Tata Ruang Terintegrasi Transportasi Massal

MUSLIH ZAINAL ASIKIN

Sabtu, 22/03/2014

MUSLIH ZAINAL ASIKIN, DIREKTUR ABHISEKA TRAINING CENTRE

Tata Ruang Terintegrasi Transportasi Massal

Masalah transportasi, adalah bagian dari gaya hidup masyarakat. Artinya, sarana transportasi apa yang kita gunakan, akan memberikan cermin sikap dan tabiat pribadi kita.

Namun, bagi Muslih Zainal Asikin, bahkan transportasi bukan lagi sebagai gaya hidup, tapi sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari. “Sebab, di saat kita dituntut mobilitas yang tinggi, yang diutamakan adalah persoalan efisien, efektif, hemat, aman, nyaman, dan terjangkau,” kata Muslih.

Dia menyontohkan, tak persoalan terpaksa harus bergelantungan di bus Transjakarta, dari pada terjebak kemacetan tatkala menggunakan mobil pribadinya. Lagi pula, jika jalur busway Transjakarta itu steril, jelas waktu tempuh perjalanan ke satu tempat akan jauh lebih cepat jika kita mengendarai mobil pribadi.Itu sebabnya, mobilnya lebih sering nongkrong di parkiran apartemen Kalibata.

Dia pun mendesak pemerintah agar serius memperhatikan pelayanan transportasi. “Jika berhitung dengan faktor efisiensi waktu dan biaya, pemerintah harusnya mengucurkan subsidi. Besarnya subsidi itu sepadan dengan kerugian yang harus diderita jika waktu kita habis terbuang percuma di jalanan. “Karena itu, jaringan transportasi massal itu harus terintegasi dengan tata ruang suatu kawasan, yaitu menghubungkan perumahan dengan pusat-pusat kegiatan masyarakat, seperti gedung pemerintahan, perkantoran, sekolah, dan pasar,” kata pria bertubuh gempal ini.

Muslih dari masa muda hingga saat ini memang banyak berkuat dengan masalah transportasi. Saat menjadi ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UGM di era 1977an, dia ikut terlibat merencanakan jaringan angkutan kota di Yogyakarta. Maka jadilah Colt Kampus, yaitu angkutan umum yang menghubungkan kampus UGM di Bulaksumur dengan seluruh penjuru kota Yogyakarta. Colt Kampus adalah jenis angkutan umum dengan pintu dari belakang dan bangkunya berjajar berhadap-hadapan. Jika penuh, penumpang rela bergelayutan berdiri di depan pintu, hingga kendaraan itu miring ke belakang..

Kini model angkutan umum dari Mitshubhisi Tiga Berlian itu sudah lenyap ditelan zaman. Keberadaannya digantikan oleh bus kota. Jaringan angkutan kota itu berada di bawah naungan Koperasi Angkutan Kota (Kopata) Yogyakarta. Pria pendiri Seksi Kerohanian Jamaah Shalahuddin UGM itu pun turun membidani dan mengurus Kopata. Selain bus kota Kopata, kini ada lagi armada transportasi sejenis, namanya Kobutri dan Aspada. Dan kini, transportasi di Yogyakarta diwarnai oleh kehadiran Trans-Jogja.

Di almamaternya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Muslih kini bergabung dan menjadi peneliti senior di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral).Bersama Prof Danang Parikesit, Muslih juga aktif di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Jika Danang menjadi ketua umumnya, Muslih menjadi salah satu ketuanya. “Karena itu, saya wira-wiri Yogya-Jakarta,” kata salah seorang pengurus teras Ahmadiyah. “Tapi, Ahmadiyah kami tidak eksklusif, dan tetap mengikuti ajaran Nabi Muhammad,” kata suami dari Ida Rohani.

Lewat MTI, Muslih sering menggarap proyek penelitian sistem transportasi di Jakarta. “Maklum, transportasi di Jakarta sangat semrawut,” kata Muslih yang memilih membeli satu unit apartemen di kawasan Kalibata.

“Ini bukan sok-sokan beli apartemen, tapi demi efisiensi, lagi pula, apartemen itu serba guna, buat tidur, tapi juga bisa jadi kantor dan bertemu relasi.”

Dia sengaja memilih apartemen di kawasan Kalibata, karena dekat dengan stasiun kereta Jabodetabek. Di sana juga banyak alternatif angkutan.

Aktivitas Muslih sangat beragam, termasuk di bidang politik praktis. Pernah menjadi sekjen Partai Merdeka bersama Adi Sasono. Namun dunia politik dianggalkannya seiring matinya partai berlambang bola warna hijau itu.

Dia mengaku beruntung membeli apartemen pada kesempatan pertama. Karena, dalam beberapa tahun kemudian, ternyatanya harga jualnya sudah berlipat. “Dari pada di hotel, ya lebih enak di tempat sendiri, kalau kosong, malah bisa kita sewakan, dan uang pun mengalir,” tutur Muslih yang kini masih memimpin sebuah lembaga pendidikan terapan ‘Abhiseka Training Centre yang ada di Yogyakarta. (saksono)