Birokrat Dituding Sumber Masalah Lifting Minyak - DINILAI SIBUK URUS ANGGARAN NEGARA

Jakarta - Sulitnya mencapai target lifting bahan bakar minyak (BBM) diduga karena banyak birokrat yang "bermain" demi kepentingan para mafia minyak. Padahal target lifting minyak 2011 adalah 950.000 barel/hari. Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sudah mengakui berat mengejar target tersebut, karena hingga November 2011 baru mencapai 904.000 bph.

NERACA

Selain masalah lifting BBM, masalah lainnya adalah sejak 1998 belum pernah ada pembangunan kilang baru. Padahal Indonesia butuh minimal 3 kilang baru sampai 2015. Ini kemungkinan besar adanya sejumlah pihak yang menghambat rencana pembangunan kilang di Indonesia sehingga impor BBM terus jalan.

“Pasalnya, para birokrat yang bercokol mengurusi departemen itu semuanya bermental buruk. Intinya, mental birokrat ini harus terlebih dahulu diperbaiki, setelah itu baru revisi UU BP Migas,” kata Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara kepada Neraca, Kamis (15/12)

Menurut mantan anggota DPD itu, para birokrat lebih mementingkan menghabiskan anggaran ketimbang hasil yang didapat. ”Kalau sudah ada alokasi dana, komitmen, dan telah diserahkan kontraktor,”tegasnya

Selain itu Marwan menuding kegagalan pencapaian lifting BBM ini terjadi bertahun-tahun. Artinya ada yang salah dalam membuat target lifting minyak itu. “Kegagalan itu telah terjadi bertahun-tahun, maka dari itu harus segera diperbaiki, kalau tidak ya akan seperti ini terus,” ucapnya

Bahkan Marwan mendesak pejabat-pejabat yang memasang target inilah yang harus bertanggungjawab. “Mereka harus mendapat sanksi dong, masak tidak mau bertanggung jawab,” jelasnya.

Menurut Marwan, sanksi pencopotan jabatan harus diberikan kepada pejabat terkait, khususnya Kepala BP Migas. ”Di sini butuh sikap tegas presiden dalam menyikapi kegagalan ini,” tukasnya

Tak beda jauh dengan analis energi, Dirgo D Purbo mengakui proses perizinan terkait pembangunan kilang minyak serta panjangnya birokrasi instansi membuat tingginya cost produksi miyak dan gas nasional. “BP Migas hanya menjadi super visi saja bukannya operator. Malah perusahaan minyak cenderung hanya mempertahankan produksi saj. Ini karena tidak adanya kepastian hukum disini,” ujarnya kemarin.

Menurut Dirgo, sejak 1998 produksi minyak terus menurun sebesar 8% sampai 12% per tahun. Masalahnya produsen minyak dalam negeri hanya mampu memproduksi 900.000 barel. “Perlu ada revolusi birokrasi positif nasional untuk menyelamatkan produksi minyak dan gas nasional,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto menilai pola kerjasama goverenment to business tidak cocok diterapkan. Seharusnya business to business. “Selama pemerintah ke swasta yang melibatkan birokrasi, masalah tender penemuan sumur minyak ini tidak akan selesai,”paparnya.

Menurut Agung, kalau dari BUMN ke BUMN pasti akan lebih baik. Misalnya perusahaan asing tidak mau mengerjakaan eksplorasi minyak, BUMN bisa melaksanakannya. “Selama undang-undang yang mengatur tentang eksplorasi yang dilakukan swasta, maka masalah ini sulit diatasi,”ucapnya

Dia mengungkapkan, sebenarnya tender eksplorasi dilakukan tiap tahun, bahkan setahun dua kali. Sayangnya tk ditemukan sumur minyak baru. Kemungkinan ada beberapa masalah, pertama memang tidak dikerjakan eksplorasi, kedua sudah dieksplorasi tapi tidak ketemu sumur minyaknya.

Pasokan energi ini menjadi sangat penting bagi Indonesia, menurut Dekan FEUI Prof. Firmanzah Ph.D, seharusnya ekonomi dan energi berjalan beriringan, karena aktivitas ekonomi pasti akan menggunakan energi. “Kalau selama ini hanya konsentrasi pertumbuhan ekonomi yang harus digenjot, tapi tidak pernah mendiskusikan kebutuhan energi kita, maka bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat optimal,” ujarnya.

Saat ini, kata Firmanzah, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi membutuhkan kenaikan energi 1,84%, misal pertumbuhan ekonomi 6% maka kebutuhan energi sekitar hampir 11% pertumbuhan energi

Dia menambahkan terkait potensi energi nasional, menurut info yang dia dapatkan dari Bank of Japan, saat ini sedang banyak membiayai proyek geothermal disejumlah daerah. Proyek tersebut tidak hanya untuk membangun infrastruktur, tapi juga memikirkan mengenai energi konservatif karena kesadaran akan adanya kebutuhan energi selain minyak

Di tempat terpisah, Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan, dengan asumsi pertumbuhan permintaan BBM 4% per tahun dengan produksi BBM sebesar 677 ribu barel per hari, maka kebutuhan BBM di 2015 diperkirakan mencapai 1,294 juta barel per hari. Untuk mengatasi defisit BBM, Indonesia setidaknya membutuhkan 3 kilang baru di 2015. "Harapan kami, (kilang baru) ini bisa dipenuhi. Tetapi kita tahu tidak mudah membangun kilang," katanya di Jakarta, kemarin.

Biaya Besar

Evita memaparkan, kapasitas kilang domestik saat ini mencapai 1,157 juta barel per hari. Produksi BBM di 2010 mencapai 676 ribu barel per hari sementara kebutuhan BBM di 2010 mencapai 1,064 juta barel per hari. Maka terjadi defisit BBM di 2010 mencapai 388 ribu barel per hari atau 36%. Sementara di 2012, defisit BBM diperkirakan mencapai 617 ribu barel per hari atau 48%.

Menurut dia, Indonesia ingin memiliki kilang baru sejak 1998. Namun hingga kini tak juga terwujud karena biaya yang dibutuhkan cukup besar, sementara marjinnya kecil.

"Sejak tahun 1998 kita menginginkan refinery (kilang) baru, belum bisa terwujud. Kini kami upayakan untuk mendapatkan insentif dari Kementerian Keuangan," tambahnya.

Pemerintah meminta para pengusaha Indonesia dalam Kadin bisa membantu pembangunan kilang di Indonesia. Untuk kawasan Asia Pasifik, kilang terakhir kali dibangun di 1998. Khusus Indonesia, kilang yang usianya paling muda dan dapat memberikan keuntungan adalah Balongan yang dibangun tahun 1994. Sementara kilang-kilang lainnya, keuntungannya sangat kecil karena telah berumur tua lantaran dibangun tahun 1970-an.

Dirut Pertamina Karen Agustiawan sebelumnya mengatakan, Pertamina berambisi untuk menambah dua kilang di 2014, dalam rangka mengamankan pasokan BBM dalam negeri. Dua kilang yang bisa selesai dibangun pada tahun 2014 yaitu ekspansi kilang balongan dan unit Residual Fluid Catalytic Craker di Kilang IV Cilacap.iwan/munib/ahmad/novi/cahyo

Related posts