Perjuangkan Amnesti Pajak Bagi UKM - Aviliani, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional

Ekonom Aviliani menjadi bintang dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Proyeksi Ekonomi 2013: Peluang dan Tantangannya’ yang diadakan Direktorat Direktorat Pengolahan dan Penyediaan Informasi, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika di sebuah hotel di kawasan Tanah Abang, Rabu (21/11).

Sebab, dia satu-satunya narasumber perempuan di antara empat narasumber yang diundang. Kebetulan dia tampil di sesi pertama. Tiga narasumber lainnya adalah ekonom LIPI Latif Adam, Kepala Divisi Komunikasi Publik dan Promosi Kemenko Perekonomian Edib Muslim, serta A Prasetyantoko dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PLLM) Unika Atmajaya Jakarta.

Selain karena perempuan, statemennya pun juga cukup brilian, berupa ramalan ekonomi tahun depan maupun perjuangan agar pemerintah mau memberikan amnesti pajak terutama di kalangan usaha kecil, dan menengah (UKM). Usulan itu bukan tanpa sebab. Menurut perempuan berkacamata ini, dengan cara demikian, target perolehan dari sektor pajak dapat tercapai, bahkan terlampaui. Dan yang terpenting, dengan kebijakan itu, kalangan UKM akan makin berkembang pesat.

“Ada baiknya pemerintah memberikan amnesti atau penghapusan pajak bagi UKM, pajak hanya dikenakan bagi pendapatan yang diperoleh,” kata perempuan kelahiran Malang, 14 Desember 1961 ini. Menurut dia, amnesti itu berarti penghapusan pajak untuk tahun-tahun lalu. “Anggap saja hibah pemerintah,” ujar Aviliani yang kini memiliki sejumlah jabatan penting.

Di antara jabatan yang kini disandangnya, sebagai komisaris independen Bank Rakyat Indonesia (BRI), sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN). Yang terang, dia masih tercatat sebagai pengamat ekonomi dari Indonesian Development of Economics and Finance (Indef).

Pada kesempatan itu, Aviliani juga meramalkan hingga 2014 tidak akan ada kenaikan harga BBM. Sebab, kata dia, dalam dua tahun ke depan, yaitu 2013 dan 2014, adalah tahun politik. “Kenaikan harga BBM jelas akan dihindari oleh para politisi dan partai politik, karena sangat tidak popular di kalangan masyarakat,” ujar perempuan yang saat ini tinggal di sebuah apartemen di kawasan Pos Pengumben, Jakarta Barat ini.

Usai memasuki sesi tanya jawab, Aviliani bergegas pamit untuk meninggalkan ruang pertemuan. “Saya harus menjadi juri lomba,” katanya buru-buru tanpa menjelaskan sebagai juri apa dan di mana.

Memang, dalam riwayat hidupnya, Aviliani dikenal sebagai pembicara dari seminar ke seminar, juga spesialis moderator debat capres. Namun, kehidupannya tak jauh dari dunia peneiltian dan kampus. Gelar akademiknya diperoleh dari tiga kampus yang berbeda. Gelar kesarjanaannya (S1) diperoleh dari Fakultas Ekonomi Unika Atmajaya, gelar S-2 didapat dari Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Administrasi Negara Universitas Indonesia. Sedangkan gelar doktor (S-3) diraih di Program Doktoral Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB). Disertasinya berjudul Analisis Segmentasi Nasabah Tabungan Bank Berdasarkan Costumer Value (studi pada satu bank BUMN).

Sejumlah jabatan akademik juga disandangnya. Antara lain sebagai ketua Jurusan Manajemen Universitas Paramadina hingga sekarang. Aviliani juga aktif di berbagai organisasi profesi. Misalnya, tercatat sebagai sekretaris umum Konsorsium Lembaga Pengabdian PTS se-Indonesia sejak tahun 2000 hingga sekarang. Avi juga terlibat aktif di Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) sebagai wakil sekretaris.

Pemain Ketoprak

Apa hobi Avi? Rupanya dia juga pemain ketoprak. Dia tampil terakhir berperan sebagai istri Raja Amangkurat dalam lakon Untung Surapati’ digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Juni lalu, Para pemain lainnya adalah seniman dari Yayasan Adhi Budaya dan para pemimpin redaksi media massa Ibukota yang tergabung dalam Forum Pemimpin Redaksi. Ketika bertindak sebagai Rja Amangkurat adalah Bmbang Supeno, direktur BRI. "Ini bagian dari upaya saya dan teman-teman dalam melestarikan seni budaya lokal," kata Aviliani. Jadilah Aviliani, ekonom ketoprak. (saksono)

BERITA TERKAIT

BI dan Pemerintah Canangkan Syariah jadi Arus Baru Ekonomi

    NERACA   Surabaya - Bank Indonesia (BI), pemerintah dan instansi terkait mencanangkan syariah untuk menjadi arus baru ekonomi…

Ketidakpastian Bayangi Ekonomi 2019

Oleh: Sarwani Harap-harap cemas menanti pergantian tahun 2018 ke 2019. Berharap semuanya menjadi lebih baik pada tahun baru nanti. Ekonomi…

Nilai Ekonomi Pertanian Lebak Tembus Rp1,2 Triliun

Nilai Ekonomi Pertanian Lebak Tembus Rp1,2 Triliun NERACA Lebak - Perguliran nilai ekonomi sektor pertanian di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…