Sektor Pariwisata Siap Hadapi AEC

NERACA

Jakarta – Praktisi pariwisata menilai Indonesia siap bersaing dalam ajang ASEAN Economic Community (AEC) yang akan dibuka pada 2015 mendatang. Pasalnya, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya konkret untuk menunjang bisnis sektor tersebut seperti pembangunan 12 bandara baru. Meski begitu pemerintah masih harus melakukan improvisasi agar keberhasilannya maksimal.

“Potensi wisatawan asing ke Indonesia tahun 2014 ini saja bisa mencapai 9,2 juta orang. Saya kurang tahu persisnya tahun 2013 seperti apa. Tapi yang pasti target 2014 menunjukan pertumbuhan. Dan tahun depan dipastikan dapat lebih tinggi dari itu,” kata Chief Operating Officer PT Dwidaya World Wide, Effendy Dharmawan, dalam acara "Overview and Outlook Trend Wisata 2014" di Jakarta, Rabu (29/1).

Hal ini membuat Effendy menilai dari sektor pariwisata Indonesia sudah sangat siap bersaing pada ajang AEC. “Sebagai tuan rumah tentu pemerintah harus punya persiapan yang baik. Hal itu terlihat dengan dibangunnya 12 bandara baru di Indonesia.” Bahkan dengan populasi sebesar 240 juta jiwa Effendy menilai hal tersebut menjadi modal tersendiri.

Terlebih masyarakat Indonesia terkenal dengan ramah-tamahnya. Sedangkan potensi tersebut menjadi salah satu modal yang sangat penting di industri pariwisata. “Tapi memang harus ada pengembangan intelektualitas di tengah masyarakat kita. Agar keramah-tamahan yang kita bangga-banggakan itu betul adanya. Karena modal penting dari pelayanan dalam industri pariwisata yaitu keramahan,” ungkap Effendy.

Selain memanfaatkan jumlah dan krakteristik keprdibadian warga negara, Effendy menghimbau agar pemerintah melalukan improvisasi. Pasalnya dalam bisnis pariwisata harus ada inovasi yang strategis untuk menunjang akselerasi. Sedangkan peran pemerintah bisa dibilang paling penting untuk menunjang akselerasi.

“Pemerintah harus siapkan info-info ter-update untuk dorong akselerasi pariwisata kita dan bekerjasama lah dengan agen pariwisata dalam negei. Dengan senang hati agen pariwisata akan sharing ke publik mengenai info-info itu,” tambah Effendy.

Selain itu Effendy juga menekankan agar pemerintah terus menggalakkan program pertukaran pelajar bersama negara tetangga. Dengan adanya program itu dapat dipastikan informasi tentang pariwisata di Indonesia akan tersebar dengan sendirinya. Sebab para pelajar asing yang belajar di Indonesia sudah pasti juga melakukan wisata domestik.

“Jangan lupa pertukaran pelajar sangat penting manfaatnya. Karena program itu punya multiplayer effect dimana pelajar asing yang ke Indonesia biasanya akan merekomendasi tujuan wisata domestik kepada keluarga mereka di negeri asalnya. Jadi ada keuntungan lain setelah dampak kemajuan pendidikan,” tutur Effendy.

Lanjut, Effendy menilai tantangan wisata tahun 2014 terletak pada fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar. Katanya bila rupiah melemah maka dapat dipastikan pertumbuhan wisatawan inbound akan lebih ramai. Pasalnya dengan lemahnya nilai rupiah maka wisata tujuan Indonesia menjadi lebih murah bagi warga asing.

“Tapi sebaliknya kalau rupiah kembali menguat bisa jadi wisatawan kita yang ke luar negeri dengan tujuan utama biasanya Singapura atau Malaysia. Biasanya wisatatawan kita punya tujuan belanja ke sana,” pungkas Effendy. [lulus]

Related posts