Sebuah Kolaborasi Seni dan Entrepreneur

Owner PT Ristra Indolab : Sasya Tranggono

Sabtu, 29/09/2012

NERACA

Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kental dengan dunia bisnis dan semangat entrepreneur, tak membuat perempuan kelahiran Jakarta, 25 Desember 1963 menampik kecintaannya pada dunia seni lukis. Paduan warna pada kanvas seakan mengambarkan kebebasannya dalam berekspresi, “Life without liberty is like a body without spirit,” ungkapnya.

Dialah Sasya Tranggono, seorang artist, owner dari sebuah perusahaan kosmetik ternama, dan seorang social activist dengan segudang kegiatan berskala nasional maupun internasional. Salah satunya adalah sebagai pembicara pada Forum APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) di St. Petersburg, Russia pada 29 Juni 2012 lalu.

Diantara para pembicara seperti; Elizabeth Vazquez, President, CEO and Co-Founder, WEConnect International (USA), Natsuko Shiraki, CEO and Chief Designer HASUNA (Japan), Nana Hernandez Getashvili, President Nggalaxy (Russia), Yolanda Vega, CEO of Australian Women’s Chamber of Commerce and Industry (Australia), dan Soo-hai Jun, Chairwoman of Korean Women Entrepreneurs Association (Korea), Sasya hadir mewakili perempuan Indonesia, mengulas peranan perempuan dan dunia entrepreneur, khususnya di tanah air.

“Sebuah pengalaman terbaik yang pernah saya lakukan. Untuk menyampaikan pada dunia, bila perempuan Indonesia sudah berkembang pesat dengan berbagai bidang karir, termasuk membangun bisnis melalui semangat entrepreneur,” ujar Sasya.

Anak pertama pasangan Suharto Tranggono dan Retro Iswari Tranggono sang pendiri bisnis produsen kosmetik berlebel produk Ristra sejak tahun 1981 ini, menilai bila kiprah perempuan Indonesia pun tak kalah hebatnya di dunia seni.

Ia mencontohkan sejumlah perempuan hebat Indonesia dibidang seni lukis, seperti Lucia Hartini, Nunung WS, Ida Hajar, Hening Purnamawati, Umi Dachlan, atau Kartika Affandi, “Mereka sangat dihormati,” ujarnya.

Saat menuntaskan studi master di Rotterdam School of Management, Erasmus Universiteit, Belanda tahun 1990, Sasya mengaku mulai serius mempelajari seni melukis. Dan menggelar pameran tunggal pertamanya pada tahun 1999 di Cipta Merkurius Gallery, Jakarta, dengan teman, ”Focus ’99”.

Sejak itu, Sasya rutin menggelar pameran tunggal tiap tahun, bahkan hingga dua-tiga kali pameran per tahun yang digelar di dalam negeri dan luar negeri. Goresan cat air buah karya Sasya, dapat disaksikan dibeberapa galeri bergengsi mancanegara, seperti; Van Waning Gallery di Rotterdam, Belanda; Ayala Museum di Manila, Philipina; dan CoChin Gallery di Singapura.

Sasya mengatakan bila karyanya dapat dibagi dalam tiga fase. Fase pertama secara sederhana disebut fase wayang karena wayang golek dan berbagai kerajinan tradisional Indonesia, menjadi objek yang mengispirasi karyanya.

Menurut Sasya, di setiap lukisan ada cerita dan maknanya tersendiri, seperti lukisan yang membuatnya lolos menjadi finalis CP Open Biennale 2003 lalu. “Lukisan itu sebenarnya pesanan teman saya, dan saya menggambar kisah hidupnya yang memiliki banyak pacar dalam bentuk sosok wayang laki-laki dan beberapa wayang perempuan,” jelasnya.

Dan uniknya, setelah lukisan itu rampung dikerjakan, sang teman mengaku tak sanggup melihat kisah hidupnya terpampang dalam lukisan itu. Ia pun mengembalikan lukisan pada Sasya meski tetap membayarnya.

Orang tua tunggal yang memiliki seorang anak yang sangat ia cintai, Nicholas David Hilman, menjelaskan bila tahap kedua karyanya adalah fase bunga, dengan mengeksplorasi berbagai jenis objek bunga.

Dan fase terakhir, adalah kupu-kupu. Berbagai bentuk dan warna makhluk bersayap indah ia tuangkan dalam kanvas dan kertas, “Kupu-kupu melambangkan pembaruan budi yang terjadi dalam kehidupan manusia. Hidup seharusnya selalu berproses ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya,” ungkapnya.

Sasya yang sejak kecil diharapkan kelak akan menahkodai bisnis yang dibangun kedua orangtuanya, menjelaskan bila saat ini ia sedang berkonsentrasi mendampingi putranya, Nicholas yang akan melanjutkan perguruan tinggi.

“Saya hanya ingin konsentrasi dalam satu tahun saja, agar saya dapat berada disisi Nicholas saat ia membutuhkan,” ungkapnya bertekad hingga sang buah hati mampu menyesuaikan diri dilingkungan barunya di luar negeri.

Ia pun berharap, bila kehidupannya kelak akan berakhir dengan kebahagiaan, "Saya percaya bila Tuhan sudah mengulurkan tangan kasihNYA, maka tak ada alasan bagi kita untuk berpaling," ucap dia, seperti yang ia wejangkan pada putra tercinta saat menempuh pendidikan, merintis masa depan.