JK Janjikan Kedaulatan Pangan

NERACA

Jakarta – Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla menginginkan di pemerintahannya nanti dapat membangun kekuatan pertanian rakyat dan kedaulatan pangan. Dia pun menjanjikan Indonesia sangat mungkin bisa mewujudkan kedaulatan pangan.Oleh karenanya, guna merealisasikan itu dirinya menginstruksikan ahli-ahli pertanian agar turun ke lapangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

"Setelah 20 Oktober (pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih), insinyur-insinyur yang biasanya hanya berkantor, harus ke luar (ke lapangan), jangan hanya urus surat-surat, urus dong sawah, kebun," kata Jusuf Kalla, di Jakarta, Kamis (25/9).Dia mengakui pernah marah lantaran Indonesia pengimpor pangan terbesar, padahal Kantor Kementerian Pertanian Indonesia merupakan terbesar di dunia.

"Artinya kita cuma bertani dalam bentuk birokrasi saja," terangnya.Menurut dia, saat ini Indonesia belum mencapai kedaulatan pangan, untuk memenuhi pangan pokok saja seperti beras, kata JK, Indonesia masih impor sekitar 2 juta ton per tahun. Belum lagi jagung, ikan, dan daging yang harus impor serta buah-buahan seperti jeruk, anggur, apel, dan kedelai.

"Jadi kita belum berdaulat, masih tergantung yang lain. Kita harus tingkatkan produksi pangan," ujar dia. Jusuf Kalla jugamengatakan, keamanan pangan pokok harus dijamin oleh negara. Oleh karena itu, dia bersama presiden terpilih Joko Widodo memprioritaskan program kedaulatan pangan yang harus dipenuhi.

Menurut dia, persoalanan pangan bukan hal yang mudah karena setiap tahun penduduk di Indonesia bertambah 1,5 persen. Seiring dengan itu, kebutuhan pangan pun terus naik dan disaat yang sama lahan pertanian semakin berkurang untuk kebutuhan rumah, pabrik, dan lainnya.

Untuk mengembangkan lahan pertanian di Pulau Jawa, kata JK, sudah sulit karena lahan yang semakin sempit namun untuk memindahkan fokus pertanian di Kalimantan atau Papua kesulitan yang dihadapi adalah sumber daya manusia. Sementara itu melakukan transimigrasi saat ini menurut JK juga tidak mudah.

Oleh karena itu, JK menilai untuk mengatasinya perlu peningkatan teknologi yang tentunya membutuhkan dana yang lebih tinggi.Selain itu juga perlu penguatan investasi dalam bentuk bibit yang berkualitas, jalan, pengairan/irigasi, mesin penggilingan beras yang lebig modern dan lainnya.

"Selama ini dana ada tapi kenapa kurang karena salah pakai. Dana lebih banyak untuk subsidi BBM," ujarnya. Diamenambahkan untuk meningkatkan produksi pangan maka perlu dilakukan perbaikan teknologi dan sistem. Apabila sudah terwujud, maka kedaulatan pangan akan tercapai dan otomatis terjadi pengurangan angka kemiskinan. [agus]

BERITA TERKAIT

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar - INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Usut Tuntas Impor Pangan

Maraknya dugaan korupsi impor pangan yang menjadi sorotan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli kemudian berlanjut dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pentingnya Informasi Geospasial untuk Perencanaan Pembangunan

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya informasi geospasial bagi perencanaan pembangunan…

ADB Setujui Pinjaman US$500 juta untuk Pemulihan Bencana

      NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) menyetujui pinjaman bantuan darurat senilai 500 juta dolar AS…

Kawal Pengembangan Inovasi Obat dan Makanan Indonesia - Kolaborasi BPOM-RI &Kemenristek Dikti

    NERACA   Jakarta – Menurut Industry Facts and Figures 2017 yang dipublikasikan Kementerian Perindustrian, pada tahun 2016 industri…