Bos Ditahan, Saham Sentul City Jadi Stagnan

NERACA

Jakarta – Meski bisnis properti berprospek cukup menjanjikan, persoalan hukum yang membelit pemilik perusahaan setidaknya akan mempengaruhi kondisi sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Kasus penangkapan bos pemilik PT Sentul City Tbk (BKSL) yang terlibat masalah hukum kasus dugaan suap Bupati Bogor Rachmat Yasin terkait pengurusan izin tukar menukar kawasan hutan seluas 2.754 ha di Bogor, Jawa Barat, merupakan bukti sentimen terhadap saham perusahaan itu di bursa.

Apalagi setelah ditetapkannya Dirut PT Sentul City Tbk, Kee Cahyadi Kumala sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjadi sentimen negatif terhadap laju pergerakan saham perseroan di bursa domestik. Analis dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe pernah bilang, harga saham PT Sentul City Tbk akan bergejolak dan terkoreksi seiring kasus yang menimpa pemilik perseroan.

Meski demikian, menurut Kiswoyo koreksi yang terjadi pada saham Sentul City tidak akan anjlok lebih dalam terkait kasus yang menimpa perseroan dan direktur utama. Pasalnya, harga saham perseroan sudah berada di batas bawah yakni Rp 50 per lembar saham,”Tidak akan ke mana-mana lagi," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Gejolak ini, kata Kiswoyo, memang membuktikan bahwa para investor sangat memperhatikan jika emiten terlibat dalam suatu kasus. "Mau tidak mau ya investor memang harus memperhatikan," tuturnya.

Imbas dari kasus dugaan suap tersebut, tidak hanya merontokkan saham perseroan tetapi juga performance kinerja keuangan. Tengok saja pada kuartal pertama, pendapatan neto perseroan turun sebesar 48,48% menjadi Rp123,83 miliar, dibandingkan dengan pendapatan neto tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar Rp240,38 miliar.

Selain itu, beban pokok tercatat turun menjadi Rp63,76 miliar dari beban pokok kuartal I 2013 yang sebesar Rp96,73 miliar dan laba bruto menjadi Rp60,07 miliar dibandingkan laba bruto kuartal I 2013 yang sebesar Rp143,65 miliar. Sementara laba usaha kuartal pertama 2014 turun menjadi Rp27,81 miliar dibandingkan laba priode yang sama tahun lalu sebesar Rp108,06 miliar.

Kemudian laba sebelum pajak kuartal pertama tahun ini menyusut menjadi Rp5,23 miliar dibandingkan laba sebelum pajak kuartal pertama tahun sebelumnya yang sebesar Rp98,78 miliar. Total aset perseroan hingga Maret 2014 naik tipis menjadi Rp10,77 triliun dibandingkan total aset per Desember 2013 yang sebesar Rp10,66 triliun.

KPK kemarin (30/9) menahan Dirut PT Sentul City Tbk Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng. Penahanan tersebut dilakukan menyusul ditetapkannya Cahyadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengajuan rekomendasi tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754 ha di Kabupaten Bogor oleh PT Bukit Jonggol Asri."Ditahan selama 20 hari ke depan untuk kepentingan penyidikan," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Selasa.

Cahyadi ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK usai menjalani pemeriksaan terkait kasus tersebut. Menurut Johan, penahanan terhadap Cahyadi juga dilakukan lantaran telah memenuhi salah satu unsur Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), bahwa seseorang dilakukan penahanan lantaran dikhawatirkan menghilangkan barang bukti, melarikan diri, atau mengulangi perbuatannya. Siang tadi, penyidik KPK juga melakukan upaya penjemputan paksa terhadap Cahyadi karena berdasarkan informasi yang didapat penyidik, Cahyadi telah berupaya menghilangkan barang bukti dan mempengaruhi saksi di persidangan.

Cahyadi ditetapkan sebagai tersangka kasus suap kepada Rachmat Yasin sebesar Rp 4,5 miliar terkait rekomendasi tukar menukar kawasan hutan seluas 2.754 hektare (Ha) di Kabupaten Bogor. Ia dijerat dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor. Dia juga dijerat dengan Pasal 21 UU Tipikor karena diduga menghalangi penyidikan dengan menghilangkan barang bukti dan mempengaruhi saksi di persidangan.

Penetapan Cahyadi memang merupakan pengembangan dari kasus yang telah menjerat Rachmat Yasin, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor M Zairin, dan utusan PT Bukit Jonggol Asri Yohan Yap yang kasusnya telah masuk tahap persidangan. (bari/bani)

BERITA TERKAIT

Jakarta Garden City Raih PMSEA 2018

NERACA Jakarta -- Perumahan skala kota (township) Jakarta Garden City (JGC) seluas 370 hektar, yang dikembangkan PT Mitra Sindo Sukses,…

BTPN Syariah Bakal Lepas Saham 10% - Gelar IPO di Kuartal Tiga 2018

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT BTPN Syariah dalam waktu bakal melakukan penawaran saham perdana alias…

Bank Panin Tambah Porsi Saham Jadi 42,54% - Rights Issue Panin Dubai Syariah

NERACA Jakarta - Jelang rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, PT Bank Panin…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kebijakan Impor Beras Butuh Sinkronisasi Data

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar melakukan sinkronisasi data terkait dengan kebijakan yang membuka masuknya beras impor agar jangan sampai…

KONSEKUENSI DERASNYA ARUS DIGITALISASI - 2018, Perusahaan Konvensional Terus Tergerus

Jakarta-Meski ekonomi dunia termasuk Indonesia ‎diperkirakan akan membaik pada 2018, arus digitalisasi terus merambah sehingga perusahaan ritel maupun transportasi konvensional…

UNTUK MENINGKATKAN AKSES INKLUSI KEUANGAN - Presiden: Sederhanakan Perizinan dan Sistem Perbankan

Jakarta-Presiden Jokowi mengatakan, perlunya penyederhanaan sistem dan penyederhanaan izin-izin yang ruwet agar masyarakat dapat mengakses ke perbankan dan sektor jasa…