Tak Ingin Kecewakan Pelanggan

Lina Indiarti SE, MM, Dirut PT Indica Setya Gemilang dan PT Indica Multi Kreasi

Sabtu, 31/08/2013

Lina Indiarti SE MM

Tak Ingin Kecewakan Pelanggan

Siapa bilang produk rumahan kita kualitasnya lebih rendah dari produk impor. Contohnya, garmen. Buatan Indonesia sudah banyak diekspor ke Amerika Serikat, termasuk yang bermerek internasional seperti Mark Spencer. Pembuatannya di Bandung dan Citeureup.

Karena itu Lina Indiarti tak begitu gusar dengan membanjirnya produk asing, terutama dari China di pasar-pasar lokal di Jakarta. Dia menyontohkan, pakaian batik Indonesia tetap lebih berkualitas dari buatan China. “Terutama jika dilihat dari jahitan dan finishingnya,” kata Lina, direktur utama PT Indica Setya Gemilang dan PT Indica Multi Kreasi ini.

Untuk menjaga kualitas, dia pun berpesan kepada karyawan maupun mitra rekanannya untuk selalu menjaga kualitas, kebersihan, dan kerapian setiap pekerjaannya. Sebab, kata istri Marsdya (pur) Wresniwiro ini, jika produk kita berkualitas, orang akan merasa puas dan kelak akan memesan lagi. “Jaga kualitas, kebersihan, dan kerapian, agar tak mengecewakan pelanggan,” kata dia.

Kedua perusahaan yang dipimpinnya bergerak di bidang busana atau fesien. Usaha itu awalnya tak sengaja. Sebelumnya, Lina sudah memiliki usaha di bidang periklanan dan event organizer (EO) melalui PT Nextar Lima Pandawa. Saat menggarap even BUMN maupun bank-bank, ada yang pesan dibuatkan seragam maupun model jas, karena mereka tertarik dengan pakaian yang dikenakannya. Keahliannya membuat busana itu setelah mengikuti kursus singkat bidang desain busana (fashion design) Esmod Indonesia pada 2010 lalu.

Dia berharap, pemerintah mau membantu dan mengembangkan dunia usaha dalam negeri. Misalnya dengan mewajibkan penggunaan produk lokal dalam setiap kesempatan. Misalnya,seragam kantor harus menggunakan bahan lokal, baik batik maupun model lain seperti lurik, tenun, dan songket, juga tas dan sepatu.

“Dengan cara demikian maka produk lokal akan hidup dan berkembang, tak kalah dengan produk asing,” kata Wakil Ketua Kompartemen Tetap Distribusi dan Keagenan Kadin DKI ini. Pemerintah, kata dia, harus mampu menciptakan kondisi agar masyarakat merasa bangga dengan memakai buatan sendiri.

Bantuan pemerintah juga tidak boleh setengah-setengah. Agar sektor produksi dalam negeri dan UMKM berkembang dan bisa bersaing, pemerintah harus mengupayakan pola pembiayaan yang adil. Kalau di negeri China, pemerintahnya memberikan kredit dengan bunga sangat murah maupun bentuk kemudahan lainnya, termasuk perizinan. “Itu sebabnya dilihat dari harga, produk China bisa lebih murah, sedangkan masyarakat kita sekarang ini cenderung memilih barang yang harganya lebih murah,” katanya.

Motivasi Berbisnis

Ibu empat anak itu mulai terjun ke dunia bisnis sejak suaminya Wresniwiro pensiun sebagai wakil Kepala Staf TNI AU (Wakasau). Sebelum pensiun, para istri perwira itu lebih banyak mendampingi suaminya ke mana suaminya bertugas dan aktifnya di Pia Ardhia Garini. Sebelumnya dia juga mengajar di almamater maupun beberapa perguruan tinggi saat masih di Yogya.

Menurut alumnus jurusan manajemen Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta itu, peluang usaha di Jakarta itu masih terbuka lebar, kesempatannya sangat terbuka di segala kelas, tergantung bagaimana kita membidik peluang itu. “Ada kelas-kelasnya, kelas bawah ada di mana, kelas atas di mana, bagaimana kita membidik peluang itu, itu gunanya wadah organisasi seperti Kadin, Iwapi, dan Hippi, kebetulan bidang saya itu UKM,” ujarnya.

Justru usaha terbanyak di Jakarta adalah kelompok UMKM. Dia pun mengungkapkan kembali bagaimana saat Indonesia dilanda krisis moneter pada sekitar 1998. Banyak bank bangkrut, tapi nyatanya sektor UMKM tetap bisa eksis. “Demikian juga banyak perusahaan mengurangi tenaga kerjanya karena ada kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di Jakarta, sektor UMKM tetap juga bisa bertahan,” tuturnya.

Tapi ada satu hal yang patut disimak. “Saya ingin banyak beribadah, bersedakah, dan berbagi. Jadi, dengan membuka usaha berarti akan dapat membuka lapangan kerja dan berbagi rezeki,” katanya. Falsafah hidup itulah yang dijalaninya bersama sang suami yang juga sama-sama aktif baik di bidang bisnis maupun organisasi.

Dalam menggerakkan usahanya, Lina banyak ditopang oleh para kaum ibu di lingkungan sekitarnya. Mereka ada yang bekerja menjadi karyawan tetap, ada yang kerja paruh waktu, maupun menerima order berdasarkan pesanan yang datang. Dalam sistem penggajian, dia juga memberikan dalam bentuk gaji, uang transpor, uang makan, juga tunjangan kesehatan bagi para karyawannya. Jika dihitung-hitung, tak jauh dari UMP DKI Jakarta yang mencapai Rp 2,2 juta per bulan. “Jadi, saat UMP naik, ya saya nggak kaget.”

Hidup di Jakarta memang penuh hingar-bingar, terutama akibat kemacetan di jalanan. Itu sebabnya, dia dan suaminya lebih suka tinggal di daerah pinggiran Jakarta yang masih memiliki kesejukan dan ketenangan. “Saya merasa tenang begitu sampai rumah banyak aneka tanaman dan peliharaan,” kata pemilik burung merak dan unggas lainnya. (saksono)

BIODATA

Lina Indiarti SE MM

Kelahiran : Langsa (NAD), 29 Maret 1966

PENDIDIKAN

SMAN I Magelang (1984)

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta (lulus 1989)

John Robert Powers, 1992

Magister Manajemen MM UII (lulus 1997)

Training for Trainer Garuda Indonesia (2004)

Esmod Indonesia, Jurusan Fashion Design (2010)

KARIR/BISNIS

Dosen di STIE YKP dan FE UII Yogya (1997-1999)

Sekretaris LP3M STIE YKP (1997- 1999)

Komisaris Utama PT Nextar Indonesia (2008 – sekarang)

Direktur Utama PT Indica Setya Gemilang (2008- sekarang)

Direktur Utama PT Indica Multi Kreasi (2011 – sekarang)

ORGANISASI

Wakil Ketua Kompartemen Tetap Distribusi dan Keagenan Kadin DKI (2010-2013)

Ketua Divisi Pengadaan Barang dan Jasa Hippi DKI Jakarta (2011-2016)

Anggota Asosiasi Rekanan dan Distributor Indonesia (Ardin)