Pasar Modal Indonesia Masih Terlena Hot Money

MENYAMBUT HUT BEI KE-34

Rabu, 10/08/2011

NERACA

Jakarta – Memasuki usianya ke-34 tahun ini, perjalanan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) banyak menghiasi perjalanan industri pasar modal dalam negeri dan turut berperan mendorong roda perekonomian nasional. Namun sayangnya, di usia yang cukup matang tersebut masih banyak prestasi yang belum terukir bagus dan masih terkait banyak persoalan hukum.

Ketua Komisi VI DPR RI Airlangga mengatakan, sejauh ini peran Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menjaga stabilitas pasar modal masih lemah dan hanya mengandalkan pemicu indeks dari hot money. ”Selama ini pergerakan indeks dalam negeri masih ditopang dari dana asing yang masuk dan bukan didasarkan fundamental ekonomi,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (9/8).

Karena itu, banyak pelajaran dan harapan besar para investor terhadap otoritas pasar modal dalam negeri menuju industri pasar modal yang transparan, akuntabel dan berwibawa. Kemudian soal kontribusi pasar modal dalam negeri, menurut dia, tidak secara nyata terlihat di lapangan. Namun yang pasti masih belum memberikan efek bagi ekonomi sektor riil dari kapitalisasi pasar modal yang besar.

Selain itu, dia juga menyoroti, keberpihakan otoritas pasar modal terhadap perusahaan sekuritas, aset manajemen lokal serta reksadana masih rendah. Selanjutnya, regulasi untuk investasi jangka panjang melalui perusahaan lokal dan bukan melalui pasar uang Singapura masih lemah. Maka tak ayal, investor masing menganggap Indonesia sebagai surga meraup keuntungan.

Menurut Airlangga, peranan BEI cukup besar untuk menciptakan iklim pasar yang stabil. Seperti pada kondisi sekarang, pada saat krisis Amerika dan mempengaruhi pergerakan pasar modal, BEI sangat dituntut untuk mempertahankan supaya IHSG tidak terpuruk. Ataupun kasus-kasus lain terkait dengan bursa.

”Yang terpenting dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian ekonomi, BEI perlu mengantisipasi dengan kebijakan yang mendorong penguatan fundamental pasar modal tidak hanya terlena oleh kenaikan indeks yang dipacu oleh hot money,”tandasnya.

Soal kasus Askrindo, lanjut Airlangga, merupakan fraud dari direksi yang menangani investasi, ditambah lagi pengawasan yang lalai dari dewan komisaris dan berikutnya baru masuk pengawasan Bapepam-LK.

Patut diketahui, pada awal penutupan perdagangan saham akhir tahun 2010, pemerintah menilai transaksi pasar modal dalam negeri dinilai paling bagus se-Asia Tenggara dengan kapitalisasi yang cukup fantastis dan harga saham yang naik signifikan. Bahkan, pasar modal Indonesia ingin berambisi mengejar ketertinggalan dengan bursa Singapura.

Kejar Singapura

Sebagai informasi, Kapitalisasi pasar (market caps) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengalami lonjakan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Kapitalisasi pasar BEI yang masih berada di level Rp1.000 triliun pada 2008 melesat menembus Rp3.200 triliun di akhir 2010.

Kapitalisasi terus meningkat hingga berada pada Rp3.450 triliun saat indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level tertinggi sepanjang sejarah perdagangan pasar saham Indonesia yaitu di level 3.872,953. Sebuah lonjakan yang terlihat fantastis jika melihat lonjakan tajam perputaran uang yang dibukukan hanya dalam waktu dua tahun.

Padahal, sebelumnya kapitalisasi pasar BEI masih berkutat pada angka Rp1.000 triliun pada 2005 hingga 2008. Kenaikan hingga Rp1.000 triliun pun tercapai tidak dalam waktu sebentar. Pada tahun 2000 kapitalisasi pasar BEI masih sekitar Rp259,6 triliun. Angka itu meningkat dua kali lipat ke Rp460,366 triliun, pada 2003 dan meningkat lagi menjadi Rp679,9 triliun pada 2004 sebelum mencapai Rp801,25 triliun pada 2005. IHSG melaju cepat layaknya kereta Perancis TGV, membukukan kenaikan 133% hanya dalam dua tahun sejak terjadinya krisis ekonomi global pada pertengahan 2008.

Kenaikan kembali terjadi pada 2010. Pada tahun itu pertumbuhan IHSG sebesar 46,13% dan mencapai level 3.703,512. Sedangkan, kapitalisasi pasar mencapai Rp3.247 triliun. Tahun ini banyak kalangan terutama analis memperkirakan pertumbuhan paling tidak terjadi pada level 20% yang artinya level IHSG ditaksir berada pada 4.000–4.400. Tidak berlebihan bila direksi BEI optimistis kembali meraih peningkatan kapitalisasi pasar hingga di atas Rp4.000 triliun di akhir 2011."Kalau pertumbuhan IHSG bisa mencapai 20%, tentu kapitalisasi pasar kita bisa mencapai pertumbuhan serupa," ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito. salim/bani