KISAH JURAGAN BUKU DARI TANAH MAJAPAHIT

Sutarno, Pemilik Galeri Buku Cak Tarno

Sabtu, 22/02/2014

Lewat selebrasi yang teramat sederhana, Cak Tarno tampak begitu fasih mengeja beragam teori sosial dan humaniora berikut kisah seru para pemikir besar di dalamnya. Lebih dari sekedar penjual buku, ia juga turut meniupkan ruh intelektual ke dalam komunitas diskusi yang serba guyup. Inilah kisah pria muda juragan buku dari Tanah Majapahit...

Di galeri mini seukuran kamar kos itulah, Cak Tarno—begitu Sutarno akrab dipanggil, tak pernah berhenti membalas sapaan para pejalan kaki yang mengalir deras tanpa henti. Puluhan orang yang lewat tiap menit di lorong sempit Gang Sawo ini terlihat familiar dengan sosok Cak Tarno. Sesekali mereka menghentikan langkah. Sekedar bertegur sapa, ngobrol santai, atau menanyakan buku yang tengah mereka cari.

Cak Tarno, buku, dan diskusi komunitas, memang terlampau sulit untuk dipisahkan. Beberapa generasi mahasiswa, alumni, hingga dosen di Universitas Indonesia (UI), sangat dekat dengan sosoknya. Selain dikenal humble, boleh dibilang, lelaki asal Mojokerto, Jawa Timur, di mana Ibukota Kerajaan Majapahit itu dulu berlokasi, merupakan pedagang buku tenar di kawasan yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kampus UI.

Lahir dan besar dalam keluarga petani, Cak Tarno kecil mengaku lebih kenal cangkul ketimbang tumpukan buku. Pun tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikirannya untuk berjualan buku. Tamat dari SMP tahun 1987, ia tak melanjutkan sekolah, melainkan jadi buruh macul di sawah. “Waktu itu penghasilan masih Rp 1.200 sehari, mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Tapi saya selalu punya keinginan, masa saya terus jadi buruh tani,” kisah Cak Tarno kepada Neraca, dalam obrolan santai di suatu siang.

Lantas dia mengadu nasib dengan bekerja sebagai kenek tukang bangunan. Namun karena kerja di bangunan bersifat musiman, sesekali dia terpaksa kembali ke sawah. Pada 1995, ketika usianya menginjak 25 tahun, Cak Tarno muda hijrah dari Tanah Majapahit untuk ikut kakaknya bekerja sebagai penarik kabel listrik di Cirebon, Jawa Barat. Karena terbelit krisis moneter, perusahaan itu pun bangkrut.

Kelar bekerja di Cirebon, Cak Tarno, pada 1997, merantau ke Jakarta, dan bergabung dengan Yusuf Agency, pedagang buku yang juga temannya waktu kecil. Hanya sekitar setahun ikut Yusuf, dia beranikan diri berjualan buku bekas di sekitar kampus UI Depok. Buku-buku bekas itu dia beli dari lapak-lapak abu gosok. Tiap Hari Minggu, dia menyusuri lapak abu gosok dari Pondok China sampai Pasar Minggu. Dari memulai jualan buku bekas itulah, Cak Tarno sedikit demi sedikit mengembangkan bisnisnya. “Saya juga pernah jualan patung, untuk melihat pilihan. Mana yang cocok untuk saya. Ada patung, ada kaos bola, celana bola, di lapak saya,” bisik Cak Tarno.

Terhitung sejak 2002, Cak Tarno mulai menyewa kios di Gang Sawo, berjarak sekira 200 meter dari UI. Kios itulah yang kemudian berkembang hingga sekarang. Saat ini, toko buku miliknya menerapkan sistem konsinyasi dengan sejumlah penerbit. Setidaknya ada 5 penerbit yang dia ajak kerjasama, antara lain penerbit Komunitas Bambu dan LP3ES. Para penerbit itu memberi diskon 30-35 persen, dan dari situlah Cak tarno meraup untung.

Membidik konsumen masyarakat kampus tentu saja memiliki kelemahan tersendiri. Antara lain penjualan yang tidak tentu. Apalagi di saat musim libur kuliah, yang kalau ditotal waktunya sampai 4 bulan dalam setahun. Penjualannya niscaya terkoreksi. Pernah, kata Cak Tarno, dalam sehari bukunya tidak laku sama sekali. Tapi pernah juga, dalam sehari dia meraup omzet Rp 15 juta, karena ada konsumen yang memborong bukunya. Kalau diambil rata-rata, nilai penjualannya Rp 30 juta per bulan. Meski secara keseluruhan, Cak Tarno tidak pernah menghitung total aset yang dia miliki.

Tiga Modal Sosial

Kendati toko buku Cak Tarno kecil saja, namun dirinya mengaku tak pernah gentar menghadapi persaingan bisnis. Kecuali karena mengkhususkan diri menggelar buku-buku yang relatif berbeda dengan jenis produk yang dijual para kompetitor, dia ternyata juga memiliki tiga modal sosial yang secara alami terbukti efektif menggaet pelanggan. “Modal saya ada tiga. Modal kepercayaan, relasi masyarakat, dan sedikit berpengetahuan,” bebernya.

Ketiga modal sosial itu, bagi dirinya, saling berkait satu sama lain. Bila di masa lalu kaum tani mengandalkan alat produksi berupa bajak, cangkul, dan sabit, maka di era kontemporer sekarang, orang harus memiliki modal sosial untuk mengarungi hidup. Jika ada kepercayaan, tapi minus relasi dan pengetahuan, maka tidak akan efektif menarik pelanggan. Sebaliknya, relasi tanpa kepercayaan dan pengetahuan sama saja omong kosong.

Hingga sekarang ini, Cak Tarno masih mengandalkan jualan buku-buku bertema sejarah, sastra, filsafat, budaya dan ilmu sosial. Konsumen utama yang dia bidik lebih pada sivitas akademika di lingkup Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). “Saya berusaha menjual buku berbeda dengan yang lain,” imbuh pria kelahiran 16 April 1970.

Yang juga unik dari Cak Tarno adalah pengetahuannya mengenai isi buku berikut pemikiran tokoh-tokoh besar di belantara ilmu sosial dan kemanusiaan. Meski hanya tamatan SMP Islam Dinoyo, dia terdengar begitu lancar mengurai isi buku dan mengeja pemikiran para ahli ilmu sosial macam Pierre Bourdieu, Robert Putnam, James Coleman, hingga Francis Fukuyama.

Saban hari, kata Cak Tarno, dia berusaha rutin membaca buku minimal 10 halaman. Tentu saja untuk menambah pengetahuan dan memperkuat modal sosialnya. Walau tak mungkin membaca seluruh isi dagangannya, paling tidak, ketika ada buku baru, dia wajib menyimak kata pengantar, daftar isi, dan melihat indeks. Setelah tahu gambaran isi buku, baru dia tawarkan ke konsumen. “Saya merasa penting untuk tahu isi buku,” tegasnya.

Nah, di samping lewat jalan membaca, sesekali Cak Tarno juga mengikuti kuliah umum di kampus UI. Di ajang seminar atau kuliah umum itu, tak pernah lupa dia membawa dagangan. Sambil mengasah pengetahuan, sambil berdagang, sambil memikat pelanggan. Tak jarang pula dia bertanya dan berdiskusi langsung dengan para dosen yang lebih tahu soal pemikiran tokoh dan teori tertentu. Termasuk, cara Cak Tarno mengasah modal sosial adalah dengan aktif mengikuti diskusi rutin tiap Sabtu di galeri miliknya.

Inspirasi Kolonel Sanders

Bisnis Cak Tarno memang belum sebesar toko-toko buku ternama. Akan tetapi, melihat perkembangan dan keunikannya berdagang, bukan tidak mungkin Galeri Buku Cak Tarno bakal menjadi pemain besar di masa mendatang. Apalagi, cara dia merangkul pembeli, berbeda dengan toko buku lain yang murni bisnis. Ia berjualan sambil berteman. Para pelanggan mayoritas kenal baik secara personal dengannya.

Ketika disinggung soal strategi pengembangan bisnisnya, Cak Tarno tiba-tiba teringat Kolonel Sanders, seorang tokoh kuliner pensiunan perwira Angkatan Darat Amerika Serikat, pendiri waralaba masakan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) yang terkenal itu. Bagi Cak Tarno, Kolonel Sanders adalah tokoh inspiratif. Sang Kolonel bermimpi bisa memberi makan orang seluruh dunia, meski hanya cita-cita kosong. Namun, kalimat terakhir Sanders, tak henti-hentinya menghujam pikirannnya. “Tapi ingat, dalam diri manusia itu ada ruang kosong. Semakin diisi, semakin lebar kekosongannya,” kata Cak Tarno menirukan Kolonel Sanders.

Dua potong kalimat Sanders itu, sambung Cak Tarno, terkait erat dengan masa depan bisnis buku yang dia geluti. “Masa depan adalah ruang kosong yang harus kita isi terus-menerus. Sampai ajal menjemput, ruang kosong itu akan semakin lebar. Yang penting buat saya bagaimana ruang kosong itu saya isi dengan memberi manfaat kepada orang banyak,” tandasnya.

Gelar “Rektor” dan Sebatang Pohon CTI

Unik, memang, ketika ada seorang yang tak pernah mencatatkan namanya di bangku kuliah diberi gelar rektor. Tapi itulah Cak Tarno. Oleh sejumlah aktivis Cak Tarno Institute (CTI), sebuah komunitas diskusi intelektual-akademik yang bermarkas di galeri buku Cak Tarno, sang pemilik toko diberi gelar informal sebagai rektor. Belum lama ini, CTI merayakan ulang tahun yang ke-9.

Setiap Sabtu, meski hanya di ruang sempit, CTI rutin menggelar diskusi. Mulai dari tema ringan terkait gaya hidup hingga materi berat macam teori filsafat. Para peserta dan pemakalah pun beragam. Ada yang berlatar belakang sastrawan, pemerhati ekonomi, psikolog, mahasiswa, dosen, guru besar UI, bahkan agamawan. Ditemani secangkir kopi, teh, minuman ringan dan cemilan sederhana, diskusi ala CTI ini kerap terasa panas. Di ruang diskusi itu, dalil-dalil ilmiah, argumentasi penuh nalar, dan dialektika yang hidup seperti menembus cakrawala kebebasan berpikir.

CTI, menurut cerita Cak Tarno, sesungguhnya tidak pernah sengaja didirikan. Komunitas ini terlembaga secara alamiah. Jauh sebelum CTI resmi dibentuk, galeri buku Cak Tarno memang menjadi pos berkumpul para mahasiswa, alumni, dan dosen UI. Sepulang dari kampus, mereka nongkrong di galeri tersebut. “Mungkin karena kita selalu terbuka. Siapapun, buat siapapun, saya selalu terbuka. Siapapun datang ke sini, tidak ada beban apa-apa,” jelas Cak Tarno tentang resep nyaman buat para pengunjung.

Barangkali kegemaran Cak Tarno berteman, keramahan, dan keterbukaannya dalam bersosialisasi itulah yang membuat pengunjung galeri menjadi betah. Lambat laun, pelanggan dan pengunjung setia galeri Cak Tarno semakin banyak dan tambah akrab satu sama lain. “Itu mengalir alami saja. Karena saya orangnya senang berteman,” ujarnya.

Penamaan CTI sendiri diawali oleh seorang aktivis diskusi, Rhein Beresaby, tengah janjian dengan dosen filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Donny Gahral Adian. Dengan sedikit berseloroh, Rhein yang juga berprofesi sebagai pengajar di salah satu kampus swasta di Jakarta ini bilang kalau dia sedang nongkrong di Cak Tarno Institute. Sejak itu, CTI mulai diakui oleh publik sebagai nama resmi grup diskusi tersebut.

Jumlah aktivisnya pun semakin tumbuh dengan beragam latar belakang profesi. Tercatat, pegiat CTI antara lain sastrawan Damhuri Muhammad, peneliti Daniel Hutagalung, dosen Rhein Beresaby, dan budayawan muda Ali Syahadat. Beberapa profesor dan doktor dari Universitas Indonesia yang pernah terlibat diskusi CTI di antaranya adalah Dr. Donny Gahral Adian, Dr Bagus Takwin, Dr Akhyar Yusuf Lubis, Ahmad Syafiq PhD, Prof Thamrin Amal Tamagola, dan Prof Deddy Nur Hidayat.

Bagi Cak Tarno, CTI adalah sebatang pohon. “Pohon ini milik bangsa Indonesia. Kalau memang buah dari pohon ini bisa membangun bangsa Indonesia, silakan dipakai. Pohon itu kan ada buahnya, kalau sudah matang, silakan dipakai untuk bangun Indonesia. CTI punya Indonesia,” papar Cak Tarno.

Di samping para akademisi, galeri buku Cak Tarno juga pernah beberapa kali disinggahi artis sekelas Dian Sastrowardoyo. Seleb yang tenar setelah membintangi film 'Ada Apa Dengan Cinta' itu datang untuk mencari buku dan ikut berdiskusi. Dian Sastro memang tercatat sebagai mahasiswi filsafat FIB UI sejak 2001 dan lulus 2007. “Harapan saya soal komunitas ini harus tetap kita jaga. Soal komunitas, biarpun ruang fisik tidak ada, tapi ruang buat berekspresi, berpengetahuan harus dijaga,” tutup Cak Tarno.