“Tantangan Di Dunia Lelaki”

Neraca. Ada anggapan dunia gadget adalah dunianya lelaki. Namun, pada kenyataannya saat ini sudah banyak kaum hawa yang menekuni bidang ini. Salah satunya bisa kita sebut nama Merry T. Oetomo, Director Multimedia Systems, Business Software, IT Solution, Survey Systems, Office Furniture Datascrip. Bergabung di perusahaan ini ‘baru’ tujuh tahun yang lalu.

“Saya sebelumnya bergabung di Sinar Mas, bisnis software, kemudian pernah di Singapur. Jadi cukup banyaklah pengalaman saya sebelum gabung di datascrip, “ ungkapnya.

Bergabung di dunia kaum Adam ini, bukanlah hal yang baru baginya. Hal ini dikarenakan dia lulus dari jurusan elektro, yang berteman dengan kebanyakan lelaki. Bahkan diakuinya, teman wanitanya malah lebih sedikit. Berteman dengan lelaki lebih enak daripada dengan wanita yang suka bergosip, menurutnya. Terlanjur mencemplungkan diri di dunia lelaki, membuatnya ikut traveling, maupun seminar didunia ini.

Selain itu, ilmu elektro yang dipelajarinya saat di bangku kuliah lebih kepada arus lemah. Lebih mempelajari komputer, telekomunikasi, dan dunia elektronika. Jadi waktu itu dikelasnya jumlah perempuannya lebih banyak, jika di bandingkan ilmu elektronika arus kuat.

Ilmu yang dipelajarinya salah satunya komputer secara umum elektronik, ”Kita harus mempunyai dasar-dasar elektronika sebelum terjun kedunia komputer. Kenapa komponen itu bisa bekerja, kenapa listrik bisa mengalir. Saya selalu mempelajari dasar-dasar elektronika sebelum terjun kedunia komputer. Karena itu teknologi yang tidak bisa kita tinggalin, apa sih didunia kita yang bukan elektronik sekarang?” lanjutnya.

Selain itu, ibu satu anak ini meyakini teknologi tidak bisa kita tinggali. Ketika bangun tidur semua ada barang-barang elektronik sekitar kita. Bahkan nantinya akan ada tekonologi baru seperti tablet yang menempel di cermin kamar mandi, jadi saat menggosok gigi tetap bisa menerima informasi.

Dasar perkembangan teknologi itulah, yang juga menjadi dasar ibu satu anak ini. Meskipun begitu, dia mengaku tidak tomboy. Dia masih senang dengan fashion, maupun art. Diakuinya juga, bahwa dia bukan tipe orang yang konservatif. Oleh karena itu, saat bekerja dia tidak hanya menggunakan otak kiri saja yang digunakan, tetapi otak kanan juga. Diyakininya kehidupan bisa balance.

”Bila produk komputer misalnya, bisa kita ketahui ada salahnya dan benarnya. Jika produknya ada kekurangannya, tidak bakal lama bertahan. Bisa kita bilang salah, didunia logika memang ada benar ada salahnya. Hanya saja, manusia itu bukan robot. Kadang sekarang begini, besok bilang begitu. Itu cara kita memahami, terutama klien. Kalau kita sudah mengenali, maka bila bisa diajak bekerjasama”, papar penyuka grup musik Aerosmith dan Bon Jovi ini.

Otak bagian kanan sendiri, diakuinya sangat diperlukan di dunia IT.Terlebih lagi kepada bagian furniture, yang juga merupakan tugasnya. Bagian ini lebih kepada lifestyle. Jaman dulu furniture dibuat sangat kuat mengikuti pola dari Jerman. Bila dilihat, kurang bagus tampilannya tetapi bila telah duduk terasa enak, nyaman, dan tidak mau berdiri lagi. Berbeda dengan Italic mengutamakan tampilan yang beautiful, cantik, kenyamanan nomor dua. Jadi tidak ada salah dan benar, tetapi dunia ini soal rasa. Bila memang cocok maka silahkan, ini soal selera.

Bagi penyuka hobi diving ini, dunia IT itu komputer sangat besar sekali tantangannya. Dunia IT itu luas sekali, bahkan kini, ada digital paint untuk menulis, melukis seperti yang dilakukan oleh pembuat film animasi di AS. Bila kita lihat 30 tahun lalu tanpa komputer, itu benar-benar tersasa perbedaannya. Contohnya, waktu dulu saat membuat lay out, betapa sulit tanpa komputer dan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk membuat itu.

Penyuka hobi diving ini, serasa mendapatkan enlightenment baru saat melakukannya. Ia lalu menyadari kenapa dari dulu-dulu lebih suka shoping ke mall, padahal ternyata diving dibawah laut mempunyai dunia sendiri. Diakuinya pernah melakukan penyelaman diBali dan Bunaken. ”Di kegelapan bawah laut itulah, Saya bisa mensyukuri anugerah Tuhan, ” ujarnya sembari tersenyum dan mengakhiri bincang-bincang.

BERITA TERKAIT

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030 NERACA Jakarta - Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Emil Salim mengatakan bahwa menjelang…

Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Lingkungan di 2030

      NERACA   Jakarta - Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Emil Salim mengatakan bahwa menjelang tahun…

Negara Asia Pasifik Siapkan Rencana Aksi Bersama Industri 4.0 - Terkait Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia bersama United Nation Industrial Development Organization (UNIDO) akan menyelenggarakan Konferensi Regional Pembangunan Industri ke-1…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…