Fokus Menggarapa Pasar Swasta - Listia Ivonnty, Marketing Manager Hotel Cipta

Setiap orang pasti punya plan A dan plan B, dimana kedua strategi tersebut disiapkan jika strategi yang satunya gagal. Demikian pula dengan Hotel Cipta, larangan PNS menggelar rapat di hotel tak membuat surut semangat para marketingnya.

Walhasil, dalam hitungan beberapa bulan saja setelah kebijakan tersebut diterapkan, kini hotel Cipta yang merupakan bintang 3 mampu tegak berdiri menyapa para konsumennya. Karena sedari awal munculnya kebijakan tersebut Listia Ivonnty beserta rekan-rekannya di hotel Cipta bahu-membahu mengalihkan bidikan. Tentu dengan tidak membidik pasar dari kalangan pemerintahan.

“Tentu berpengaruh pada bisnis hotel, tetapi tidak lama, Januari memang ada imbasnya, tetapi tetap saja kalangan pemerintahan ada menggunakan kamar. Hanya meeting room-nya saja di kantor mereka. Tetapi, sebelumnya kita ubah haluan untuk garap kalangan swasta. Marketing harus gerak ke swasta. Dengan jualan kamar, seminar-seminr, training, paket wedding, dan itu cukup berhasil,” kata dia.

Ya, Hotel yang belum lama ini melakukan grand opening pada 5 Maret kemarin adalah hotel terbaru garapan PT Multikreasi Ciptasarana. Sebelumnya dua hotel sudah diluncurkan, seperti Cipta Wahid Hasyim. Cipta Mampang, dan yang ketiga adalah hotel ini, Cipta Pancoran.

“Nanti mungkin akan ada lagi hotel baru lagi dari Cipta, tetapi ini aja baru berdiri, lihat dulu lah bagaimana prospeknya. Saat ini kan persaingan hotel makin berat. Nanti lah kita ke sana, tidak dalam waktu dekat,” ujar Listia.

Disamping semua itu, Listia punya target pribadinya, yaitu meningkatkan tingkat occupation hotel hingga 100%. Dalam marketing perhotelan itulah capaian prestasi tertinggi. Dan itu, tidak bisa dilakukannnya seorang diri, tetapi dengan bersinergi dengan desk lainnya. “Semua itu harus bekerja keras, mulai dari front office, food and beverage dan juga pihak lain,” jelas dia.

Dan dengan usaha yang dilakukan Listia berserta rekan-rekannya, bukan tidak mungkin hotel Cipta akan punya lebih banyak pelanggan setia. Kalau sudah begitu, tagline hotel pun “Cipta hotel your home away from home” akan terlaksana.

“Kita punya pelanggan setia, bahkan ada konsumen yang long stay di sini selama 3 bulan, mereka sudah akrab dengan karyawan di sini. Menurut mereka di sini berbeda, keramahan staff sangat terasa, terasa di rumah sendiri katanya. Di sini biasanya karyawan memanggil dengan nama kepada tamu, umpamanya dengan mengucapkan ‘Selamat siang pak Andi’,” ujar dia.

Basic Perhotelan

Sebagai marketing sebuah hotel, boleh dibilang hal baru bagi Listia, karena sebelumnya dia bekerja bukan di sektor yang sama alias sektor perhotelan. Karirnya pertama dimulai dari PT Radita Auto Prima Jakarta (Automotive), setelah itu dia terjun ke sektor lainnya yakni di sektor perbankan, kali ini di Citibank, Jakarta.

“Abis itu baru ke JCI Kimberley Jakarta, lalu ke private business, baru masuk bisnis hotel di hotel Cipta,” kenang dia.

Memang wanita lulusan Universitas Atmajaya 2004 silam itu, mengakui kalau dirinya tidak memiliki basic perhotelan sadari awal, tetapi dengan belajar dan belajar, dia mulai menemui celah untuk sukses. “Setelah dari Atmajaya pun saya ambil kuliah lagi di finance, ini untuk melengkapi yang tidak kita tahu. Untuk kelengkapan diri sendiri saja,” sebut dia lagi.

Nah, untuk sukses di dunia marketing dia pun mencoba berbagi syarat kepada para pembaca semua, caranya yakni dengan banyak melakukan praktek lapangan. Maklum, marketing itu harus terus dipraktekan, kata dia, kalau tidak ya tidak akan maksimal hasilnya. “Marketing itu bagusnya kan praktek, bukan sekedar teori-teori saja,” kata dia.

Dalam waktu senggang, Listia biasnya mengisi hari-hari dengan traveling bersama suami dan anak-anaknya. Ya, dia selalu menjadwalkan untuk travel ke sebuah tempat setiap minggu, bulan atau bahkan tahun.

“Kalau liburan biasa ya yang dekat-dekat saja, tetapi kalau keluar negeri biasanya kita arrange satu kali dalam setahunnya,” terang Listia.

Yang jelas Listia tidak menyenangi berlibur ke pantai atau pegunungan. Seperti biasa, dia mencari kota-kota yang rapih, indah, serta memperdalam akan aneka budaya masyarakat yang di kota-kota lainnya. Dengan kata lain, dia lebih memilih traveling kota.

“Kalau pantai cepat bosen, tapi kalu merotropolis banyak hal yang dilakukan, bisa ke mal, bisa ke museum, apalagi bisa melihat perbedaan ragam budaya kita dengan yang lainnya, itu sangat menyenangkan untuk saya,” tutup ibu beranak dua ini.*

Related posts