Perjuangan Mengejar Mimpi Sang Miliader

CEO Financial Services Firm Freeman Fox: Peter Spann

Sabtu, 06/10/2012

NERACA

Anda perlu sedikit tuli saat mencoba untuk mengejar mimpi, karena akan banyak suara yang tidak menginginkan Anda untuk sampai ke sana. Mungkin inilah yang dilakukan Peter Spann, pria kelahiran Australia, 1974 dalam mengejar mimpinya menjadi orang kaya. Dan itu sudah dibuktikannya.

Kisah CEO Freeman Companies yang memiliki tiga perusahaan dan enam jenis industri memang terbilang fantastis. Mimpi Spann diawali pada usia 22 tahun. Langkah pertama yang dilakukannya adalah menghabiskan waktu di depan televisi dan membaca buku atau majalah seputar lifestyle orang-orang kaya yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Beberapa usaha yang dirintis Spann untuk mewujudkan mimpinya menjadi orang yang memiliki uang yang melimpah, kerap kali kandas di tengah jalan, bahkan Spann sempat terlilit utang yang tak sedikit.

Dia jatuh bangkrut lalu memaksa dirinya untuk pindah ke sebuah rumah kecil yang tidak layak huni. Bahkan untuk bertahan hidup, Spann hanya memakan ikan tuna kalengan yang sudah kadaluarsa, maklum dengan sedikit kadaluarsa maka produk tersebut akan di-discount lebih banyak saat dia membelinya di pasar swalayan.

Kehidupan Spann mulai tidak menentu. Kegagalan demi kegagalan yang dialami Spann, membuatnya sangat tertekan. Ia bukan hanya muak pada dirinya, temannya, bahkan Spann tak jarang memprotes Tuhan yang telah membiarkan hidupnya begitu merana tanpa seorang pun mau mengulurkan tangan menolong.

Ketika terjaga di pagi hari, Peter Spann hanya bisa menangismerenungi nasib dan masa depannya yang suram.

Suatu waktu, dia mencapai tingkat keletihan yang amat sangat. Namun bukan sumpah serapah yang biasa ia lontarkan, tiba-tiba dia bangkit dari tempat tidurnya dan bersumpah, “Saya tidak akan pernah lagi membiarkan diri saya begitu rendah. Suatu hari nanti saya akan menjadi seorang miliader besar,” lantang suara Spann memantul di hadapan cermin.

Dia mulai membuka kembali daftar nama para sahabatnya yang lama dia abaikan. Dari nama itu, dia menemukan nama seorang sahabat yang ayahnya paling kaya. Dia berharap ayah sang sahabat mau memberi saran gratis seputar rahasia meraih kekayaan. Inilah momentum yang membawa keajaiban dalam hidup Spann.

Saat bertemu ayah sahabatnya, dia ditanya, “Apakah kamu pernah lihat uang $1 juta.” Spann menggeleng. Kalau begitu kamu harus cari tahu, kata si pembimbing. Spann sempat kecewa mendapatkan tugas mencari tahu seberapa banyak uang $1juta. Semua di luar dugaan, tak ada pelajaran rahasia kehidupan, rahasia alam semesta dan atau rahasia menjadi kaya.

Namun Spann akhirnya sempat melihat uang $1 juta. Uang itu ternyata tak sebanyak yang dia bayangkan. Hanya sekitar 60 cm persegi, dengan volume tak kurang dari 1 meter kubik, tak lebih daripada sebuah lemari teh.

Saat Spann bertemu dengan ayah sahabatnya, dia bertanya pada Spann, “Bagaimana pendapatmu dengan uang $1 juta?,” Spann jawab, “Sejujurnya tidak banyak,” kata Spann.

Lalu Ayah sahabatnya berkata, “Banyak orang mengira $1 juta itu sangat banyak. Padahal, tidak. Jika orang berpikir seperti itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi miliuner,” ungkap Ayah sahabatnya mengajarkan sebuah rahasia dalam mengubah cara berpikir dalam menilai uang.

Walhasil dalam tujuh tahun sejak pertemuan dengan sang pembimbing, Spann beranjak dari rumah yang tak layak huni dan pekerjaan sebagai seorang operator mesin kasir paruh waktu di sebuah pasar swalayan, lalu menjadi seorang miliader yang tinggal di sebuah rumah mewah di pantai pelabuhan Sydney, dan tetap memandang bahwa uang $1 juta adalah uang kecil.