Sektor Perkreditan Loyo - PERBANKAN INCAR PRODUK BERBASIS BIAYA

Jakarta – Di tengah maraknya berbagai produk layanan elektronik perbankan yang terus berkembang di masyarakat, perbankan nasional mengubah strategi penghasilannya dengan mengincar produk berbasis biaya, sebagai upaya mempertahankan keuntungannya dari imbas menurunnya pembiayaan kredit belakangan ini.

NERACA

Namun perubahan strategi pendapatan bank ini, menurut pengamat perbankan UI Lana Soelistianingsih, masih perlu pemetaan lebih mendalam apakah kenaikan laba dari perbankan lebih banyak disumbangkan dari fee based income atau net interest margin (NIM). Pasalnya, sejauh ini memang NIM perbankan yang tinggi merupakan pendapatan terbesar dari perbankan. “Apakah benar fee based income juga naik. Padahal kalau suku bunganya tinggi maka akan ada potensi pendapatan perbankan juga akan naik,” ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu..

Menurut Lana, jika terjadi pergeseran pendapatan perbankan dari NIM ke fee based income maka perlu mendapatkan momentum yang tepat mengingat saat ini masyarakat sudah cukup banyak “terpukul” dari beberapa kenaikan harga akibat harga BBM yang menuju harga keekonomian. “Ya tapi masyarakat tidak bisa menolak, tiba-tiba terpotongnya biaya bank cukup banyak. Makanya ini juga menjadi perhatian untuk otoritas perbankan agar lebih peka terhadap kondisi masyarakat,” jelasnya.

Jika memang saat ini perbankan lebih mengejar pendapatan berasal dari transaksi elektronik, dia mengimbau agar perbankan juga menyimbangkan dengan pelayanan yang diberikan kepada nasabah. Jadi, jangan sampai nasabah yang sudah membayar begitu mahal akan tetapi pelayanannya tidak memuaskan.

Dia mengakui bahwa perbankan di negara-negara maju memang mengandalkan keuntungan dari fee based income. Namun begitu, perbankan harus melihat dari sisi lainnya. “Bank harus melihat persoalan lain, yaitu akses masyarakat kepada perbankan masih cukup rendah. Kita tengah mendorong financial inclusion agar masyarakat yang awalnya non bankable menjadi bankable. Sekarang, tarif ATM lintas bank malah dinaikkan, apakah ini akan berakibat pada financial inclusion?,” ujarnya.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan, perbankan Indonesia mengubah strategi pendapatannya dikarenakan lambatnya penetrasi dunia perbankan pada tahun lalu. Lambatnya penetrasi perbankan pada 2014 dinilai akibat pengaruh dari inflasi. Jadinya nasabah hanya memakai rekening dan ATM saja, padahal produk dan jasa perbankan banyak seperti internet banking mobile. Sehingga dunia perbankan telah mengubah strategi pendapatannya melalui strategi berbasis biaya, yaitu pendapatan yang berasal transaksi elektronik, mobile banking dan ATM.

"Daya beli masyarakat yang rendah menyebabkan nasabah perbankan berkurang dan mengurangi tingkat transaksi perbankan. Pasalnya, masyarakat akan cenderung memenuhi kebutuhan lain yang cenderung meningkat," kata dia.

Kualitas Kredit

Menurut dia, ke depan bank akan menghadapi tantangan penetrasi yang lebih sulit. Oleh sebab itu perbankan harus menaikkan tingkat efisiensi, yang diukur dari satu beban operasional terhadap biaya pendapatan. Kemudian, menurunkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Caranya dengan meningkatkan kualitas kredit, dan meningkatkan manajemen risiko kredit. Selain itu, perbankan harus menaikkan modal.

"Karena semakin tinggi modalnya akan semakin mampu untuk bersaing. Ketiga hal itu juga sebagai senjata untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015," jelas Paul.

Selain itu, menurut dia, tantangan kenaikan suku bunga The Fed, akan menyebabkan suku bunga acuan BI Rate akan naik. Kenaikan suku bunga acuan ini akan menyebabkan perang suku bunga deposito. Sehingga akan meningkatkan biaya dana bank nasional.

Menurut dia, perubahan strategi pendapatannya melalui strategi berbasis biaya merupakan salah satu strategi perbankan meningkatkan pendapatannya dikarenakan tidak bisa mengandalkan lagi penerimaan berasal dari pendapatan bunga kredit, namun misi perbankan nasional dari agent of development harus tetap menjadi prioritas utama.

Ada beberapa strategi bisnis perbankan yang lebih baik lagi, dimana bank nasional jangan melupakan peluang bisnis yang selama ini kurang dirawat, padahal menghasilkan penghasilan yang lumayan yaitu kredit mikro. Tidak dapat disangkal lagi, kredit mikro merupakan sumber NIM tinggi, lantaran menawarkan margin yang sangat tebal. Kredit mikro itu dikenal sebagai sektor yang tidak begitu sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

"Dengan bahasa lebih tegas, berapapun kenaikan suku bunga kredit ya tetap akan diambil. Maka menjadi tidak mengherankan ketika suku bunga kredit mikro masih bertengger di sekitar 30%," ujarnya.

Selama ini perbankan memang masih tergiur oleh kontribusi pendapatan bunga yang mencapai 93% dari total pendapatan perbankan. Hingga akhir Oktober 2014, menurut data BI, laba industri perbankan tumbuh 15,5% dari Rp 114,79 triliun (Okt 2013) menjadi Rp 132,68 triliun.

Namun menurut pengamat ekonomi yang juga Rektor Kwik Kian Gie School of Business, Prof Dr Anthony Budiawan, tingginya suku bunga (BI Rate) yang berada di level 7,75% menjadikan bunga kredit ikut melambung. Kondisi ini jelas menjadikan perbankan mengubah strategis bisnis karena kredit pembiayaan menurun. "Mau tidak mau perbankan harus merubah strategi bisnis, ini imbas dari kebijakan tingginya BI Rate," katanya.

Mengingat, sambung Anthony perbankan sudah tidak lagi mengandalkan penerimaan berasal dari pendapatan bunga kredit, karena pengusaha lebih memilih utang di luar dari pada di dalam negeri. Mereka mencari pinjaman yang bunganya rendah. "Pengusaha lebih memilih pinjaman ke luar, karena bunganya lebih rendah. Kecuali, BI mau menurunkan BI Rate, bunga kredit rendah, perbankan bisa mengandalkan dari pendapatan bunga kredit lagi," imbuhnya.

Karena apa, jika perbankan sudah berputar haluan yang kini lebih mengandalkan bisnis dari pendapatan yang berasal dari transaksi elektronik, mobile banking dan ATM, maka masyarakat yang akan dirugikan. Karena masyarakat harus membayar ekstra atau biaya lebih besar. "Perbankan juga tidak mau rugi, tapi maslahnya lagi-lagi masyarakat yang dikorbankan dari sebuah kebijakan," tandasnya.

Oleh karenanya, alangkah baiknya BI menurunkan BI Rate minimal 25 bps untuk memberikan sedikit angin segar, agar bunga kredit bisa turun, perbankan bisa kembali lagi mengandalkan bisnisnya dari kredit pembiayaan, pengusaha juga bisa mendapatkan penyaluran pembiayaan dengan bunga yang lebih rendah.

Pengamat ekonomi, Iman Sugema mengatakan saat ini perbankan lebih memprioritaskan keuntungan bagi pemiliknya. "Bank swasta nasional yang seluruh atau sebagian besar modalnya sekarang dimiliki oleh asing, termasuk perubahan akta pendiriannya dan porsi pembagian keuntungan yang mayoritas untuk pemiliknya,"ujarnya.

Menurut dia, kebanyakan perbankan belakangan ini telah melaksanakan strategi konsolidasi dan transformasi yang menyeluruh di seluruh aspek organisasi. Dengan program transformasi yang dilakukan telah bertransformasi menjadi sebuah organisasi yang bukan hanya memiliki kinerja yang baik namun juga memiliki pondasi kuat untuk berkembang secara berkelanjutan dalam jangka panjang. bari/iwan/agus/mohar

Related posts