Nasabah Asuransi RI Baru 4%

Jauh Tertinggal dari Malaysia dan Singapura

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Pemerintah menilai Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia melalui pajak terbilang sangat kecil. Pasalnya belum ada kesadaran dari masyarakat untuk turut serta menggunakan jasa asuransi. Padahal dengan mendaftarkan diri pada jasa asuransi pemegang premi dapat merasa aman di kala mendapat musibah.

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Djaelani mengungkap, dari 240 juta penduduk seluruh Indonesia baru 4% atau sekitar 62 juta jiwa saja yang telah menggunakan produk jasa asuransi. Dari seluruh pengguna jasa asuransi itu pun hanya sekitar 10 juta orang saja yang merupakan pegguna individu dan lebih dari separuhnya merupakan asuransi kelompok.

“Kita sudah tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Negara-negara itu sudah mencapai sekitar 10% dari total penduduknya yang telah mendaftarkan diri di jasa asuransi. Boleh dibilang penduduk negara mereka sudah lebih melek akan pengetahuan ekonomi,” kata Firdaus di gedung MM FEUI Salemba, Selasa (20/8).

“Masih sangat kecil kontirbusi jasa asuransi pada ekonomi dalam negeri kita. Dalam skema PDB kontribusinya hanya sekitar 2%. Sedangkan total aset industri asurasi dalam negeri kita sudah mencapai Rp550 triliun dengan pertumbuhan aset sebanyak 25% per tahun,” tambah Firdaus.

Pada kesempatan yang sama guru besar bidang Ilmu Manajemen di FEUI Rhenald Kasali melihat ironis mengenai fenomena ini. Katanya berdasarkan data OJK dapat dibilang penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Artinya masih banyak ruang dan potensi yang belum diasuransikan. “Padahal pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia sangat tinggi. Maka semestinya kebutuhan asuransi juga dapat meningkat beriringan,” tuturnya.

Selain itu Rhenald juga melihat volume kaum muda di di Indonesia bisa dibilang sangat kuat dibanding negara-negara lain. Semestinya itu juga dapat dijadikan potensi untuk mendorong jumlah pengguna asuransi di Indonesia. Karena pengguna jasa asuransi memang diperuntukan kepada anak muda dengan maksud menyiapkan biaya di hari tua. Sedangkan orang tua semestinya sudah mendapat jaminan, baik oleh negara maupun melalui premi asuransi yang telah ditanggung sejak muda.

“Kemudian jumlah masyarakat menengah ke bawah juga masih sangat besar. Artinya jaminan sosial dari negara juga harusnya besar. Namun sayang pemerintah belum memberi perhatian akan hal ini. Sehingga kontribusi asuransi tidak terdorong untuk memberi kontribusi lebih besar terhadap PDB,” tambah Rhenald.

Adapun sebab-sebab yang membuat jumlah pengguna asuransi di Indonesia belum meningkat salah satunya paradigma masyarakat Indonesia untuk menanggulangi musibah masih konservatif. Investasi masih ditekankan dalam bentuk perilaku. Sehingga pada saat ada saudara atau tetangga yang meninggal maka masyarakat segera melibatkan diri. Begitu juga sebaliknya, ketika kita ada musibah maka tetangga kita itu akan balas budi.

“Umumnya permasalahan musibah kan diserahkan pada keluarga besar dan komunitas. Jadi kalau ada yang meninggal semua warga sekampung turun tangan. Bahkan di Bali masyarakatnya punya sistem sendiri untuk membiayai ngaben yaitu dengan membuat jaminan sosial bersama,” terang Rhenald.

Selain itu dari sisi perusahaan Rhenald mengamati bahwa sebetulnya perusahaan asuransi dalam negeri memang belum kontekstual. Produk-produk yang diramu masih belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu minat masyarakat untuk ikut serta dalam asuransi juga sulit terdorong.

Terakhir Rhenald juga member perhatian terhadap regulasinya. Katanya regulasi-regulasi di Indonesia belum ramah terhadap asuransi. Ia memberi contoh mengenai asuransi kecelakaan. Menurutnya di beberapa negara sudah ada kewajiban ikut asuransi kecelakaan bagi pemilik Surat Izin Mengemudi (SIM). Sedangkan di Indonesia belum ada penerapan kewajiban itu. “Padahal ini perlu agar ketika ada kecelakaan tidak ribut-ribut di jalan. Coba kita lihat sekarang di jalan setiap ada kecelakaan semua orang ribut berkelahi. Akhirnya jadi rame, macet, dan malah menggangu pengguna jalan yang lain,” tukasnya. (lulus)