Meski Sudah Dijatah - Pemerintah Tetap Tambah Pasokan Solar

NERACA

 

Jakarta - Sejumlah daerah di Indonesia mengalami kelangkaan solar, bahkan ada truk yang rela mengantri panjang dan berhari-hari untuk mendapatkan solar bersubsidi. Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik akan menyalurkan solar bersubsidi meskipun jumlah solar dibatasi dan tidak boleh ditambah karena sudah dijatahi kuota solar bersubsidi.

\"Saya bertemu dengan Pak Hatta (Menko Perekonomian) untuk mengambil kebijakan sementara karena jatahnya kan jatah setahun ini, jatah yang bulan-bulan berikutnya, kita geser ke depan dulu sedikit diberikan pada SPBU-SPBU untuk solar yang bersubsidi,\" imbuh Jero di Jakarta, Rabu (24/4).

Terkait dengan penyaluran solar, ia menjelaskan telah dijalankan oleh Pertamina tetapi pihaknya meminta dengan pengawasan yang ketat. \"Saya minta pada Polisi, Hiswana Migas untuk mengawasi dimasing-masing SPBU mengawasi. Jangan sampai mentang-mentang dikasih solar yang bersubsidi terus nanti diselundupkan,\" ujar Jero.

Jero juga meminta pada truk-truk yang mengangkut untuk kebutuhan sektor riil, seperti mengangkut bawang, cabai atau mengangkut kebutuhan lainnya, agar secukupnya untuk mengisi solar. Jadi mestinya, karena kebijakan sudah diputuskan, semestinya hari ini sudah akan terurai itu antriannya. \"Jadi antrian solar sudah mulai terurai. Karena Menteri ESDM sudah mengasih keputusan untuk dikasih pada rakyat. Pikiran saya untuk rakyat dululah,\" ucap Jero.

Ia menjelaskan ketersediaan solar  untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ada dua, yang pertama solar yang bersubsidi dan solar non subsidi. Dan yang dibatasi dalam kuota Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yaitu jenis solar yang bersubsidi. \"Tidak boleh kami menjual solar bersubsidi melebihi kuota yang ditetapkan APBN yang nyatanya sangat terbatas jumlahnya dimasing-masing SPBU. Maka kebutuhan solar di masyarakat itu naik, dengan jumlah yang terbatas, karena tiap tahun telah dibagi-bagi makanya terbatas,\" kata Jero.

Semakin Bertambah

Lanjut Jero, terbatasnya jumlah solar tersebut kemudian ditambah lagi dengan jumlah tambahan mobil, truk, dan kendaraan lainnya serta industri yang menggunakan solar itu makin bertambah. \"Ekonomi kita membaik, maka kebutuhan solar itu naik. Nah, karena jumlahnya terbatas maka tiap hari, kan dari satu tahun tuh dibagi-bagi solarnya, sehingga jatah per hariannya terbatas untuk solar subsidi,\" tutur Jero.

Jero menambahkan, untuk solar non subsidi itu sebenarnya pihaknya sudah meminta sama Pertamina jangan dibatasi. Biar rakyat membeli sekuatnya termasuk industri. \"Itu sudah, tapi kan masyarakat kita terutama supir-supir ini kan kalau ada dua solar pastilah nunggu yang bersubsidi. Biarpun ngantri dua hari,\" imbuhnya.

Seperti diketahui, kuota bahan bakar minyak bersubsidi, Premium dan solar, tahun 2013 adalah 46 juta kiloliter. Secara alami, kuota pasti jebol mengingat realisasi tahun lalu sudah mencapai 45,2 juta kiloliter. Oleh sebab itu, pemerintah akan menambah kuota menjadi 48,5 juta kiloliter. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo menyatakan, kelangkaan solar bersubsidi terjadi lantaran kuota solar bersubsidi di sejumlah tempat telah habis. Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Hanung Budya menyatakan, hingga triwulan I-2013, penyaluran solar bersubsidi di hampir seluruh provinsi telah melebihi kuota. Kelebihan kuota itu rata-rata secara nasional mencapai 5,2%.

Akibat kelangkaan yang terjadi, DPD Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Jabar merasa prihatin dengan kondisi kelangkaan solar. Ketua DPD Organda Jabar, Aldo F Wiyana, mengatakan, kelangkaan Solar menyebabkan pengusaha transportasi merugi karena harus menghentikan operasi. Selain itu, menyebabkan spare parts kendaraan rusak. \"Itu membuat sekitar seribu unit angkutan, yaitu bus, truk, dan elf, di wilayah Cirebon tidak dapat beroperasi. Mengapa angkutan di Cirebon sulit mendapatkan solar? Apakah karena kesalahan kebijakan Pertamina atau kegagalan sistem distribusi?\" kata Aldo.

Kata Aldo, kemarin adalah kelangkaan terparah BBM subsidi jenis solar. \"Saya memperhatikan, sekitar 18-20 unit SPBU di Cirebon kehabisan Solar bersubsidi. Akibatnya, terjadi antrean panjang. Bahkan, angkutan umum harus berkeliling untuk sekadar memperoleh solar. Hasilnya, nihil,\" papar dia.

BERITA TERKAIT

Di Era New Normal Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Bapok

NERACA Jakarta – Kemendag terus berupaya mengendalikan kestabilan harga dan kelancaran pasokan barang kebutuhan pokok (bapok), khususnya di masa new…

Kemendag Pacu Ekspor Produk Rempah Indonesia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memacu peningkatan komoditas rempah Indonesia di tengah pandemi Covid-19. “Mesir merupakan pasar yang…

TASPEN Raih Anugerah BUMN 2020 sebagai SDM Kompetitif dan Berdaya Saing Global

NERACA Jakarta - PT TASPEN (Persero) berhasil meraih predikat Terbaik III Pengembangan SDM Unggul Kategori BUMN dalam Anugerah BUMN 2020.…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Di Era New Normal Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Bapok

NERACA Jakarta – Kemendag terus berupaya mengendalikan kestabilan harga dan kelancaran pasokan barang kebutuhan pokok (bapok), khususnya di masa new…

Kemendag Pacu Ekspor Produk Rempah Indonesia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memacu peningkatan komoditas rempah Indonesia di tengah pandemi Covid-19. “Mesir merupakan pasar yang…

TASPEN Raih Anugerah BUMN 2020 sebagai SDM Kompetitif dan Berdaya Saing Global

NERACA Jakarta - PT TASPEN (Persero) berhasil meraih predikat Terbaik III Pengembangan SDM Unggul Kategori BUMN dalam Anugerah BUMN 2020.…