Puasa dan Kesehatan

Oleh : Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes Kemenkes RI

Tak terasa bulan Ramadhan segera tiba. Bagi muslim menahan dari segala yang membatalkan, termasuk makan dan minum, selama 30 hari adalah suatu kewajiban. Dari mulai fajar hingga terbenam matahari.  Ibarat mesin, tubuh kita pun mendapat jeda dari beratnya tugas melakukan proses metabolisme bagi tubuh. Istirahat ‘menggiling makanan’ di siang hari.

Tapi apakah sebenarnya secara total jumlah konsumsi energi tubuh menurun? Apakah kita makan lebih sedikit? Belum tentu. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan konsumsi  yang berarti di bulan Ramadhan. ‘Kalap’ saat berbuka mungkin jawabannya. Saat puasa cenderung ada perbedaan terhadap kualitas makanan yang dimakan dan pola makan terutama dari segi waktu makan. Misalnya kita lebih banyak mengkonsunsi makanan ringan yang seringkali juga manis di waktu malam.

Efeknya akan kesehatan masih terus dicari. Berbagai kontroversi timbul. Salah satunya terhadap kesehatan sistem peredaran darah atau kardiovaskular. Penelitian tentang efek puasa Ramadhan terhadap faktor risiko kardiovaskular yang dipublikasi tahun 2012 menunjukkan bahwa setelah menjalani Ramadhan, mereka yang mempunyai risiko penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, akan lebih sehat. Kadar kolesterol membaik, HDL lebih tinggi, LDL lebih rendah, trigliserid lebih rendah. Tekanan darah sistolik pun menurun. Begitu juga dengan berat badan, indeks massa tubuh dan lingkar perut. Artinya, berpuasa mengontrol ‘sejenak’ kondisi kesehatan kita.

Disarankan selama berpuasa memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat seperti sayuran, buah, nasi merah, kacang-kacangan terutama saat sahur. Makanan tinggi serat akan membantu menahan rasa lapar karena akan dicerna lebih lama oleh tubuh. Selain itu juga akan mempertahankan kadar gula tubuh dengan baik sehingga terhindar dari rasa lemas yang berlebihan.

Saat puasa sebaiknya kurangi makanan yang digoreng dan berlemak tinggi, tinggi garam, tinggi gula. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi teh atau kopi terutama saat sahur karena akan meningkatkan tingkat keasaman lambung. Selain itu juga teh dan kopi bersifat diuretic sehingga akan meningkatkan pengeluaran cairan dan mineral tubuh melalui urin misalnya. Juga jangan langsung tidur setelah berbuka atau sahur jika tidak ingin rasa tidak nyaman di perut saat bangun tidur. Karena tubuh perlu waktu untuk 2-3 jam mencerna.

Persiapan fisik dan hati sebelum Ramadhan juga penting. Tetap menjaga kesehatan sepanjang tahun dengan konsumsi seimbang dan melakukan aktifitas fisik, maka Ramadhan akan dilewati dengan nyaman. Pada dewasa cukup 150 menit perminggu beraktivitas sedang, cukup untuk menjaga tubuh bugar. Selanjutnya tentu saja jangan lupa ‘hidupkan hati’ sehingga fisik akan lebih siap menghadapi Ramadhan. Selamat menjalani ibadah puasa.

 

BERITA TERKAIT

Pandemi, Momentum Mereset Ekonomi Nasional

Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Dunia usaha tengah mengambil ancang-ancang menyusun model bisnis baru pasca pandemi Covid-19. Langkah ini tidak…

Meningkatkan Geliat Ekonomi

Oleh: Airlangga Hartarto Menko Perekonomian Kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan dimulainya akitivitas ekonomi pada era New Normal berdampak positif terhadap perekonomian…

Traffic Separation Scheme

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat…

BERITA LAINNYA DI

Pandemi, Momentum Mereset Ekonomi Nasional

Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Dunia usaha tengah mengambil ancang-ancang menyusun model bisnis baru pasca pandemi Covid-19. Langkah ini tidak…

Meningkatkan Geliat Ekonomi

Oleh: Airlangga Hartarto Menko Perekonomian Kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan dimulainya akitivitas ekonomi pada era New Normal berdampak positif terhadap perekonomian…

Traffic Separation Scheme

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat…