Indonesia Latah Branchless Banking

NERACA

Jakarta –Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri perbankan mulai tertarik untuk menggandeng rekanan non-bank guna membangun jaringan layanan masyarakat yang lebih kuat di luar unit kantor layanan yang telah dimiliki.

Konsep yang kondang dengan istilah Branchless Banking tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi perbankan lantaran untuk melakukan ekspansi layanan ke suatu tempat, bank tidak perlu lagi keluar dana investasi besar untuk membuka atau menyewa kantor cabang baru, melainkan tinggal memanfaatkan infrastruktur milik rekanan yang telah digandeng.

“Ini konsep yang bagus ke depan. Namun kita perlu ingatkan jangan sampai tren (branchless banking) ini membuat bank lupa untuk menggarap mobile banking,\" kata ketua Umum Perbanas Sigit Pramono di Bandung, akhir pekan lalu.

Menurut Sigit, sebenarnya untuk mobile banking Indonesia sudah sangat kuat dibanding negara-negara ASEAN lain. Bahkan salah satu yang terkuat di dunia. \\\"Jangan sampai investasi di sektor ini kemudian dilupakan,” ujar Sigit.

Bagi Sigit, jika konsep branchless banking dinilai bisa meningkatkan efisiensi perbankan, maka konsep mobile banking tidak boleh dipandang sebelah mata dalam mendongkrak tingkat efisiensi bank.

Lantaran, bila konsep branchless banking masih tetap membutuhkan bangunan fisik sebagai tempat bertransaksi, mobile banking bahkan sudah tidak lagi memerlukan sebuah bangunan fisik untuk melakukan layanannya.

“Branchless banking pun masih membutuhkan tempat (transaksi), walaupun kemudian bank tidak perlu membangun atau menyewa sendiri, melainkan kerjasama dengan pihak lain. Tapi kalau mobile banking, (tempat transaksi) sama sekali tidak dibutuhkan. Jadi (mobile banking) ini juga harus kita bangun, termasuk juga internet banking. Terlebih bila kita melihat penggunaan perangkat telekomunikasi di Indonesia juga sangat massif,” terang Sigit.

Tren membangun layanan mobile banking tersebut, lanjut Sigit, sudah banyak dilakukan oleh bank-bank besar, namun belum banyak dilirik oleh bank-bank menengah dan kecil. Pasalnya, untuk menyediakan layanan mobile banking, sebuah bank membutuhkan modal awal yang cukup besar untuk investasi infratsruktur perangkat IT yang mendukung.

Sigit menyebut, agak aneh sebenarnya kalau Indonesia latah dengan konsep branchless banking. Apalagi jika model branchless banking mengacu kepada model serupa yang diterapkan di Philipina. \\\"Perbankan Indonesia lebih maju, kenapa kita malah meniru perbankan Philipina yang sebenarnya lebih tertinggal dibanding Indonesia,\" ujarnya.

Sebelumnya ada 5 bank yang mengikuti uji coba branchless banking ini yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank CIMB-Niaga, Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN), dan Bank Sinar Harapan Bali.

Kelima bank yang mengikuti uji coba ini merupakan penunjukkan dari Bank Indonesia (BI). Sementara kriteria bank yang mengikuti uji coba branchless banking belum diatur secara transparan oleh BI. Misalnya skala aset, kemampuan SDM dan IT serta permodalannya pendukung uji coba tersebut.

Bahkan BI masih menunggu masukan dari ke-5 bank yang berpartisipasi dalam uji coba ini. Nantinya, masukan tersebut akan menjadi standardisasi yang akan diterapkan secara umum bagi program branchless banking di bank-bank lain.

BI mendorong program branchless banking ini karena masih banyak segmen masyarakat yang belum sepenuhnya tersentuh layanan perbankan. Menurut survei World Bank tahun 2010, terdapat 49% masyarakat Indonesia yang masuk ke kategori unbanked people. kam

Related posts