Mendorong Ekspor Melalui Pelatihan Ikan Rainbow

 NERACA

Jakarta – Pandemi Covid-19 tak terelakkan berdampak pada perlambatan ekonomi global termasuk Indonesia. Kendati demikian, bisnis ikan hias tengah mengalami peningkatan. Tak hanya menjadi primadona di dalam negeri, permintaan eskpor terhadap ikan hias pun cukup tinggi.

Menangkap peluang ini, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) menyelenggarakan “Pelatihan Membenihkan dan Membesarkan Ikan Rainbow.”

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengungkapkan, pelatihan ini dilaksanakan sejalan dengan program pemerintah yang tengah mendorong tumbuhnya UMKM-UMKM baru. Pasalnya, pembatasan gerak dan aktivitas sosial dalam masa pandemi mengakibatkan banyak perusahaan harus merumahkan pekerjanya.

“Tumbuhnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) dinilai dapat berkontribusi besar memulihkan perekonomian Indonesia,” tutur  Sjarief.

Menurut Sjarief ikan rainbow (Glossolepis incisus) merupakan endemik perairan tawar tanah Papua. Ikan ini banyak ditemui di Danau Ayamaru dan Danau Sentani serta rawa-rawa berair jernih. Total terdapat 20 jenis ikan rainbow di Indonesia. Berukuran paling panjang sekitar 15 cm, ikan rainbow berbentuk pipih dan memiliki mulut unik menyerupai tabung. Ikan ini tidak agresif sehingga dapat disandingkan dengan ikan hias lainnya seperti botia, molly, dan guffy.

“Ikan rainbow cukup diminati di kalangan hobiis. Sesuai namanya, ikan ini memiliki warna tubuh yang indah seperti pelangi dan tubuh yang mungil. Dengan warna-warni yang mencolok, ikan ini banyak diminati sebagai ikan hias,” jelas pengurus P2MKP Mina Mulya Didi Supendi selaku instruktur pelatihan.

Bahkan, kata Didi atau pria yang aktif sebagai supplier bagi para eksportir dalam beberapa tahun terakhir ini mengungkapkan bahwa hingga saat ini dirinya belum mampu memenuhi permintaan pasar. Amerika Serikat, Eropa, Australia, Jepang, dan Korea menjadi beberapa negara peminat ikan rainbow dari Indonesia. Hal ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk membuka usaha budidaya.

 “Ikan rainbow merupakan ikan asli dari negara kita. Peluangnya masih sangat besar untuk kita budidayakan dan pasarkan. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” ucap Didi.

Didi menuturkan, pembesaran ikan rainbow dapat dikatakan gampang-gampang susah. Meskipun begitu, bukan berarti kegiatan ini tidak mungkin dilakukan. “Kuncinya adalah ketelitian dan taat aturan pada proses budidaya,” imbuh Didi.

Lebih dari itu, Didi juga telah bersedia berbagi ilmu dengan masyarakat luas. Sebagai informasi, P2MKP merupakan kelompok pembelajaran binaan BRSDM yang terdiri atas para pelaku usaha kelautan dan perikanan yang telah sukses dalam menjalankan bisnisnya.

“Semoga kesuksesan Pak Didi dalam membudidayakan berbagai jenis ikan hias ini, khususnya rainbow fish dapat ditularkan kepada seluruh peserta,” ungkap Didi.

Melihat hal tersebut, Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati berharap, pelatihan yang diselenggarakan hari ini bisa memberikan inspirasi usaha baru bagi masyarakat, khususnya yang telah dan berniat untuk menekuni usaha ikan hias. Menurutnya, pelatihan ini bukan sekadar pemaparan langkah-langkah membenihkan dan membesarkan ikan hias rainbow. Melainkan juga mengasah kemampuan masyarakat untuk melihat peluang bisnis yang ada di sekitar.

“Di tengah tingginya minat terhadap ikan hias, saya harap masyarakat bisa memanfaatkan peluang usaha yang ada untuk membantu perekonomian keluarga,” terang Lilly.

 Plt. Kepala BP3 Medan Simparta Br Sitepu mengungkapkan, pelatihan yang dilakukan secara daring ini mendapat antusiasme dari masyarakat luas. Sebanyak 500 peserta dengan beragam profesi dari seluruh provinsi di Indonesia mengikuti jalannya kegiatan. Beberapa di antaranya yakni dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

Ibnu Hasani, salah seorang peserta asal Batang, Jawa Tengah, menyatakan bahwa pelatihan ini membuatnya dapat memahami cara membudidayakan ikan rainbow secara mendalam.

“Mulai dari pemijahan, pembenihan, perawatan larva dan telur, pemberian pakan yang baik dan tepat, pencegahan dan pengobatan penyakit, hingga peluang pasar yang ada,” ucap Ibnu.

 Adapun peserta lainnya asal Jombang, Jawa Timur, Hersi Retnowati, menyatakan bahwa dirinya akan mempratikkan langsung hasil pelatihan ini. Ia akan memanfaatkan kolam-kolam bekas lele miliknya yang kini tengah kosong untuk berbudidaya ikan rainbow. Ia berharap, KKP terus memberikan konsultasi berkelanjutan ke depannya bagi para peserta.

 

BERITA TERKAIT

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan 54,9 Ton Ikan Patin

NERACA Jakarta - Penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet, senilai Rp2,7 miliar berhasil digagalkan. Hal tersebut bermula dari pemantauan jajaran…

Buah Lokal Menggerakkan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Sebagai salah satu langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah meluncurkan Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5. Gelaran ini…

PEN Harus Efektif dan Tepat Sasaran

NERACA Yogyakarta - Dampak dari wabah Covid-19 memang begitu dahsyat menerpa para pelaku usaha. Tak terkecuali, bagi para pedagang Pasar…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan 54,9 Ton Ikan Patin

NERACA Jakarta - Penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet, senilai Rp2,7 miliar berhasil digagalkan. Hal tersebut bermula dari pemantauan jajaran…

Buah Lokal Menggerakkan Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta - Sebagai salah satu langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah meluncurkan Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5. Gelaran ini…

PEN Harus Efektif dan Tepat Sasaran

NERACA Yogyakarta - Dampak dari wabah Covid-19 memang begitu dahsyat menerpa para pelaku usaha. Tak terkecuali, bagi para pedagang Pasar…