Kebijakan LCGC Dihapus, Gaikindo Gigit Jari

NERACA

Jakarta – Banyaknya kejanggalan dari program mobil murah atau Low Cost Green Car yang kemudian disingkat LCGC, seperti penggunaan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, ternyata fakta di lapangan tetap menggunakan BBM bersubsidi sehingga membebankan negara dan harganya yang terus merangkak naik, kini menuai kritikan dari publik.

Maka tidak heran, jika presiden terpilih Jokowi mewacanakan akan menghentikan penjualan mobil LCGC. Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Andin Hadiyanto mengatakan, pihaknya sedang mengevaluasi kebijakan yang mendasari LCGC karena keberadaan program itu tidak sesuai harapan. Sejak awal, Jokowi yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta memang sudah menolak program tersebut karena dinilai akan membuat kemacetan di Jakarta bertambah parah.

Sontak saja, kabar penghapusan LCGC membuat resah pelaku industri otomotif lantaran bakal mempengaruhi penjualan kedepan. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito mengatakan, pihaknya belum mau mengomentari kelanjutan nasib mobil murah ramah lingkungan atau pada masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla,”Sementara ini kami masih belum mau berkomentar karena belum ada aturan baru. Kabinet pemerintahan nanti seperti apa kan kita juga belum tahu,”ujarnya di Jakarta, Rabu (24/9).

Dirinya menegaskan, pihaknya tidak mempermasalahkan bila pemerintah mendatang menghentikan program mobil murah ramah lingkungan atau LCGC. Alasannya, pengusaha itu bersifat kan fleksibel, mengalir seperti air,”Kalau misalnya di sini ditanggul, air akan mengalir mencari jalan lain," kata Noegardjito.

Dia menyakini, bila kebijakan LCGC diteruskan tentu akan lebih bagus. Namun, bila pemerintah memiliki kebijakan yang berbeda, Gaikindo dan pengusaha akan mengikuti dan tidak akan melawan pemerintah. Menurutnya, LCGC yang hanya memiliki pasar 15% dari total penjualan mobil secara nasional sebenarnya tidak terlalu berpengaruh besar. Masih ada 85% pasar yang dikuasai mobil-mobil lain. Gaikindo mencatat total penjualan mobil LCGC sepanjang Januari-Agustus 2014 mencapai 113.752 unit. Mobil produksi Toyota Astra Motor (TAM), Agya, menjadi mobil LCGC yang paling laris dengan penjualan sebesar 46.399 kendaraan.

Asal tahu saja, lambat tapi pasti masyarakat yang mengimpikan mobil murah kini dirasakan jauh dari kenyataan. Pasalnya, selain harganya yang terus merangkak naik jauh dari daya beli masyarakat juga penggunaan BBM masih bersubsidi. Padahal sejatinya, mobil yang sudah murah karena mendapatkan fasilitas dari pemerintah, haram hukumnya mengisi BBM bersubsidi. Namun kenyataan yang ada demi alasan ekonomis, pemilik mobil murah tetap melakukannya.

Sayangnya, penjelasan tenaga pemasaran dealer mobil murah tidak membantu pemerintah. Walau secara resmi para sales sudah mengingatkan tentang harusnya menggunakan bahan bakar non subsidi (pertamax), namun pada akhirnya demi mendongkrak penjualan mereka akhirnya membenarkan bahwa tidak apa apa jika menggunakan premium, asal risiko ditanggung pemilik mobil murah.

Padahal sebelumnya Menkeu sudah mengajukan keberatan untuk peninjauan ulang kebijakan LCGC. Kekhawatiran akan membengkaknya subsidi BBM akhirnya terjawab sudah. Konsumsi BBM bersubsidi diprediksi melewati kuotaAPBN, sementara pemasukan pajak besar dari banyaknya penjualan mobil pun pada akhirnya menjadi tidak sebanding dengan beban subsidi.

Akhirnya mimpi tentang “mobil rakyat yang murah” dan merupakan produk dalam negeri malah disalahgunakan dengan memberikan fasilitas kepada para produsen mobil yang memang sejak awal terlihat peran mereka terus mendorong kebijakan ini ke pemerintah. Dari berbagai kebijakan soal pembatasan BBM bersubsidi untuk mobil murah, ini hanya memperlihatkan sejumlah dana mubazir yang “dipaksakan” sekedar untuk mengalihkan perhatian masyarakat umum mengenai keberatan tentang proyek LCGC.

Semula, pemerintah mengharapkan LCGC dapat menekan penggunaan BBM bersubsidi karena mobil ini khusus menggunakan BBM nonsubsidi. Namun, para pemilik LCGC ternyata tetap menggunakan BBM bersubsidi. Pemerintah juga berharap LCGC mendorong ekspor otomotif dengan mensyaratkan ekspor minimal 10% dari total produksi. Namun, hal itu juga belum terpenuhi. bani

BERITA TERKAIT

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

KEBIJAKAN VALIDASI IMEI

Sejumlah telepon selular dengan berbagai merek dipasarkan di Bandung Electronic Centre, Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/2). Kementerian Perindustrian bersama Kementerian…

Kebijakan Impor Beras Butuh Sinkronisasi Data

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar melakukan sinkronisasi data terkait dengan kebijakan yang membuka masuknya beras impor agar jangan sampai…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indef: Penciptaan Lapangan Kerja Era Jokowi-JK Paling Buruk

  NERACA Jakarta - Indonesia masih mengalami ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Salah satu caranya dalam mengatasi ketimpangan…

PERLU EVALUASI TOTAL PROYEK INFRASTRUKTUR - Pemerintah Hentikan Proyek Konstruksi Layang

Jakarta-Pemerintah akhirnya menghentikan sementara semua pekerjaan infrastruktur kontruksi layang (elevated) baik jalan tol, proyek LRT maupun jembatan di seluruh Indonesia.…

Kepercayaan Investor Bawa IHSG Capai Rekor Baru

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan (19/2) kemarin, indeks harga saham gabungan…