Rusia Berencana Naikkan Tarif Pajak CPO Indonesia 20 Persen - Perdagangan Komoditas

NERACA

Jakarta – Pemerintah Rusia berencana menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang masuk dari Indonesia sebesar 20 persen, dari sebelumnya 10 persen.

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Wahid Supriyadi, mengaku kenaikan pajak ini dipicu oleh adanya kesalahpahaman terkait minyak sawit yang dianggap tidak sehat. Oleh karena itu, Indonesia harus berupaya untuk menegosiasikan rencana kebijakan ini dengan Pemerintah Rusia.

"Kami bisa membuktikan bahwa minyak sawit itu aman dan sehat dikonsumsi. Saya pikir ini langkah yang sedikit diskriminatif. Kami harus menegosiasikan dengan Pemerintah Rusia," kata Dubes Wahid pada rangkaian kegiatan Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Moskow, Sabtu (3/8), sebagaimana disalin dari laman Antara.

Dubes Wahid berharap dengan rencana kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia, kenaikan tarif pajak ini dapat dibatalkan dan lebih pada strategi meningkatkan perdagangan minyak sawit itu sendiri.

Dalam kesempatan sama, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga membenarkan bahwa wacana kenaikan tarif pajak ini sudah diketahui oleh kalangan pengusaha. "Kenaikan tarif pajak 20 persen ini harus segera dilobi oleh Pemerintah Indonesia ke Rusia, apa justifikasi dari kenaikan tersebut," kata Sahat.

Ia berharap Presiden Joko Widodo dapat menegosiasikan hal itu saat Presiden Vladimir Putin melakukan kunjungan kerja tingkat tinggi ke Indonesia yang dijadwalkan pada tahun ini. Hal itu berkaca pada dua tahun lalu saat pemerintah melobi Rusia terkait rencana kenaikan level peroxide hingga 1 persen. Namun rencana tersebut akhirnya dapat dibatalkan setelah negosiasi kedua negara.

Meski demikian, Sahat mengaku kalangan pengusaha tidak terlalu khawatir dengan rencana kebijakan ini, apalagi Rusia cukup besar mengimpor CPO Indonesia sebesar 1 juta ton dengan nilai perdagangan mencapai 10 miliar dolar AS pada 2018. CPO Indonesia mampu memenuhi 74 persen kebutuhan konsumsi negara tersebut.

Jika kenaikan PPN 20 persen resmi diberlakukan, harga CPO di Rusia akan berada di kisaran 810 dolar AS per ton, atau lebih rendah dari harga minyak nabati jenis rapeseed sebesar 820 dolar AS per ton. "Mereka pola makannya sudah agak berubah, sudah mulai menggoreng, minyak sawit adalah yang paling cocok karena temperatur kita lebih stabil," katanya.

Wakil ketua kamar dagang Uni Eropa (Eurocham) di Indonesia, Wichard Von Harrach, mengatakan pencekalan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil CPO) di Eropa harusnya dijawab pelaku industri dengan pembuktian kalau usaha sawit tidak merusak lingkungan. "Ini marketing individu kepada individu. Pencekalan itu soal selera pasar," ujar Wichard.

Wichard mengerti kalau minyak kelapa sawit sangat penting bagi Indonesia. "Kami juga paham adanya ketidakberlangsungan usaha merupakan kunci dari pemain industri minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit juga penting untuk produk Eropa," ujarnya.

Menurut dia , citra minyak kelapa sawit harus dikomunikasikan kepada konsumen di Uni Eropa. Menurut Wichard, pelaku industri kelapa sawit harus bisa menjelaskan kepada konsumen eropa tentang apa yang mereka lakukan terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

"Tidak bisa memaksa pemerintah di Eropa kalau orangnya harus pakai produk kamu. Kami tahu minyak kelapa sawit itu produk fantastis. Tapi kami harus melindungi lingkungan untuk anak-anak kita," ujar Wichard.

Wichard mengatakan efek dari keberlangsungan lingkungan akan membawa konsumen Eropa kembali membeli produk minyak kelapa sawit Indonesia. Pada 2018, nilai ekspor dan impor Indonesia ke Uni Eropa masing-masing sebesar USD17,1 miliar dan USD14,1 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa mencapai USD 31,2 miliar atau meningkat 8,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 (YoY).

Uni Eropa pun tercatat merupakan tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 bagi Indonesia. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa meningkat 4,59 persen dengan neraca perdagangan surplus bagi Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir. Sementara nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tercatat senilai USD3,2 miliar pada 2017.

Wichard menuturkan momentum pertumbuhan terebut perlu dijaga agar berkelanjutan. Pasalnya, Indonesia dihadapkan dengan tantangan persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Thailand yang saat ini lebih agresif menghadirkan investasi dari UE.

BERITA TERKAIT

Konsensus Kejar Pajak

Pentingnya pajak sebagai penerimaan Negara, terungkap saat sejumlah menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G20 pada awal Juni 2019…

Neraca Perdagangan Sumatera Selatan Surplus Juni 2019

Neraca Perdagangan Sumatera Selatan Surplus Juni 2019   NERACA Palembang - Neraca perdagangan Provinsi Sumatera Selatan mencatat surplus sebesar 251,78 juta…

Wakil Presiden - Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik

Jusuf Kalla Wakil Presiden Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik  Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tantangan yang…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Paviliun di World Expo Diminta Tampil Futuristik

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan Paviliun Indonesia dalam World Expo Dubai…

Difasilitasi, IKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar AS

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin aktif memacu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas…

Bantu UMKM Go Online - Ralali Gerakkan Ratusan Ribu Agen

NERACA Jakarta - Hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Nasional yang jatuh setiap 12 Agustus, selalu dirayakan pemerintah baik pusat…