Prudential Bebaskan Nasabah Pilih Investasi

NERACA

Jakarta - PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) mengatakan bagi nasabah yang ingin memilih investasi di PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund sebagai dana investasi, terlebih dahulu harus memiliki polis premi reguler dan polis premi tunggal.

Business Development Director Prudential Indonesia, Ahmir ud Deen, menjamin kalau Prudential Indonesia tidak mengkotak-kotak nasabah dalam memilih varian investasi keuangan tersebut. Dia mengatakan, target utama dari varian baru ini adalah masyarakat yang memang mempunyai tingkat risiko besar dan lebih memilih investasi bersifat jangka menengah dan panjang.

“Ini pertama kali Prudential Indonesia meluncurkan (produk investasi) ke luar negeri. Sifatnya juga jangka panjang. Diharapkan nasabah yang memilih investasi ini memang memahami sekali, baik risiko maupun PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund”, jelas Ahmir di Jakarta, Selasa (12/2).

Dia juga menjelaskan, alasan Prudential Indonesia mengambil keputusan meluncurkan varian tersebut, serta penempatan China sebagai dana investasi didasari dari hasil riset yang telah dilakukan oleh Prudential Indonesia kepada sejumlah responden. Apalagi, imbuh Ahmir, varian unitlink pertumbuhannya tetap baik pada 2012.

“Di kuartal III-2012, porsi unitlink lebih dari 90%, dan sisanya 10% itu non unitlink. Memang masih baik. Peluncuran ini juga didasari dari penelitian yang kami lakukan. Tentu kita tidak mengkotak-kotak masyarakat mana yang ingin membeli produk baru ini. Kami mempersilahkan saja,” terang Ahmir.

PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund, merupakan produk dana investasi pertama Prudential Indonesia dengan alokasi dana yang diinvestasikan ke luar negeri, yakni Greater China (China, Hong Kong dan Taiwan). PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund diluncurkan dengan dua mata uang, rupiah dan dolar AS, di mana produk dana investasi tersebut menambah enam produk dana investasi konvensional dan tiga produk dana investasi Syariah yang sudah ada.

Dana investasi tersebut mempunyai tujuan utama untuk mendapatkan hasil investasi maksimal jangka panjang melalui penempatan dana, khususnya pada efek bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan yang tercatat, didirikan, atau melakukan kegiatan operasional utama di Indonesia dan kawasan Greater China.

Dengan alokasi investasi yang dilakukan di kawasan Greater China, investor mendapatkan kesempatan untuk melakukan investasinya pada efek bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan besar dari berbagai macam industri baru yang tidak ada di Indonesia.

Sebelumnya, pada tahun lalu, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 53/PMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi mengizinkan perusahaan asuransi untuk melakukan investasi di luar negeri secara langsung atau tidak langsung, di mana penempatan investasi pada instrumen di luar negeri diperbolehkan maksimal 20% dari total portofolio.

Dengan demikian, maka dana PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund akan dialokasikan sebesar 80% di Indonesia dan 20% di kawasan Greater China melalui kerja sama pengelolaan dana khusus untuk PRUlink Indonesia Greater China Equity Fund antara Prudential Indonesia dengan Eastspring Investments Indonesia, anak usaha Prudential di bidang investasi. [ardi]

BERITA TERKAIT

Aturan Hedging Produk Investasi Bakal Dirilis - Tekan Risiko Investasi

NERACA Jakarta – Ambisi guna meningkatkan minat investasi dan mendongkrak transaksi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bilang…

Tavisamira Janjikan Tiga Tahun Uang Kembali - Investasi Properti di Bali

NERACA Serpong-  PT Anugerah Kasih Satu (AKS), salah satu anak usaha PT Anugerah Kasih Investama (AKI) Group yang sedang mengembangkan…

Bakrieland Pilih Pendanaan Rights Issue - Restrukturisasi Utang Rp 3,9 Triliun

NERACA Jakarta - Pemegang saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyetujui rencana perusahaan untuk menerbitkan waran dengan mekanisme penambahan modal…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Masyarakat Diingatkan Untuk Tak Gunakan Mata Uang Virtual

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan transaksi menggunakan mata…

KSSK Cermati Tantangan Pengaruhi Stabilitas Sistem Keuangan

      NERACA   Jakarta - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi stabilitas sistem…

Risiko Kredit Bank Diklaim Menurun

      NERACA   Jakarta - Risiko kredit industri perbankan menunjukkan penurunan meskipun tidak signifikan di awal 2018, terindikasi…