan umumkan current account deficit yang diperkirakan melebar menjadi 3,3%-3,5% pada kuartal III- 2018. Namun diprediksi akhir 2018, di bawah 3%,” ujarnya.

Selain itu, dari eksternal, kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) juga menjadi perhatian pelaku pasar. "Desember keputusan suku bunga The Fed akan naik. Namun, sentimen The Fed sudah mulai price in," ujarnya seraya mengingatkan, harga minyak mulai turun akibat sanksi AS terhadap Iran juga menjadi sentimen di pasar keuangan.

Sebelumnya BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2018 mencapai 5,17%, lebih tinggi jika dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy) yang hanya 5,06%.

Menurut peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat UI (LPEM-UI) Febrio Kacaribu, pertumbuhan ekonomi tersebut berada di atas ekspektasi pasar. Hal ini menurut dia, yang turut memberi dampak positif bagi menguatnya rupiah terhadap dolar AS. "Faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal III-2018 yang diumumkan sedikit di atas ekspektasi pasar. Ini menjadi salah satu faktor yang menolong rupiah," ujarnya.

Febrio menuturkan, jika melihat data pertumbuhan ekonomi triwulan III-2018 yang mencapai 5,17%, maka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% untuk keseluruhan tahun 2018 dapat dicapai. "Dengan data terakhir, sinyal ke 5,2% semakin besar. Rata-rata pertumbuhan Q1-Q3 sudah 5,17%,” ujarnya. Dia memprediksi untuk tahun 2019, pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,2%-5,3%. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif - Sukabumi Harus Bangun KEK dan Menjadi Destinasi Wisata

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif Sukabumi Harus Bangun KEK…

Bulog Sumsel-Babel Belum Maksimal Serap Beras Petani

Bulog Sumsel-Babel Belum Maksimal Serap Beras Petani NERACA Palembang - Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan dan Bangka Belitung belum…

Laju IHSG Belum Beranjak dari Zona Merah

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa (11/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tertahan di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…

Indonesia Terlambat Kembangkan Ekonomi Syariah

  NERACA Surabaya - Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim perlu lebih cepat mengejar ketertinggalan ekonomi syariah dibanding negara-negara…