Surplus NPI Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta—Pemerintah mengatakan surplus neraca perdagangan Indonesia (NPI) sebesar 248,5 juta dolar AS akan mendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar 6,5 %. "Dengan dua mesin pertumbuhan yang kuat yaitu investasi dan surplus perdagangan, saya yakin pertumbuhan dapat terdorong sehingga target pertumbuhan tahun ini bisa tercapai," kata Menteri Koordinator Bidang perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta,1/10

Lebih jauh kata Hatta, upaya pemerintah dalam mengendalikan impor telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan sehingga pencapaian surplus seperti sekarang ini harus terus dijaga. Selain itu, kedepannya nanti, pemerintah akan terus mendorong peningkatan ekspor.

"Impor sekarang turunnya sangat tajam, sekitar 15 % lebih, dan kita memang menjaga dan mengendalikan impor itu sebaik mungkin khususnya yang bersifat konsumtif, lalu investasi yang masuk juga kita jaga agar tidak banyak menggunakan komponen impor. Biasanya, penurunan ekspor diikuti kenaikan impor, tapi ini impornya malah turun, capaian ini harus kita jaga," katanya.

Menurut Hatta, tingginya nilai impor dalam bulan-bulan sebelumnya kemungkinan besar diakibatkan oleh masuknya impor barang modal. Tapi dalam kuartal terakhir, impor barang modal sudah mulai berkurang , bahkan sudah tidak ada lagi. "Saya belum cek datanya, kemungkinan impor barang modal kita sudah mulai selesai, sekarang hanya tinggal fase produksi dan produktifitas dimulai," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2012 menunjukkan surplus sebesar 248,5 juta dolar AS. Data BPS menunjukkan surplus disebabkan oleh nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor, yaitu 14,12 miliar dolar AS. Sedangkan nilai impor pada Agustus mencapai 13,87 miliar dolar AS.

Secara komulatif, sejak Januari hingga Agustus tahun ini, neraca perdagangan juga surplus sebesar 496,7 juta dolar AS. Rinciannya, selama delapan bulan tersebut, jumlah ekspor sebesar 127,17 miliar dolar AS, sedangkan nilai impornya 126,67 miliar dolar AS.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan III 2012 akan berada pada kisaran 6,3%-6,5 % terutama didorong investasi dan konsumsi. "Inflasi bagus, investasi masih kuat, kita masih di range 6,3-6,5 % di kuartal III," ungkapnya

Menurut Bambang, penyumbang pertumbuhan pada triwulan III didominasi oleh investasi, konsumsi dalam negeri dan penyerapan anggaran belanja pemerintah yang makin meningkat. "Penopangnya investasi asing masih masuk, penyerapan belanja modal atau belanja pemerintah secara umum semakin baik, terus konsumsi," jelasnya

Sementara itu Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan pertumbuhan pada triwulan III akan lebih tinggi dari triwulan II yang tercatat mencapai 6,4 %. "Pada kuartal III dorongan dari pengeluaran pemerintah besar, tender dan realisasi banyak pada kuartal III, dari situ bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Dikatakan Sasmito, pertumbuhan triwulan III akan dibantu oleh peningkatan konsumsi domestik yang selama ini masih dominan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi nasional. "Inflasi kita rendah walaupun ada lebaran, tapi permintaa kita tinggi pada kuartal III bahkan kemungkinan besar lebih bagus dari kuartal II," kata Sasmito.

Sementara pada RAPBN 2013, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 % yang didukung oleh tingkat investasi serta konsumsi domestik. **bari