Buat Perubahan, Bayer Rangkul Motivator Muda

Sabtu, 19/10/2013
NERACA Tak sekadar harapan bangsa dalam urusan pendidikan, generasi muda juga merupakan inspirator lingkungan bagi masyarakat. Guna melahirkan bibit-bibit inovatif yang dapat menginspirasi masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan, PT Bayer melalui ajang Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2013 mengajak para anak muda untuk berpartisipasi menciptakan sebuah proyek lingkungan yang dapat memberi kesadaran lebih kepada masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan. Bermula dari inisiatif Bayer di Thailand pada tahun 1995. Ketika itu, BYEE merupakan prakarsa untuk mengapresiasi kaum muda yang telah membuktikan kecintaanya kepada lingkungan melalui berbagai aksi nyata. Berangkat dari pengalaman di Thailand, Bayer mengembangkan keterlibatannya menjadi sponsor utama kegiatan ini di tahun 1998 dan mereplikasi kegiata serupa di Filipina dan Singapura (2001), India (2002), Cina (2003), dan Indonesia (2004). Tanggal 21 Juni 2004 menandai tonggak penting pelaksanaan BYEE, ketika program ini diakui sebagai salah satu program lingkungan dalam naungan PBB untuk lingkungan, United Nation Environment Programme (UNEP). "Bayer melihat bahwa keterlibatan generasi muda dalam menghadirkan solusi penanganan permasalahan lingkungan menjadi faktor penentu utama atas masa depan komunitas asal mereka," kata Presdir PT Bayer Indonesia, Thomas-Peter Hausner belum lama ini. Menurut dia, generasi muda masih memiliki semangat, antusiasme dan cita-cita yang menyala-nyala serta ingin membuat perubahan. Berangkat dari proyek lingkungan, mereka memulai perjalanan dengan misi memberikan kontribusi yang lebih besar. Selanjutnya, para duta muda lingkungan terpilih akan memperoleh pengalaman langsung mengamati dan berinteraksi dengan teknologi yang memerhatikan aspek lingkungan di Jerman, negara asal Bayer. Dua mahasiswa Indonesia, Atika Putri Astrini (Unpad) dan Saiful Syadir dari (Unhas) terpilih sebagai Duta Muda Lingkungan Bayer (BYEE) 2013 atas proposal program lingkungan yang akan mereka lakukan secara berkelanjutan. Semangat hijau ini ditularkan Saiful dalam bentuk kampanye dan pemberdayaan masyarakat. Dia rela mengarungi lautan menuju Pulau Tanakeke di ujung Sulawesi demi mengedukasi masyarakat yang terus membabat habis tanaman bakau demi kayu baker. Lain lagi dengan Atika yang berhadapan dengan kaum urban. Dengan proyek BYEE Vertesac, Atika mengubah perilaku penggunaan kantong plastik dengan sistem tas belanja cerdas. Alhasil, dia meraih penghargaan The Best Project dan akan bersaing dalam kompetisi global BYEE dengan peserta lainnya dari 18 negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. “Kami sangat bangga akan mereka,” tambah Thomas. Kedua mahasiswa asal Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Hassanudin itu berkesempatan berkunjung ke Jerman pada 11-15 November 2013 mendatang guna mempelajari berbagai tren dan sudut pandang perlindungan lingkungan serta konsep pembangunan berkelanjutan. Mereka juga akan mewakili Indonesia dalam Forum Lingkungan Internasional 2013 di Leverkusen, Jerman.