Revolusi Ala Sekolah Perikanan - Dr. Suseno Sukoyono, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP

Revolusi tidak selalu tampil menyeramkan. Justru kata revolusi yang digaungkan oleh dunia pendidikan di bidang perikanan kelautan dan perikanan ini merujuk pada suatu langkah mencetak sumber daya manusia unggul.

Syahdan, Indonesia memang tidak hanya kaya sumber daya alam. Negeri yang punya garis pantai terpanjang kedua di dunia ini juga memiliki sumber daya manusia yang spektakuler. Kendati hanya dengan fasilitas sederhana, beragam prestasi di bidang teknologi lahir dari tangan-tangan mungil para peserta didik. Lebih mencengangkan lagi, temuan-temuan yang kadang terlihat sederhana itu tak sedikit yang diakui oleh dunia. Inilah salah satu wujud dari upaya dunia pendidikan melahirkan prestasi civitas akademika yang cerdas, atau dalam bahasa lainnya, membangkitkan batang yang terendam.

Adalah Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono yang bercerita banyak tentang prestasi kelas dunia dari mahasiswa didik di bidang perikanan. Pejabat eselon I yang bertugas mencetak sumber daya manusia unggul ini, dengan gaya tuturnya yang rapi, mengaku bangga ketika program pendidikan vokasi yang digeber BPSDMKP-KKP sudah mampu menciptakan beberapa teknologi perikanan yang hebat, antara lain Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dan budidaya lele teknologi bioflok mini.

Yang lebih mengharukan, Busmetik secara khusus mendapatkan apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lewat penebaran benur udang di tambak Busmetik di Pacitan, Jawa Timur. Teknologi yang lahir dari program pendidikan vokasi itu pula yang kini mulai ditiru oleh banyak negara. Model pendidikan ala sekolah perikanan binaan BPSDMKP tersebut menggunakan pendekatan teaching factory, dengan pola pendidikan praktik sebanyak 60% dan teori 40%. Para civitas akademika bukan hanya mendapatkan teori, melainkan praktik lapangan yang lebih banyak sehingga mereka lebih kerap bereksperimen dan berinovasi untuk dituangkan dalam bentuk temuan-temuan lapangan.

Menurut Seno—sapaan akrab Suseno Sukoyono, inti dari pola pendidikan vokasi adalah menciptakan SDM unggul, mandiri dan berdaya saing. Di tengah kehausan masyarakat akan terobosan baru, sekolah perikanan menyediakan alternatif baru yang sederhana namun luar biasa. Lewat inovasinya, para mahasiswa perikanan berhasil menyediakan ruang yang tadinya tidak bernilai ekonomis menjadi punya nilai ekonomi tinggi.

Tak lupa, Seno pun memberi ilustrasi. Jika menggunakan tambak konvensional, para petambak memerlukan lahan yang luas 1 hektar, bahkan ada yang 3000 meter persegi. Sebaliknya, apabila menggunakan lahan sempit biaya operasionalnya akan mahal karena harus menggunakan peralatan airator dan listrik yang besar. Maka untuk menyikapai lahan yang terbatas dan biaya mahal itu, lahirlah sistem Busmetik. Dengan lahan 20x30 meter saja, hasil panen udang bisa mencapai 2,2 ton selama 100 hari, sedangkan dengan tambak konvensional hanya menghasilkan 1,8 ton per panen.

Kendati demikian, Seno sepertinya kurang puas jika teknologi karya peserta didiknya hanya sekedar dinikmati oleh dunia pendidikan. Dia ingin, teknologi Busmetik, bioflok, dan yang lainnya bisa menular secara massif ke tengah masyarakat. Seno ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa temuan teknologi ala sekolah perikanan bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan lahan yang kerap mereka keluhkan. Di Serang, Banten, penerapan teknologi Busmetik untuk budidaya udang sudah 30 kali panen. Belum di tempat lain.

Itu sebabnya, kata Seno, sektor perbankan sudah mulai melirik budidaya model Busmetik mengingat tingkat keberhasilannya yang tinggi dan investasi yang lebih murah 30% ketimbang investasi di tambak konvensional. Berbagai temuan yang merupakan hasil kolabarasi dosen, mahasiswa, murid, dan BPSDMKP, tentu saja tidak diraih dalam waktu singkat. Butuh waktu lama dan eksperimen tak kenal lelah yang kemudian dikembangkan lebih dalam pada praktik di lapangan. Akhirnya sedikit demi sedikit, temuan itu dituliskan sehingga berhasil sampai dengan sekarang ini.

Sekolah Menghasilkan Uang

Uniknya, pendidikan vokasi macam ini sekaligus mengajarkan anak-anak didik untuk mandiri dengan menghasilkan uang sendiri. Anak-anak yang sekolah di bawah naungan BPSDMKP, sebut Seno, mempunyai daya juang tinggi. Dia yakin bahwa semangat juang yang tinggi akan bisa membantu dirinya menjelaskan pada masyarakat bahwa sekolah mampu menciptakan lapangan sendiri. “Kami ingin menciptakan center of excelence,” ujar Suseno saat ditemui Neraca di ruang kerjanya, belum lama ini.

Nah, keberhasilan para peserta didiknya dalam mengkreasikan berbagai makan olalah dari ikan adalah catatan tersendiri. Saat ini, cerita Suseno, makanan olahan seperti abon, bandeng tanpa duri, cangkalang kuku, yang dikerjakan anak-anak sekolah sudah masuk dan diterima oleh ritel modern. Lewat pendidikan vokasi, dengan teknologi sederhana, anak-anak sekolah kini bisa menghasilkan uang.

Jadi, lanjut Suseno, fokus dari lembaga yang dipimpinnya adalah membantu anak-anak sekolah agar bisa mandiri. Adapun metoda dan teknologinya juga merupakan hasil karya yang mereka kembangkan. Dengan demikian, anak sekolah atau kuliah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orang tua, bahkan sambil sekolah mereka bisa menghasilkan uang sendiri.

Temuan inilah, yang disebut Seno, sebagai hasil revolusi ala sekolah perikanan. Dia pun berharap bukti revolusi dari anak didik perikanan ini dapat ditiru oleh sekolah-sekolah lain karena sampai dengan saat ini ada sekitar 167 sekolah kejuruan. Jika mampu mengimplementasikan program pendidikan vokasi ini pasti kedepan banyak temuan-temuan yang lebih luar biasa. “Intinya kami membangkitkan batang terendam, sudah ada sesuatu yang kita miliki, kita akan bangkitkan,” ujar Seno.

Related posts