Sun Life Menjawab Kebutuhan Pasar

Asa Berasuransi Menjadi Mitra Ideal

Jumat, 27/09/2013
Ahmad Nabhani - NERACA Jakarta - Menjaga lebih baik dari pada mengobati adalah kalimat bijak yang menggambarkan betapa mahalnya nilai kesehatan itu lebih dari harta yang dimiliki. Pasalnya, sekaya apapun seorang manusia, tatkala sakit menderanya dan tak kunjung sembuh, boleh jadi seluruh harta yang dimilikinya tak mampu mengganti nilai kesehatannya. Begitu mahalnya kesehatan, sehingga seseorang dituntut untuk menjaga kesehatannya sebagai wujud menganugrahi pemberian sang pencipta. Hanya saja, tiap orang memiliki versi yang berbeda-beda untuk menjaga kesehatan dan umumnya gaya hidup sehat adalah pilihannya.

Bagi orang yang bijak, menjaga kesehatan saja tidak cukup tanpa di cover dengan asuransi. Alasanya sederhana, dalam menjalani hidup ini tidak ada yang tahu kapan musibah itu datang. Maka untuk menghindari risiko lebih besar, asuransi menjadi jawabannya. Asuransi perlu dimiliki dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kerugian finansial yang disebabkan oleh resiko ketidakpastian dalam hidup manusia, apalagi menyangkut kesehatan lantaran biaya rumah sakit yang terus melambung tinggi.

Hasil survei Global Medical Trends Report dari Towers Watson pada 2012 menyebutkan, rata-rata kenaikan biaya pengobatan di Indonesia dari 2009 sampai 2011 terus meningkat dari 10,70% ke 13,55% per tahun. Begitu pentingnya asuransi, tentunya propefesi apapun perlu perlindungan dan perencanaan finansial. Karena pada dasarnya, apapun profesi seseorang tentunya selalu mengandung risiko tak terduga, terlebih profesi seorang jurnalis yang bertugas liputan di lapangan. Soal risiko, wartawan sangat menyadarinya, terutama mereka yang meliput di daerah konflik maupun di tempat berbahaya lainnya. Siap tidak siap, mereka harus melaksanakan tugas jurnalistik itu.

Hanya saja pernahkah tersirat dalam benak kita saat para jurnalis yang merupakan ujung tombak media surat kabar ataupun jurnalis televisi mengalami kecelakaan? Bahkan, apa jadinya bila kecelakaan tersebut merenggut nyawa orang-orang terbaik di perusahaan?. Renungan itu bermuara pada satu mekanisme proteksi yang bisa melindungi siapapun dan dalam aktivitas apa pun, yang di dalamnya penuh dengan risiko tak terduga. Dalam konteks ini, produk asuransi jiwa menjadi mitra ideal dalam menyediakan proteksi bagi beragam profesi terhadap kejadian tak terduga di kemudian hari. Secara individual, siapa pun yang membeli produk asuransi jiwa akan mendapat proteksi dari berbagai kejadian di masa depan. Secara korporatif, perusahaan atau entitas apa pun yang sudah memproteksi karyawan pasti terlindungi dari munculnya biaya besar ketika terjadi hal-hal tak terduga, misalnya kasus kecelakaan atau meninggalnya karyawan perusahaan tersebut. Selain itu, ketika seorang profesional, baik karyawan, pengusaha, atau kalangan entertainer mengambil produk asuransi jiwa. Sebenarnya ada orang-orang terdekat yang turut menikmati efek dari proteksi tersebut, yakni suami, istri, atau anak-anak yang bersangkutan yang disebut tertanggung. Keberagaman profesi dengan dukungan berbagai produk asuransi jiwa yang diperlukan akan membuat rasa nyaman bagi tertanggung agar bisa bekerja lebih maksimal dan keluarga.

Penetrasi Pasar Namun ironisnya, begitu pentingnya manfaat berasuransi ternyata belum berbanding lurus dengan penetrasi pasar asuransi di Indonesia yang justru masih kecil. Data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebutkan, penetrasi asuransi jiwa hanya 3% dari jumlah penduduk, namun untuk angka pemegang polis sendiri masih di level 1% dari jumlah penduduk. Sementara data BPS menyebutkan, sekitar 55% dari seluruh rakyat Indonesia belum memiliki jaminan sosial. Adapun 45% atau sekitar 7 6 juta orang umumnya pegawai negeri dan swasta yang sudah memiliki jaminan kesehatan masyarakat. Rinciannya, 16 juta orang memiliki Askes, 4 juta mengantongi Jamsostek, 3 juta mempunyai asurasi komersial dan 2 juta orang anggota Jamkesda.

Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia Bert Paterson mengatakan, tingginya jumlah penduduk Indonesia yang membayar sendiri biaya kesehatan disebabkan masih minimnya edukasi tentang manfaat asuransi dan lebih mengutamakan keperluan lain dibandingkan kesehatan. Tercatat sebagian besar penduduk Indonesia membayar biaya kesehatan secara mandiri atau tidak melalui asuransi, dengan angka mencapai 70%.

Bert mengatakan, prioritas kehidupan manusia berpatokan pada tiga hal yaitu kesehatan, pendidikan, dan dana pensiun. Lebih jauh, Bert mengatakan, ada dua tren yang memengaruhi seluruh dunia. Pertama, angka harapan hidup semakin tinggi. Yang kedua, dunia pengobatan semakin canggih sehingga semakin banyak masyarakat bisa diselamatkan dari penyakit-penyakit yang mematikan. Akan tetapi, Bert berpandangan ketika umur manusia semakin lama dan pengobatan semakin canggih, maka biaya yang dibutuhkan manusia untuk merawat kesehatannya pun semakin besar. ”Dengan berkembangnya usia rata-rata hidup pasti problem kesehatan jadi utama dan problem kesehatan tak bisa lepas dari problem keuangan,” ujarnya. Menjawab kebutuhan nasabah untuk melindungi dirinya dan keluarga dari biaya rumah sakit yang tidak terduga, PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) meluncurkan layanan perlindungan kesehatan terbaru yaitu Sun Medical Executive (Sun MED). Elin Waty, Chief Distribution Officer PT Sun Life Financial Indonesia mengatakan, produk ini memiliki penawaran beragam manfaat yang berbeda dengan produk lain.

Dengan tarif premi yang kompetitif, Sun MED menyediakan solusi perlindungan pintar yang lengkap untuk semua kalangan nasabah dengan usia pertanggungan mulai dari 15 hari sampai dengan 88 tahunpilihan tepat untuk perlindungan kesehatan dan juga mendukung perencanaan keuangan individu dan keluarga. Keunggulan yang bisa didapatkan dari SunMED antara lain klaim dibayar sesuai dengan kuitansi, fleksibilitas dalam menambah manfaat perlindungan, perlindungan manfaat kesehatan yang komprehensif, serta memiliki fasilitas cashless (non-tunai) yang mempermudah pembayaran klaim rumah sakit.

Adapun enam manfaatkan yang di tawarkan Sun MED adalah penggantian rawat inap akan dibayar berdasarkan tagihan yang disesuaikan dengan batas tahunan, penggantian biaya pembedahan, penggantian biaya medis, biaya untuk rawat jalan. Kemudian adanya santunan meninggal karena kecelakaan untuk keluarga yang ditinggalkan dan fasilitas peningkatan limit tahunan.