Tuna dan Gurita Asal Dipastikan Aman

NERACA

Ambon – Petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Maluku (Karantina Maluku) memeriksa 430 kilogram (kg) ikan tuna loin dan 50 kg gurita segar asal Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara yang berlabuh menggunakan alat angkut KM. Barcelona.

Pemeriksaan dokumen adminstrasi dan kesehatan komoditi perikanan juga dilaksanakan untuk memastikan komoditas aman dibebaskan sehingga dapat diolah lebih lanjut oleh masyarakat Ambon. Sebelum dibebaskan, komoditi yang dikemas dalam kemasan streofoam ini dipastikan kelengkapan dokumen dari daerah asal.

“Ikan tuna dan gurita  yang dilalulintaskan ini telah memenuhi persyaratan di daerah tujuan. Kami telah melakukan serangkaian pemeriksaan sehingga kami menerbitkan sertifikat kesehatan Ikan dan produk perikanan domestik (KI-D12) dan melakukan pembebasan” ujar Lahmadi ketika telah melakukan pemeriksaan di dalam alat angkut. 

Kepala Karantina Maluku, Abdur Rohman, di tempat terpisah terus menyampaikan bahwa Karantina Maluku selalu hadir dan siap siaga dalam membantu menjaga sumber daya alam hasil perikanan dan menjaga kualitas ikan yang dikirim. Hal ini telah tertuang dalam UU 21/2019 tentang KHIT serta menjadi dasar seluruh petugas karantina dalam melakukan tindakan karantina di lapangan.

Lebih lanjut terkait dengan tuna, dalam gelaran Indonesia Tuna Investment and Business Forum Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) berupaya menggenjot investasi hulu hilir perikanan tuna di Indonesia. 

Pada event tersebut sekaligus akan dibahas pengelolaan sumberdaya tuna secara berkelanjutan, hingga teknologi hidrolisat protein ikan.

"Event ini rangkaian kegiatan Tahun Tuna, yang ditujuannya untuk meningkatkan geliat investasi perikanan tuna dari hulu hingga hilirnya," ungkap Sekretaris Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud.

Peluang usaha untuk komoditas tuna menurutnya terbuka lebar seiring trend positif perdagangan tuna cakalang tongkol (TCT) di pasar global sejak beberapa tahun terakhir. 

Nilai perdagangan komoditas TCT secara global terus meningkat dari USD14,37 miliar di tahun 2017 jadi USD16,81 miliar di tahun 2022. "Artinya permintaannya terus meningkat," beber Machmud.

Indonesia termasuk negara yang meraup untung dari peningkatan permintaan tuna dunia. Berdasarkan data ITC Trademap, nilai ekspor tuna cakalang tongkol (TCT) Indonesia sebesar USD0,66 miliar di tahun 2017, naik menjadi USD,096 miliar di tahun 2022. 

Dibanding negara eksportir TCT lainnya, tren pertumbuhan year on year (YoY) Indonesia termasuk tinggi dengan persentase sebesar 29,3%.

Machmud optimistis nilai ekspor tuna masih akan terus meningkat, seiring keberhasilan KKP menyelesaikan perundingan penurunan tarif tuna olahan menjadi 0% ke pasar Jepang melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Hasil perundingan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan pada akhir tahun 2024.

"Peluang besar dan potensinya ada, karenanya kita perlu bergerak bersama untuk mengoptimalkan komoditas tuna," terang Machmud.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), KKP Budi Sulistiyo mengakui tuna merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik, jadi tentu harus berkelanjutan agar bisa dinikmati oleh generasi saat ini dan masa depan.

Budi pun mengatakan KKP telah menggandeng Marine Stewardship Council (MSC), yaitu organisasi non-pemerintah yang turut mendorong pasar produk seafood berkelanjutan, terutama tuna. Salah satu poin yang disinergikan adalah sertifikasi MSC untuk memastikan keberlanjutan stok dan dampak ekosistem yang minimum, serta sertifikasi chain of custody (CoC) untuk memastikan dan menelusuri produk bersertifikasi berasal dari sumber perikanan berkelanjutan.

"Sertifikasi CoC bisa dipenuhi unit pengolah ikan (UPI) jika mereka mengimplementasikan STELINA atau sistem ketertelusuran dan logistik ikan nasional," tutur Budi.

Tak hanya itu, Budi menegaskan komitmen KKP dalam memasarkan produk tuna berkelanjutan. Seperti saat berpartisipasi dalam Seafood Expo North America (SENA) 2024 di Amerika Serikat dan Seafood Expo Global (SEG) 2024 di Spanyol, produk tuna yang dipamerkan telah tersertifikasi dan mengimplementasikan prinsip ketertelusuran dan keberkelanjutan.

Hasilnya, pengunjung SENA terpikat dengan tuna Indonesia yang ditunjukkan dengan capaian nilai transaksi potensial tuna sebesar 50,45% atau USD29,50 juta dari total nilai USD58,47 juta selama SENA 2024. Adapun di SEG nilai potensial transaksi tuna sebesar 21,62% atau USD13,79 juta dari total nilai USD63,8 juta.

 

 

BERITA TERKAIT

Terumbu Karang Dioptimalkan untuk Penukaran Utang

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) manfaatkan penukaran utang untuk konservasi laut atau Debt for Nature Swap to…

Perkuat Ekosistem Gim Nasional Agar Dapat Bersaing

NERACA Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem gim nasional agar dapat bersaing dengan  gim dari luar negeri. Untuk itu,…

Koperasi Bangun Ekonomi Mikro dan Kecil

NERACA Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Koperasi Nasional Ke-77, Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) menyerahkan secara simbolis Akta Badan…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Terumbu Karang Dioptimalkan untuk Penukaran Utang

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) manfaatkan penukaran utang untuk konservasi laut atau Debt for Nature Swap to…

Perkuat Ekosistem Gim Nasional Agar Dapat Bersaing

NERACA Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem gim nasional agar dapat bersaing dengan  gim dari luar negeri. Untuk itu,…

Koperasi Bangun Ekonomi Mikro dan Kecil

NERACA Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Koperasi Nasional Ke-77, Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) menyerahkan secara simbolis Akta Badan…