Menjaga Trust dan Quality - Direktur Utama PT Bangun Mega Pertiwi Irianto Tarigan

Neraca. Kiprahnya dalam mengawaki PT Bangun Mega Pertiwi, memang belum terlalu lama. Namun pengalamannya dibidang kelistrikan, tak lagi dipungkiri. Dia adalah Irianto Tarigan, mantan Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (APKABEL) periode tahun 2006-2009, yang kini memimpin PT Bangun Mega Pertiwi, sebuah perusahaan dibidang kontraktor dan trading dibidang kelistrikan di Indonesia.

Ditemui dikantornya dibilangan Kedoya, Jakarta Barat. Tarigan, akrab ia disapa, menuturkan harapannya dalam menahkodai perusahaan yang baru didirikan tahun 2009 lalu. “Di dada ini masih merah-putih,” ujarnya, “Karena itu kami ingin terus membangun bangsa dengan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki serta semaksimal memakai produk dalam negeri” jelas dia. Dan PT Bangun Mega Pertiwi (BMP), menjadi refleksi keinginan sejumlah alumnus pabrikan kabel untuk mendirikannya.

Perjalanan karir lulusan fakultas Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, dan alumni Magister Management PPM, Jakarta, memang sarat dengan dunia kelistrikan dengan bergabung pada PT Voksel Electric ditahun ’89 hingga menjabat sebagai Direktur PT Bangun Prima Semesta, anak perusahaan PT Voksel Electric, tahun 2007-2009, “Hidup itu harus dijalani dengan perhitungan,” ujar ayah seorang putra bernama Rian Ersada Tarigan, hasil pernikahannya dengan Riahta br Bangun.

Dengan perhitungan pula ia bersama sejumlah kolega seprofesi mendirikan PT Bangun Mega Pertiwi (BMP). Ia memandang, sejak 2007 perkembangan infrastruktur kelistrikan yang diawali proyek 10.000 MW tahap I merupakan momentum bergairahnya kembali industri kelistrikan. Ini ditandai dengan tumbuhnya pembangunan sektor kelistrikan dan tersedianya pekerjaan kelistrikan yang merata diseluruh daerah Indonesia, “Kami ingin menangkap peluang tersebut,” ungkapnya, terlebih mereka memiliki latarbelakang yang sangat memahami kelistrikan.

“Kita pun sepakat, untuk tetap komitmen dengan core business dibidang kontraktor dan trading dibidang kelistrikan,” jelasnya, dengan pangsa pasar PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT INDONESIA COMNETS PLUS (ICON+), anak perusahaan PT PLN dibidang telekomunikasi.

Dibidang trading, jelas Tarigan, BMP mengimport sejumlah peralatan untuk transmisi dan peralatan yang berhubungan dengan fiber optic, yang belum dapat diproduksi di Indonesia, “Bila equitment import tersebut sudah dapat dibuat di Indonesia, kami tentu tidak akan mengimportnya. Kami tidak ingin memukul industri dalam negeri,” tegasnya. Trading yang dilakukan BMP, juga akan menambah suppliers, sehingga PLN punya pilihan yang lebih banyak. Sedangkan disisi kontraktor, BMP fokus pada bidang transmisi dan gardu induk, dengan melakukan banyak pekerjaan dari PLN maupun ICON+.

PT ICON+ adalah perusahaan jasa provider telekomunikasi yang saat ini membangun jaringan on line PLN cabang dan ranting serta Gardu Induk (GI) di seluruh Indonesia, dan BMP merupakan salah satu mitra kerja PT ICON+ dibidang jasa penarikan kabel, dan turut andil dalam pembangunan jaringan backbone kabel fiber optik ADSS dan stringing kabel fiber optik figur 8, “Kami memiliki kemampuan dalam menangani fiber optic, yang memang membutuhkan keahlian khusus,” ungkapnya.

Pekerjaan pembangunan kelistrikan PT PLN seperti pembangkit, transmisi, gardu induk dan distribusi, dibiayai oleh dana PLN (APLN) dan dana APBN. Khusus untuk program listrik pedesaaan (Lis Des PLN), kata Tarigan, anggaran ditahun 2011 melonjak sangat besar, hingga 20x anggaran tahun 2010, berkisar antara Rp 60-150 miliar per wilayah, “Kita berharap agar ditahun 2012, anggaran program Lis Des PLN dapat sama atau melebihi realisasi tahun 2011,” terang dia.

Dengan variasi pekerjaan PLN yang demikian besar, hingga mencapai setiap level dari kontraktor, maka kontraktor menengah dan kecil dapat pula menikmati kue pembangunan yang dilakukan PLN, “Untuk proyek transmisi dan distribusi, dilakukan sejumlah kontraktor berskala besar, sedangkan proyek listrik pedesaan bisa dilakukan oleh kontraktor kelas menengah hingga kecil,” ujarnya.

Di dalam setiap kegiatan usaha kami, jelas Tarigan, ia ingin BMP dapat dipercaya (trust) oleh konsumen. “Sedangkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, quality (kualitas) merupakan komitmen yang kami pegang teguh, sehingga setelah suatu pekerjaan selesai, konsumen akan merasa sangat puas,” tegasnya.

“Khusus untuk proyek ICON+,” tambah Tarigan, ada kerinduan mengajak rekan-rekan di daerah untuk bersama kami mengerjakan proyek fiber optic di daerah mereka, “Hingga suatu saat nanti mereka dapat berdiri sendiri,” ungkapnya. Dan ia bersyukur, harapan itu sudah BMP lakukan, dalam pengerjaan proyek ICON+ saat penarikan kabel fiber optic di Aceh, Sumatera Utara, Sumbagsel dan Makasar.

“Disana kita mengajak kontraktor lokal untuk bersama mengerjakan proyek ICON+, ini sebagai wujud pemberdayaan kepada kontraktor local sekaligus mentransformasikan pengetahuan seputar pengerjaan fiber optic,” tuturnya bangga. Harus diakui, hanya sedikit kalangan yang mampu mengerjakan pekerjaan fiber optic yang memiliki spesifikasi khusus.

Ia pun menilai, bila sebenarnya ada keinginan untuk melebarkan sayap dengan mengerjakan pekerjaan selain PLN atau ICON+, namun ia juga tidak ingin pekerjaan yang terlalu banyak akan membuahkan hasil yang kurang maksimal. “Ini juga wujud dari keinginan kita untuk menjaga trust dan quality bagi konsumen kita,” ungkapnya.

Seperti halnya komitmen BMP pada customer, hubungan diantara karyawan maupun karyawan antara dan atasan pun didasarkan dengan trust. Dalam arti memberi tanggungjawab dan kepercayaan kepada karyawan untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. “Kami percayakan pekerjaan kepada karyawan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan hasil dari kepercayaan atas pekerjaan itu, akan muncul kualitas yang diharapkan, termasuk dalam hal ketepatan waktu penyelesaian proyek,” ungkapnya.

Kepada seluruh pekerja lapangan, staff dan direksi, ia pun berharap, dengan kondisi perusahaan yang baru tumbuh dan masih dalam skala kecil dari segi jumlah personil dan asset, agar senantiasa tetap berkomitmen memajukan perusahaan agar dapat terus berkembang dan mengambil peran ditengah pembangunan sektor kelistrikan di Indonesia yang dicintai, “Mari kita bersama memajukan perusahaan. Inilah perahu kita, mari kita kayuh bersama menuju pulau cita cita,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…

Pertamina-Rosneft Akan Bangun Kilang Minyak di Tuban

NERACA Jakarta – PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan energi Rusia, Rosneft Oil Company akan membangun sekaligus mengoperasikan kilang minyak yang…

Dekonsolidasi Positif Bagi Meikarta dan LPCK

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Lippo Cikarang Tbk mendekonsolidasi PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), pengembang proyek mega properti Meikarta…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…