IHSG Rontok Picu Kepanikan Investor

DAMPAK MEROSOTNYA KINERJA EMITEN

Rabu, 29/04/2015

NERACA

Jakarta – Minimnya sentimen positif dari internal, seperti lesunya performance kinerja keuangan emiten di kuartal pertama tahun ini menjadi sikap pesimistis investor untuk mengkoleksi saham dan justrus sebaliknya melakukan aksi jual. Alhasil, sejak awal pekan, lambat tapi pasti laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus tertekan.

Menurut Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah, sentimen negatif datang dari dalam negeri, investor cukup pesimis terhadap laba perusahaan kuartal I-2015 yang dikhawatirkan mencatatkan perlambatan. Dari eksternal, Alfiansyah menilai investor juga sedang menunggu rapat dewan pimpinan bank sentral AS (The Fed) yang dimulai pada Selasa (28/4) waktu setempat, diharapkan dapat memberikan petunjuk kepastian The Fed kapan menaikkan suku bunganya.

Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga sedang khawatir terhadap Yunani yang mendekati kebangkrutan yang kemungkinan tidak akan mendapat dana bantuan sebelum menyetujui reformasi ekonomi penuh, ”Sentimen eksternal dan internal yang terbilang kurang mendukung bagi pasar saham Indonesia, diperkirakan dapat kembali memicu IHSG dalam bayang tekanan pada perdagangan saham berikutnya,”ujarnya di Jakarta, Selasa (28/4).

Hal senada juga disampaikan Chieft Economist BRI Anggoto Abimanyu, bahwa tekanan terhadap indeks BEI dipengaruhi kinerja emiten yang cenderung mengalami penurunan pada kuartal I-2015 ini. Selain itu, menurut dia, kondisi indeks BEI pada tahun lalu yang bergerak cukup tinggi dan dilanjutkan pada tahun ini karena ekspektasi pelaku pasar terhadap pembangunan infrastruktur domestik yang dipercaya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia belum terpenuhi, sehingga memicu aksi lepas saham, ”Kalau infrastruktur tidak terpenuhi, maka akan berdampak negatif ke pasar,” ujarnya.

Menurut Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, aksi panic selling membawa IHSG terjerembab ke zona merah dan mengembalikan posisinya ke periode Januari 2015. Di sisi lain, pelemahan yang terjadi telah menutup lunas utang gap 5.342-5.372. Kemarin laju IHSG di luar perkiraan, di mana mengalami penurunan signifikan. Maraknya aksi jual membuat IHSG terhempas jauh dari sehari sebelumnya,”Padahal, kami masih berharap imbas positif dari bursa saham global dapat membuat laju IHSG dapat membaik. Namun apa daya, volume jual yang lebih mendominasi membuat laju IHSG anjlok," jelas Reza.

Bagi analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya, meski masih diwarnai aksi jual saham, namun pelemahan indeks BEI sudah mulai terbatas menyusul sebagian investor yang sudah mulai melakukan aksi beli,”Investor asing yang masih dalam posisi lepas saham menjadi salah satu faktor penahan IHSG BEI untuk bergerak menguat,”tuturnya.

Dia menambahkan, walau masih diwarnai oleh capital outflow, potensi IHSG untuk mengalami kenaikan lanjutan masih terbuka cukup besar menuju level 5.389 poin. Oleh karena itu, dirinya menyakini, kondisi IHSG dalam jangka panjang masih berada dalam jalur tren menguat. Menurutnya, beberapa saham yang dapat dikoleksi pada perdagangan berikutnya diantaranya, , PP London Sumatra Indonesia (LSIP), Adhia Karya (ADHI), Unilever (UNVR), Gudang Garam (GGRM).

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan, setelah IHSG BEI mengalami koreksi yang cukup dalam, pelaku pasar direkomendasikan untuk kembali melakukan akumulasi beli pada beberapa saham pilihan berkapitalisasi besar secara selektif. Dia mengemukakan bahwa beberapa saham yang dapat diperhatikan diantaranya Bumi Serpong Damai (BSDE), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telekomunikasi Indonesia (TLKM).

Mengakhiri perdagangan kemarin sore, IHSG ditutup melemah 3,28 poin atau 0,06% menjadi 5.242,15. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 1,99 poin (0,22%) ke level 908,65. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.075 ke Rp 53.075, Mitra Keluarga (MIKA) naik Rp 350 ke Rp 24.650, Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 250 ke Rp 6.500, dan Mayora (MYOR) naik Rp 250 ke Rp 24.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari Dept. Store (LPPF) turun Rp 950 ke Rp 17.050, Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) turun Rp 500 ke Rp 7.200, United Tractor (UNTR) turun Rp 500 ke Rp 22.200.

Tercatat transaksi perdagangan saham di BEI sebanyak 226.213 kali dengan volume mencapai 3,72 miliar lembar saham senilai Rp5,87 triliun. Efek yang mengalami kenaikan 142 saham, yang melemah 176 saham, dan yang tidak bergerak nilainya atau stagnan 84 saham. bani