Membentengi Diri Dengan Iman

Hariyanto, Direktur PT Eracipta Intanpersada

Sabtu, 21/01/2012

Live is like a wheel (Hidup seperti roda, terkadang kita dibawah terkadang diatas). Berbagai masalah kerap bermunculan. Dari sinilah pola fikir kita akan berubah dalam hal ini bagaimana mengatasi dan menghadapi masalah yang muncul di depan mata. Terkadang penyelesaian masalah kita temukan saat introspeksi diri. Inilah yang dialami oleh Hariyanto, Direktur PT Eracipta Intanpersada, perusahaan yang bergerak di bidang Mechanical & Electrical Contractors.

Lulus dari kuliah jurusan teknik sipil IKIP Malang, ia bekerja di perusahaan kontraktor sesuai bidang ilmu yang dipelajarinya saat bangku kuliah. Saat pertama bekerja inilah, berbagai ilmu dipelajarinya dari ilmu gambar, estimasi, purchasing, marketing hingga project manager. Semuanya dilakukan dengan rencana mendirikan usaha sendiri. Sehingga pada akhirnya Hariyanto bisa mendesain sendiri ilmu mechanical & electrical.

Sebelum krisis melanda berbagai negara di dunia tahun 1997-1998, dia bersama beberapa teman sudah memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang sama. Saat krismon menghantam, Hariyanto melihat kondisi perekonomian demikian, berinisiatif meng-efisienkan dirinya dari perusahaan tersebut. “Jadi saat sudah mempelajari semua ilmu tersebut, saya keluar dan waktunya tepat karena ada krisis. Perusahaan terbebani dengan banyaknya karyawan, makanya saya pamit dan minta sama manajemen untuk di-‘efisiensi’ saja, “ungkap ayah tiga anak ini.

Dengan uang pesangon yang diterima, ia berinisiatif membuka perusahaan sendiri. Proyek pertama yang dia dapatkan adalah, membangun rumah untuk salah satu kerabat keluarga Cendana. Kontrak demi kontrak proyek kemudian didapatkannya, semua itu didapatkannya berdasarkan pengamatan juga. Saat krisis, bisnis yang tetap berjalan dan hidup adalah kuliner. Tempat makan seperti Wendy’s dan Pizza Hut itulah yang kemudian menjadi kliennya.

Berbagai keuntungan diraihnya. Semuanya itu membuatnya terlena, sehingga salah langkah. Semua harta benda miliknya ludes terjual. Berbagai kesulitan keluarga Hariyanto hadapi. Mereka pernah mengalami situasi yang sangat kosong, secara finansial.

Pada tahun 2006, Hariyanto memutuskan untuk ‘Uzlah’ (cooling down). Melakukan perenungan spiritual yang dalam, ibarat seperti Rasulullah melakukan perenungan di dalam gua Hira. Dengan kondisi yang benar-benar kosong, dia bersama istri mulai lagi membangun usahanya dari awal. Perusahaan miliknya yang sempat ‘mati suri’, di hidupkan lagi.

Hingga saat ini, kesuksesan dia alami kembali seperti awal dengan tambahan semakin kuatnya segi spiritual diri. Berbagai proyek kembali dia dapatkan. Kemudahan dalam hidup diraihnya kembali. Semua dia dapatkan dengan membentengi diri dengan iman.