Dari Shipyard ke Graveyard

Oleh: Siswanto Rusdi

Direktur The National Maritime Institute (Namarin)

 

Shipyard atau galangan kapal adalah fasilitas di pinggir pantai/sungai tempat dibangunnya kapal. Sering kata ini dipertukarkan dengan kata dockyard yang mengandung makna sama. Sementara graveyard artinya kuburan alias pemakaman. Yang jadi masalah, banyak shipyard sekarang berubah menjadi graveyard. Tulisan ini akan mendedah mengapa situasi tersebut sampai berlaku.

Berubahnya galangan menjadi kuburan karena aktivitasnya terhenti sama sekali sehingga tidak ada pilihan bagi pemiliknya selain menutupnya. Akhirnya yang tertinggal hanya sepi seperti pemakaman. Menurut data, jumlah galangan dunia yang ditutup karena melorotnya proyek pembangunan kapal baru atau new building sejak 2013 berjumlah 240 unit dengan total kapasitas 16 juta combined gross tonnage (CGT). Diperkirakan lebih dari 200 shipyard kembali akan ditutup dalam beberapa bulan ke depan hingga tahun-tahun berikutnya.

Data yang dihimpun oleh Danish Ship Finance mengungkapkan, saat ini, total kapasitas galangan dunia sebesar 56 juta CGT yang tersebar di 281 shipyard di berbagai belahan bumi. Diperkirakan, proses penutupan yang sudah, masih dan akan berjalan hanya menyisakan sekitar 64 galangan kelak. Kelompok ini merupakan galangan besar pemain “divisi utama” yang menguasai lebih dari 75 persen order new building global.

Sisa 271 galangan merupakan pemain “divisi dua” dan akan segera menjadi pemakaman karena sudah tidak ada order lagi. Pada 2021, sekitar 106 galangan dari kluster ini yang berkapasitas total 16 juta CGT diprediksi tidak akan punya order lagi. Lebih jauh, sebanyak 114 unit (dari 217 galangan) dengan total kapasitas mencapai 7,5 juta CGT, tengah berupaya menyelesaikan oder terakhirnya. Dari jumlah ini, sekitar 45 unit merupakan galangan Jepang.

Bagaimana dengan kondisi galangan di Indonesia? Kondisinya setali tiga uang. Ihwal keadaan yang mengenaskan ini sudah menggelayuti sekitar 250 galangan di Tanah Air sejak waktu yang cukup lama. Kondisi mereka sedikit membaik pada periode 2015 hingga 2017 saat pemerintah memesan berbagai macam kapal untuk beragam keperluan.

Data Asosiasi Galangan Nasional (IPERINDO) mengungkapkan, dalam kurun tersebut, sebanyak 100 unit kapal tipe coaster dipesan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Kapal-kapal ini merupakan bagian dari program tol laut pemerintah dan semuanya kini sudah melaut. Instansi ini juga memesan 10 unit kapal navigasi dan 73 unit kapal patrol.

Setelah 2015-2017 tidak terdengar, paling tidak oleh saya, pemerintah memesan kapal kepada galangan nasional dalam jumlah yang lumayan banyak. Galangan akhirnya lebih banyak menerima pekerjaan reparasi/docking. Lumayanlah untuk bertahan hidup. Pasalnya, keuntungan pekerjaan reparasi tidak sebesar order new building dari sisi finansial. Kalau komposisi bisnis galangan nasional seperti ini terus dalam waktu ke depan, bisa-bisa galangan domestik berubah menjadi pemakaman. Dari shipyard menuju graveyard. Semoga tidak.

BERITA TERKAIT

Uang Lebaran

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lebaran kali ini membuat semua pelaku ekonomi bisnis…

Satwa dan Manajemen Usaha

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan   Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia…

Kapal Penumpang vs New Normal

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Sektor usaha pelayaran penumpang atau cruise line diperkirakan akan…

BERITA LAINNYA DI

Uang Lebaran

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lebaran kali ini membuat semua pelaku ekonomi bisnis…

Satwa dan Manajemen Usaha

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan   Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia…

Kapal Penumpang vs New Normal

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Sektor usaha pelayaran penumpang atau cruise line diperkirakan akan…